6. Senja Kantin
Senja kantin, lampu mulai nyala,
Kau duduk sendiri dengan buku.
Aku ingin menyapa, tapi ragu,
Takut mengganggu ketenanganmu.
Kau mendongak saat aku lewat,
Dan menatapku sebentar.
Aku tersenyum, kau membalas,
Lalu kita sama-sama menoleh.
Aku duduk di meja lain,
Membuka laptop tanpa tujuan.
Dan senja itu menyimpan,
Tatapan yang tak sempat bicara.
7. Papan Pengumuman
Papan pengumuman di dekat lift,
Kau membaca jadwal shift.
Aku berdiri di belakangmu,
Menunggu giliran melihat.
Kau menoleh dan bilang “silakan”,
Aku bilang “tidak apa-apa.”
Kau tersenyum dan melangkah,
Tapi mata masih di arahku.
Papan itu hanya jadwal,
Tapi sejak hari itu,
Aku lebih sering berhenti di sana,
Berharap kau juga.
8. Lembur Pertama
Lembur pertama setelah sekian lama,
Kantor sunyi, lampu tinggal separuh.
Kau masih di meja, aku di kursi,
Ada jeda yang membuat degup nyaring.
Kau bertanya “mau pulang bareng?”,
Aku bilang “boleh, sebentar lagi.”
Kau menatapku sambil tersenyum,
Dan aku lupa apa yang harus kukerjakan.
Kita pulang lewat lorong yang sama,
Tanpa banyak bicara.
Tapi tatapanmu di lift tadi,
Cukup untuk menemani malam.
9. Foto Kegiatan
Foto kegiatan di dinding kantor,
Kita berdiri di barisan yang sama.
Aku mencari wajahku,
Tapi mataku berhenti di wajahmu.
Kau lewat di belakangku,
Dan bilang “foto lama ya.”
Aku menoleh, kau menatap foto,
Lalu menatapku sebentar.
Foto itu tak pernah berubah,
Tapi tatapanmu hari ini,
Membuat gambar lama itu,
Terasa baru.
10. Cangkir Tanpa Gula
Cangkir tanpa gula di pantry,
Aku hafal itu pesananmu.
Tanpa sadar aku membuatnya,
Lalu sadar kau belum tentu datang.
Kau muncul dari lorong,
Melihat cangkir itu dan tersenyum.
Kau bilang “kau ingat ya?”,
Aku bilang “kebetulan.”
Kau menatapku sedikit lebih lama,
Lalu menyeruput kopi.
Aku sibuk dengan cangkir sendiri,
Tapi telingaku memanas.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!