Updating your session…

KETIKA PILIHAN CINTA MENULIS DESTINASI

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 2

9 min read•Published Oct 12, 2026

BAB 2: DUA JALUR YANG BERBENTANG

Hari berikutnya pukul 08.00 pagi – jauh sebelum jadwal latihan aespa biasanya dimulai. Aku sudah berada di studio latihan yang biasa kita gunakan, berlatih gerakan tari tradisional yang diajarkan nenekku. Setiap langkah, setiap putaran, setiap ekspresi wajah ku penuh dengan emosi yang baru saja aku temukan dari surat ibuku. Aku merasa seolah-olah ibuku sedang berdiri di belakangku, membimbing setiap gerakan ku dengan cinta.

"Sekarang kamu sudah bisa melakukan gerakan salpuri dengan sangat indah ya, unnie."

Suara Winter yang lembut membuatku berhenti seketika. Aku melihat dia berdiri di pintu studio bersama Giselle dan Ningning, ketiganya sudah mengenakan baju latihan dan tampaknya sudah datang beberapa saat yang lalu tapi tidak ingin menggangguku.

"Aku tidak menyadari kalau kalian sudah datang," ucapku dengan sedikit malu, menyeka keringat yang mengalir di dahiku.

Giselle mendekat dengan senyum hangat dan memberikan aku sebuah gelas air putih. "Kita sudah melihatmu berlatih dari luar. Kamu tampak sangat berbeda hari ini – seolah-olah ada sesuatu yang lebih mendalam yang kamu sampaikan melalui gerakan mu."

Aku mengangguk dan memutuskan untuk memberitahu mereka tentang surat dari ibuku dan tawaran dari balai tari nasional. Aku membawa mereka ke sudut studio yang lebih tenang, duduk bersila di atas lantai kayu yang sudah kita injak ribuan kali selama bertahun-tahun. Ruangan itu penuh dengan kenangan – dari hari-hari awal kita sebagai trainee yang berlatih hingga larut malam, hingga saat kita meraih kesuksesan pertama bersama.

Setelah aku selesai bercerita dan menunjukkan surat serta proposal padanya, ada jeda singkat di antara kita. Ningning yang biasanya selalu ceria dan penuh energi kini melihatku dengan wajah penuh pemahaman dan empati.

"Karina-unnie, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu sekarang," ucap Giselle dengan suara lembut yang penuh dengan perhatian. "Aku tahu betul betapa pentingnya aespa bagimu – kita semua sudah melalui begitu banyak hal bersama, dari kesusahan hingga kebahagiaan. Tapi melihat surat dari ibumu… itu adalah pesan yang sangat mendalam dari dia untukmu. Seolah-olah dia sedang berbicara langsung padamu dari masa lalu."

Winter menyandarkan kepalanya di bahuku, dan aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang memberikan kekuatan padaku. "Unnie, kamu selalu mengatakan bahwa kita harus mengikuti hati kita dalam apa yang kita lakukan. Kamu selalu mengajarkan kita untuk tidak takut mengejar impian kita dengan cinta dan dedikasi. Ibumu meninggalkan pesan itu untukmu karena dia tahu bahwa cinta pada tari itu ada dalam dirimu. Kita tidak akan pernah marah atau merasa tersisakan jika kamu memilih untuk mengikuti jalur itu."

Ningning mengangguk dengan kuat, matanya sedikit kemerahan karena emosi yang terpendam. "Betul sekali! Kita aespa bukan hanya sekadar grup musik – kita adalah keluarga. Keluarga tidak pernah memaksa seseorang untuk memilih antara cinta pada mereka dan cinta pada sesuatu yang penting bagi diri mereka sendiri. Kita bisa berbicara dengan manajemen untuk menunda comeback kita sedikit atau menyusun ulang jadwalnya. Kita bisa melakukan apa saja selama kita saling mendukung satu sama lain! Kita aespa bisa lakukan itu kan, unnie?"

Aku merasa air mata menetes bebas di pipiku mendengar kata-kata mereka. Aku memeluk ketiganya dengan erat, rasa syukur yang luar biasa mengisi hatiku karena memiliki teman-teman seperti mereka. "Kalian benar-benar luar biasa. Aku mencintaimu semua lebih dari apa pun di dunia ini. Tapi aku juga tidak ingin mengecewakan penggemar yang telah mempercayakan hati mereka padaku dan grup kita. Aku tidak ingin membuat pilihan yang akan merusak apa yang kita bangun bersama selama bertahun-tahun."

