21. KETULUSAN TANPA PENONTON
Kulakukan kebaikan tanpa panggung,
Tanpa berharap namaku disanjung,
Sebab hati tak harus selalu beruntung,
Untuk memilih menjadi penolong.
Ada tangan yang diam-diam memberi,
Ada hati yang rela berbagi,
Tak semua kebaikan perlu diketahui,
Agar manfaatnya sampai kepada yang membutuhkan.
Dunia mungkin tak mencatat namaku,
Tak menyimpan kisah tentang langkahku,
Namun aku tahu alasan di dalam kalbu,
Bahwa menolong adalah pilihan hidupku.
Biarlah kebaikan berjalan sederhana,
Tak perlu dihiasi kata-kata,
Selama seseorang merasa terbantu karenanya,
Aku telah menemukan bahagia yang bermakna.
22. JENDELA KECIL DI KAMARKU
Dari jendela kecil kupandang dunia,
Awan bergerak menyusuri angkasa,
Burung terbang membawa suara,
Membangunkan harapan yang lama tertunda.
Di luar sana kehidupan berlari,
Manusia mengejar tujuan setiap hari,
Aku pun punya mimpi sendiri,
Yang sedang kurawat dalam sunyi.
Jendela ini mengajarkan pandangan,
Bahwa dunia lebih luas dari kekhawatiran,
Tak selamanya kita harus berdiam,
Ada kesempatan menunggu di luar ruangan.
Kelak kubuka pintu sepenuhnya,
Melangkah membawa keberanian di dada,
Bukan karena semua takut telah tiada,
Melainkan aku siap mencoba.
23. POHON TUA DI TEPI JALAN
Pohon tua berdiri di tepi jalan,
Menyaksikan kendaraan datang dan berjalan,
Dahannya menyimpan musim yang bergantian,
Akarnya menjaga tanah dari perubahan.
Tak lagi muda seperti dahulu,
Namun keteduhannya tetap terasa syahdu,
Ia tak iri pada tunas yang baru,
Sebab setiap usia memiliki waktu.
Kulihat anak-anak bermain di bawahnya,
Para pejalan singgah melepas lelahnya,
Tanpa suara ia memberi manfaat,
Menjadi tempat berteduh yang hangat.
Wahai pohon tua yang bersahaja,
Kau mengajarkan arti berguna,
Usia bukan alasan kehilangan makna,
Selama kebaikan masih dapat diberikan kepada sesama.
24. MAAF YANG TERTAHAN
Ada kata maaf di ujung lidah,
Namun keberanian belum juga merekah,
Ego berdiri seperti dinding yang megah,
Membuat dua hati semakin terpisah.
Aku mengingat perkataan yang melukai,
Juga sikapku yang tak sempat kupahami,
Ternyata marah tak menyelesaikan semua,
Justru membuat jarak semakin terasa.
Kini kususun kalimat sederhana,
Bukan untuk menghapus masa yang telah ada,
Melainkan mengakui salah dengan terbuka,
Agar hati memiliki ruang untuk lega.
Jika maafku belum dapat diterima,
Aku tak akan memaksa jawabannya,
Biarlah waktu mengurai luka,
Sambil kubuktikan perubahan melalui tindakan nyata.
25. PASAR PAGI KEHIDUPAN
Pagi menyambut pasar yang ramai,
Pedagang datang sebelum matahari,
Ada yang menjual sayur dan cabai,
Ada yang berharap rezeki menghampiri.
Di antara suara tawar-menawar,
Kulihat perjuangan yang terus berputar,
Tangan bekerja tanpa banyak bicara,
Demi keluarga yang menunggu di rumah.
Tak semua pahlawan memakai seragam,
Sebagian berjuang di lorong yang padat dan kelam,
Menyimpan harapan dalam langkah yang diam,
Menjalani hari dengan tekad yang dalam.
Pasar pagi mengajarkan kepadaku,
Bahwa kerja keras memiliki banyak wajah,
Setiap usaha yang dijalankan dengan jujur,
Layak dihormati tanpa memandang status.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!