21. Meja Sudut
Meja sudut dekat jendela,
Kau sering duduk sendiri.
Aku lewat untuk mengisi air,
Dan kau menatapku sebentar.
Kau bertanya “sibuk?”,
Aku bilang “biasa saja.”
Kau mengangguk dan kembali menulis,
Tapi mata masih di arahku.
Aku berjalan kembali ke meja,
Membawa air dan satu tanya.
Apakah tatapan itu hanya basa-basi,
Atau ada yang ingin kau simpan?
22. Lampu Hijau
Lampu hijau di ruang server,
Berkedip pelan seperti isyarat.
Kau memeriksa kabel, aku memegang senter,
Kita bekerja tanpa banyak kata.
Kau menatapku saat aku salah menekan tombol,
Lalu tersenyum tanpa mengejek.
Aku mengulanginya dengan benar,
Dan kau mengangguk pelan.
Selesai, kita keluar bersama,
Meninggalkan lampu yang tetap hijau.
Tatapanmu tadi,
Seperti isyarat yang tak ingin kuterjemahkan.
23. Payung Pinjaman
Payung pinjaman dari kantor,
Kau bawa saat hujan turun.
Aku melihatmu dari lobi,
Dan kau menatapku sebentar.
Kau bertanya “mau ikut?”,
Aku bilang “tidak, terima kasih.”
Kau mengangguk dan melangkah,
Tapi mata masih bertanya.
Hujan reda, kau kembali,
Mengembalikan payung ke rak.
Kau menatapku lagi,
Dan aku pura-pura sibuk.
24. Rapat Malam
Rapat malam membuat mata lelah,
Kau duduk di seberang, mencatat.
Aku menyampaikan laporan terakhir,
Dan kau menatapku sampai selesai.
Kau tidak bicara banyak,
Hanya satu pertanyaan singkat.
Tapi tatapanmu saat aku menjawab,
Membuat kalimatku lebih hati-hati.
Rapat selesai, lampu dimatikan,
Kita keluar ke lorong yang sunyi.
Kau bilang “selamat malam”,
Dan tatapan itu jadi penutup.
25. Pulang Bersama
Pulang bersama setelah rapat selesai,
Kita berjalan di lorong yang sama.
Tidak ada janji, tidak ada rencana,
Hanya langkah yang tak ingin cepat.
Kau menatapku di depan lift,
Lalu bilang “besok bertemu lagi.”
Aku bilang “semoga”,
Dan mata tersenyum.
Pintu lift terbuka,
Kita masuk dan berdiri berjauhan.
Tapi tatapanmu tadi,
Membuat pulang terasa belum selesai.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!