Setelah diskusi panjang, kita memutuskan untuk menghadapkan manajemen perusahaan bersama-sama. Jam 10.00 pagi, kita berada di ruang rapat kantor perusahaan, menghadap manajer senior kita, Park Jong-ho, dan beberapa anggota tim manajemen lainnya. Ruangan itu terasa dingin dan resmi, dengan meja rapat besar yang membuat kita merasa kecil.

"Kami mengerti bahwa ini adalah kesempatan penting bagi Karina, baik dari segi pribadi maupun profesional," kata Manajer Park dengan suara yang serius dan penuh pertimbangan setelah aku menjelaskan situasiku. "Kami menghargai hubungan keluarga dan warisan budaya yang kamu miliki, Karina. Namun, aespa sudah memiliki komitmen yang kuat dengan penggemar di seluruh dunia dan juga dengan mitra bisnis kita yang telah mendukung grup ini sejak awal."

Dia mengambil selembar kertas yang berisi jadwal rinci dan menempatkannya di atas meja. "Jika kamu mengambil cuti selama 8 bulan untuk bergabung dengan unit tari nasional, ini bisa berdampak besar pada posisi grup di industri musik yang sangat kompetitif ini. Kami sudah merencanakan comeback musim panas ini jauh-jauh hari, dan banyak penggemar yang sudah menantinya. Bahkan mungkin akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk bersaing dengan grup lain yang sedang naik daun dan merilis materi baru secara konsisten."

Salah satu anggota tim manajemen lainnya menambahkan, "Selain itu, jika kamu keluar selama waktu yang lama, akan ada risiko bahwa kamu akan kehilangan kemampuanmu dalam tari kontemporer yang dibutuhkan untuk pertunjukan aespa. Industri ini berkembang sangat cepat, dan kita tidak bisa tinggal diam bahkan untuk sementara waktu."

Aku merasa seperti sedang berada di antara batu dan tempat yang keras. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka masuk ke dalam hati ku dengan berat. Pada satu sisi, aku tidak bisa melepaskan kesempatan emas ini untuk mewujudkan impian ibuku yang sudah lama tertidur dan membawa budaya Korea ke seluruh dunia melalui tari. Pada sisi lain, aku tidak bisa membayangkan diri ku meninggalkan teman-teman aespa dan mengorbankan impian kita bersama yang sudah kita perjuangkan dengan sangat keras.

Setelah pertemuan selesai dengan tidak adanya keputusan yang jelas, aku keluar dari kantor perusahaan dengan hati yang berat. Aku memutuskan untuk pergi ke balai tari nasional untuk melihat langsung bagaimana suasana dan lingkungan tempat aku mungkin akan bekerja jika aku menerima tawaran itu. Mungkin dengan melihatnya secara langsung, aku akan bisa membuat keputusan yang lebih jelas.

Di lokasi balai tari nasional yang terletak di daerah yang tenang dan penuh dengan pohon besar, aku melihat bahwa hari itu adalah hari audisi terbuka untuk anggota tambahan unit tari khusus "Hanbit". Banyak orang muda berkumpul di luar gedung, beberapa mengenakan kostum tari tradisional yang indah, yang lain hanya mengenakan baju olahraga tapi membawa perlengkapan tari dengan hati-hati.

Aku memutuskan untuk masuk dan menyaksikan proses audisi dari belakang ruangan, tidak ingin mengganggu atau menarik perhatian siapa pun. Salah satu peserta yang segera menarik perhatianku adalah seorang gadis berusia sekitar 19 tahun yang mengenakan baju tari tradisional berwarna biru tua yang terlihat agak usang tapi tetap terawat dengan baik. Baju itu tampaknya sudah dipakai oleh beberapa generasi, dengan jahitan tambahan di beberapa bagian yang menunjukkan bahwa ia telah disesuaikan dari waktu ke waktu.

Ketika gilirannya tiba, dia masuk ke dalam ruang latihan yang besar dan mulai menari tanpa musik. Gerakan tarinya tidak sehalus atau sepresisi peserta lain yang berasal dari akademi tari bergengsi – beberapa langkahnya sedikit goyah, dan beberapa putaran tidak sempurna. Namun, setiap gerakan yang dia lakukan penuh dengan emosi yang mendalam dan keaslian yang jarang aku temui. Seolah-olah dia sedang bercerita melalui gerakan tubuhnya – sebuah cerita tentang cinta, kehilangan, dan kebanggaan yang mendalam.

Setelah audisinya selesai, aku melihat dia keluar dari ruangan dengan wajah yang penuh dengan harapan dan sedikit kekhawatiran. Aku mendekatinya di ruang tunggu luar yang penuh dengan kursi kayu dan tanaman hijau.

