Updating your session…

puisi sahabat

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 3

2 min read•Published Oct 19, 2026

11. JAM DINDING DI RUANG SEPI


Jam dinding terus menghitung waktu,

Sementara aku duduk membisu,

Mengingat hari yang berlalu,

Menyimpan cerita di dalam kalbu.


Jarumnya berputar tanpa lelah,

Tak peduli hati sedang gelisah,

Mengajarkan hidup untuk melangkah,

Meski kenyataan terkadang membuat resah.


Ada kesempatan yang pernah terlewat,

Ada keinginan yang belum sempat,

Namun waktu tak meminta kita meratap,

Ia mengajak bangkit sebelum terlambat.


Kini kupandangi jarum yang bergerak,

Menyadari hidup tak boleh terjebak,

Selama esok masih membuka jarak,

Akan kutata harapan yang sempat retak.


12. SURAT UNTUK DIRIKU SENDIRI


Wahai diriku yang sering terluka,

Berapa lama kau menyimpan kecewa?

Berapa banyak senyum yang kau cipta,

Saat hatimu meminta jeda?


Tak mengapa jika kau belum berhasil,

Tak mengapa jika jalan terasa ganjil,

Kau tak harus selalu terlihat terampil,

Untuk membuktikan hidupmu bernilai.


Maafkan dirimu atas kesalahan,

Yang dahulu lahir dari ketidaktahuan,

Jangan jadikan masa lalu sebagai hukuman,

Sebab kau berhak memperoleh kesempatan.


Teruslah tumbuh meski perlahan,

Rawatlah mimpi dan juga harapan,

Suatu saat kau akan memahami perjalanan,

Bahwa mencintai diri pun sebuah perjuangan.


13. LENTERA DI TENGAH KABUT


Kabut turun menutupi jalan,

Membuat samar arah tujuan,

Kugenggam lentera penuh harapan,

Mencari celah di antara keraguan.


Cahayanya kecil, nyaris tak terlihat,

Namun cukup untuk membuatku kuat,

Aku tak perlu mengetahui seluruh tempat,

Untuk memulai langkah yang tepat.


Terkadang hidup menyimpan rahasia,

Menyembunyikan jawaban di balik peristiwa,

Kita hanya perlu menjaga percaya,

Sambil berusaha sekuat tenaga.


Ketika kabut perlahan menghilang,

Dan matahari kembali datang,

Aku tersenyum memandang jalan panjang,

Sebab keberanian telah menjadi penerang.


14. SAJAK UNTUK AYAH


Ayah berjalan sebelum mentari,

Membawa tanggung jawab setiap hari,

Tak banyak keluhan terdengar dari bibir,

Meski lelah sering datang menghampiri.


Telapak tanganmu menyimpan cerita,

Tentang kerja keras demi keluarga,

Kau ajarkan arti sederhana,

Bahwa kasih tak selalu berbentuk kata.


Dahulu kupikir kau tak pernah rapuh,

Selalu berdiri ketika dunia runtuh,

Kini kumengerti di balik tubuh yang teguh,

Ada perjuangan yang tak pernah mengeluh.


Ayah, semoga waktu memberiku kesempatan,

Untuk membalas sebagian pengorbanan,

Membuatmu tersenyum dalam ketenangan,

Dan menikmati hasil dari setiap perjuangan.


15. KEBUN MIMPI


Kutabur benih di tanah keyakinan,

Kusiram setiap pagi dengan ketekunan,

Kujaga harapan dari keputusasaan,

Menunggu waktu memberi jawaban.


Tak semua benih tumbuh serentak,

Ada yang lambat menembus tanah retak,

Ada yang harus bertahan dari cuaca buruk,

Sebelum daunnya mulai tampak.


Kebun ini mengajarkanku kesetiaan,

Bahwa hasil membutuhkan pemeliharaan,

Mimpi tak tumbuh hanya dengan keinginan,

Melainkan usaha dan kesabaran.


Jika kelak bunganya bermekaran,

Akan kubagikan keindahan,

Sebab keberhasilan terasa lebih menawan,

Ketika membawa manfaat bagi kehidupan.

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!