11. Meja Rapat Panjang
Meja rapat panjang dan dingin,
Kau duduk di seberang, aku di sini.
Kita bicara lewat grafik dan angka,
Tapi ada bahasa yang tak terdengar.
Saat aku menyanggah pendapat,
Kau menatapku dengan tenang.
Bukan marah, bukan juga setuju,
Hanya seperti sedang menimbang.
Rapat selesai, semua berdiri,
Kau melipat berkas dan pergi.
Tatapan itu masih di meja,
Seperti kursi yang belum dirapikan.
12. Kertas Proposal
Kertas proposal berserakan di meja,
Kau menyusun halaman, aku mengecek angka.
Kita bekerja seperti tim yang solid,
Tapi hati tak ikut disiplin.
Kau menunjuk satu kesalahan,
Aku memperbaikinya sambil menunduk.
Kau bilang “jangan terlalu keras pada diri”,
Aku mendongak dan mata lembut.
Proposal itu akhirnya selesai,
Kita beri tanda tangan.
Dan tatapanmu saat menyerahkan berkas,
Lebih lama dari yang perlu.
13. Jendela Server
Jendela kecil di ruang server,
Menampilkan lorong yang sunyi.
Kau berdiri di sana menunggu,
Aku di dalam menyelesaikan tugas.
Sesekali kau menoleh ke kaca,
Dan mata bertemu mataku.
Kau tersenyum lalu menoleh lagi,
Aku pura-pura fokus pada layar.
Selesai, aku keluar,
Kau bilang “lama ya.”
Aku bilang “maaf”, dan kau menatapku,
Seperti tak keberatan menunggu.
14. Lift Macet
Lift macet membuat kita terjebak,
Tiga menit yang terasa panjang.
Kau bilang “sabar ya”, aku mengangguk,
Padahal sabar bukan masalah utama.
Di ruang sempit, mata menatap pintu,
Lalu sebentar ke arahku.
Aku menatap lantai,
Takut mataku terlalu jujur.
Pintu terbuka, kita keluar,
Seolah tak terjadi apa-apa.
Tapi tiga menit itu cukup,
Untuk mengingat tatapanmu.
15. Catatan Kecil
Catatan kecil di meja kerjamu,
Aku tak sengaja membacanya.
Ada tulisan “jangan lupa istirahat”,
Tapi bukan untukku.
Kau datang dan menutup buku,
Sedikit malu lalu tersenyum.
Aku bilang “catatan bagus”,
Kau menatapku, entah marah atau tidak.
Kita tertawa kecil,
Lalu kembali bekerja.
Tapi tatapanmu tadi,
Membuat catatan itu terasa penting.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!