"Hai, nama kamu siapa?" tanyaku dengan senyum hangat saat dia melihatku dengan ekspresi terkejut. "Gerakan tarimu sangat indah – aku bisa merasakan emosi yang kamu sampaikan melalui setiap gerakanmu. Seolah-olah kamu sedang berbicara dengan dunia melalui tari mu."

Gadis itu segera berdiri dan membungkuk dengan sopan, matanya masih penuh dengan keterkejutan. "Ah… Kakak Karina dari aespa ya? Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Saya nama saya Choi Soo-jin. Terima kasih banyak atas pujiannya. Saya sangat senang mendengarnya."

"Aku melihat kamu mengenakan kostum yang cukup tua tapi sangat indah," ucapku sambil menunjuk pada baju yang dikenakannya dengan rasa hormat.

"Oh ini… ini adalah kostum yang pernah dikenakan ibuku ketika dia masih menari dulu," jawabnya dengan suara yang penuh dengan cinta dan bangga. "Ibuku belajar tari dari neneknya, dan sekarang dia tidak bisa menari lagi karena sakit punggung yang kronis. Saya ingin membawa kebanggaan keluarga kami melalui tari ini, menunjukkan bahwa seni yang dia wariskan padaku masih hidup dan berkembang."

Dia menghela napas perlahan sebelum melanjutkan, "Saya tahu saya tidak sehebat peserta lain yang berasal dari akademi besar dengan fasilitas yang lengkap. Di desa kecil kami di provinsi Jeolla, tidak banyak tempat untuk belajar tari tradisional dengan benar. Saya hanya bisa belajar dari ayah saya yang bekerja sebagai instruktur tari di sekolah desa dan dari video-video yang saya temukan di internet."

Ceritanya membuatku teringat pada diri sendiri ketika masih kecil – belajar tari dari nenekku di halaman belakang rumah kita, tanpa fasilitas apa pun selain tanah dan sinar matahari. Aku juga teringat pada ibuku yang harus membuat pilihan sulit antara impian dan keluarga.

"Perlu kamu tahu, Soo-jin-ya," kataku padanya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. "Keahlian teknis bisa dipelajari dan ditingkatkan dengan latihan yang terus-menerus. Tapi kemampuan untuk menyampaikan emosi melalui tari – untuk membuat orang lain merasakan apa yang kamu rasakan – itu adalah sesuatu yang datang dari hati. Dan itu adalah kekuatan terbesar yang kamu miliki. Jangan pernah meragukan diri sendiri karena kamu tidak berasal dari akademi besar. Cinta yang kamu miliki pada tari sudah membuatmu layak untuk berada di sini."

Aku kemudian memberikan beberapa tips kecil tentang teknik tari yang bisa dia gunakan untuk meningkatkan kelancaran gerakan nya, tanpa mengganggu keaslian dan emosi yang menjadi ciri khasnya. Soo-jin mendengarkan dengan sangat saksama, mencatat setiap kata yang kukatakan dan bahkan mencoba beberapa gerakan kecil di tempatnya untuk memastikan dia memahaminya dengan benar.

"Saya sangat berterima kasih atas bimbingannya, Kakak Karina," ucapnya dengan mata yang bersinar penuh dengan harapan. "Sekarang saya merasa lebih percaya diri untuk menghadapi tahap audisi berikutnya. Semoga suatu hari nanti saya bisa bekerja sama denganmu dan belajar lebih banyak dari kakak."

Saat aku meninggalkan balai tari nasional, pikiranku penuh dengan cerita Soo-jin dan surat ibuku. Aku mulai menyadari bahwa pilihan yang kuhadapi bukan hanya tentang memilih antara aespa dan unit tari – itu tentang bagaimana aku bisa membawa kedua cinta itu bersama-sama, menemukan cara untuk menyebarkan cinta pada budaya Korea melalui platform yang sudah kumiliki dengan aespa, sambil juga mewujudkan impian ibuku.

Di jalan pulang, telepon ku berbunyi lagi. Ini adalah pesan dari Profesor Lee Dong-wook:

"Karina, saya mengerti bahwa kamu sedang menghadapi pilihan yang sulit. Jika kamu bersedia bertemu denganku lagi, saya punya ide yang mungkin bisa menjadi solusi untuk semua pihak. Kita bisa menemukan cara untuk menggabungkan bakat mu dalam musik pop dengan kecintaan mu pada tari tradisional. Cinta tidak pernah harus membuat kita memilih – cinta selalu menemukan jalan."

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!