16. Suara Printer
Suara printer memecah keheningan,
Kau menunggu kertas keluar.
Aku lewat untuk mengambil berkas,
Dan kau menatapku sebentar.
Kau bilang “antre ya”,
Aku bilang “santai saja.”
Kau tersenyum dan memberi jalan,
Tapi mata masih di aku.
Printer selesai, kau mengambil kertas,
Aku mengambil berkas.
Kita berpisah di lorong,
Membawa tatapan yang tak tercetak.
17. Jam Dinding
Jam dinding kantor berdetak pelan,
Menandai rapat yang terlalu panjang.
Aku melihatmu dari sudut mata,
Menghitung waktu yang tak mau cepat.
Kau menatap jam sekali,
Lalu menatapku tanpa sengaja.
Aku cepat menoleh ke catatan,
Tapi telingaku tetap di sana.
Rapat selesai, jam menunjukkan lima,
Semua bergegas pulang.
Tatapanmu tadi,
Masih berdetak di dadaku.
18. Kunci Mobil
Kunci mobil di tanganmu berputar,
Kau hendak pulang, aku hendak pergi.
Kita berdiri di parkiran yang sama,
Seperti dua arah yang tak bertemu.
Kau menatapku dan bilang “hati-hati”,
Aku bilang “kau juga.”
Kata itu biasa,
Tapi mata membuatnya lain.
Kau pergi lebih dulu,
Aku menyalakan kendaraan.
Dan lampu merah nanti,
Tak bisa menghapus tatapan itu.
19. Absen Pagi
Absen pagi jadi hal paling kutunggu,
Aku lihat namamu sudah ada atau belum.
Saat kau datang dan lewat,
Kau menatapku satu kali.
Aku pura-pura sibuk,
Padahal meja masih rapi.
Kau tersenyum kecil,
Lalu berjalan ke kursimu.
Jika pagi hanya soal absen,
Mengapa aku datang lebih awal?
Mungkin karena tatapanmu,
Lebih tepat dari jam kantor.
20. Grup Kantor
Grup kantor berisi banyak nama,
Namamu ada di urutan tengah.
Aku membaca pesanmu pelan,
Padahal isinya hanya jadwal.
Besok kau lewat di depan mejaku,
Dan menatapku seperti biasa.
Aku tak tahu apakah kau tahu,
Aku membaca pesanmu berulang.
Grup itu tetap ramai,
Tapi hanya namamu,
Yang membuat notifikasi,
Terasa seperti sapaan.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!