Updating your session…

puisi sahabat

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 4

2 min read•Published Oct 19, 2026

16. PERAHU DI LAUTAN HIDUP


Kulepaskan perahu menuju lautan,

Membawa bekal berupa keyakinan,

Angin bertiup menguji ketahanan,

Ombak mengajarkan arti keseimbangan.


Kadang layar kehilangan arah,

Kadang badai membuatku gelisah,

Namun tangan tak boleh menyerah,

Selama tujuan masih ingin kuraih dengan tabah.


Laut tak selalu ramah kepada pelaut,

Ada hari ketika langit begitu kalut,

Tetapi keberanian bukan berarti tak takut,

Melainkan tetap bergerak saat hati ciut.


Di kejauhan tampak garis daratan,

Menjadi tanda bagi sebuah perjalanan,

Aku pulang membawa banyak pelajaran,

Bahwa hidup adalah seni mengarungi tantangan.


17. BUNGA DI BALIK PAGAR


Di balik pagar tumbuh sekuntum bunga,

Tak banyak orang memperhatikan warnanya,

Ia mekar tanpa meminta pujian siapa-siapa,

Memberi keindahan dengan caranya.


Tak perlu taman yang luas terbentang,

Untuk menunjukkan pesona yang gemilang,

Bahkan di tempat yang jarang dipandang,

Keindahan mampu tumbuh dan berkembang.


Begitu pula manusia menjalani hidup,

Tak semua memperoleh panggung untuk disebut,

Namun kebaikan yang terus dirajut,

Dapat meninggalkan kesan yang lembut.


Wahai bunga di balik pagar,

Teruslah mekar meski dunia terasa hambar,

Nilaimu bukan pada siapa yang mendengar,

Melainkan pada ketulusan yang kau sebarkan.


18. KETIKA SAHABAT BERUBAH


Dahulu kita berbagi cerita,

Menertawakan hal kecil bersama,

Kini percakapan terasa berbeda,

Seakan ada jarak di antara kita.


Aku tak ingin menuduh keadaan,

Atau memaksamu mengulang kebiasaan,

Mungkin hidup membawa perubahan,

Yang harus kita hadapi dengan kedewasaan.


Jika ada salah yang belum terucapkan,

Mari kita buka pintu pembicaraan,

Sebab hubungan membutuhkan kejujuran,

Bukan prasangka yang tumbuh dalam diam.


Namun jika jalan kita harus berpisah,

Kulepas kenangan tanpa menyimpan amarah,

Terima kasih pernah menjadi rumah,

Saat dunia terasa begitu melelahkan.


19. LANGIT SETELAH BADAI


Awan hitam memenuhi angkasa,

Hujan mengguyur halaman dan kota,

Aku berteduh sambil menjaga asa,

Menunggu reda yang belum tampak nyata.


Petir menyambar membelah sunyi,

Angin menggoyangkan dahan yang berdiri,

Namun akar tetap memeluk bumi,

Mengajarkan keteguhan dalam menghadapi hari.


Perlahan hujan kehilangan suara,

Cahaya menyelinap di antara awan tua,

Langit kembali membentangkan warna,

Menyapa bumi dengan wajah berbeda.


Kini kupahami arti bertahan,

Badai bukan akhir dari perjalanan,

Sesudah kesulitan datang kesempatan,

Untuk menyaksikan indahnya ketenangan.


20. KURSI KOSONG DI TERAS


Sebuah kursi kosong di teras rumah,

Menjadi saksi percakapan yang pernah ramah,

Kini hanya angin datang menyapa,

Membawa kenangan tanpa suara.


Dahulu kita duduk menikmati senja,

Membahas kehidupan dan segala rencana,

Tak menyangka waktu mengubah suasana,

Meninggalkan tempat yang penuh cerita.


Aku tak memaksa hari kembali,

Sebab setiap waktu punya jalannya sendiri,

Namun kenangan akan tetap kusimpan rapi,

Sebagai bagian dari perjalanan hati.


Kursi itu tetap berada di

sana,

Meski tak lagi dipenuhi tawa,

Ia mengajarkan satu makna,

Bahwa kehadiran sederhana dapat berharga.

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!