Updating your session…

KETIKA PILIHAN CINTA MENULIS DESTINASI

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 3

6 min read•Published Oct 12, 2026

BAB 3: MENEMUKAN JALAN BARU

Pukul 14.00 siang harinya, aku berada di ruang kerja Profesor Lee Dong-wook di balai tari nasional. Ruangan itu penuh dengan buku-buku tentang sejarah tari Korea, foto-foto pertunjukan dari berbagai era, dan patung-patung kecil yang menggambarkan gerakan tari tradisional. Di atas meja besarnya terletak beberapa sketsa koreografi dan proposal yang tampaknya baru saja diselesaikan.

"Selamat datang, Karina," ucap Profesor Lee dengan senyum hangat saat aku masuk. "Saya tahu bahwa kamu sedang dalam kesulitan membuat keputusan, jadi saya ingin mengajukan ide yang mungkin bisa menjadi jawaban atas semua pertanyaan mu."

Dia menarik sebuah folder tebal dan menempatkannya di depan ku. "Kami telah mempertimbangkan situasimu dengan sangat cermat. Alih-alih kamu harus memilih antara aespa dan unit tari 'Hanbit', mengapa tidak kita membuat kolaborasi khusus yang menggabungkan kedua dunia itu? Kami menyebutnya proyek 'Harmoni: Nada dan Gerakan' – sebuah inisiatif yang akan menggabungkan musik pop modern dengan elemen tari tradisional Korea dalam satu paket yang utuh."

Aku melihat dia dengan mata penuh rasa ingin tahu saat dia menjelaskan detail proyek tersebut.

"Proyek ini akan terdiri dari tiga bagian utama. Pertama, sebuah album mini yang akan berisi lagu-lagu yang menggabungkan alat musik tradisional Korea seperti gayageum, ajaeng, dan janggu dengan aransemen pop elektronik yang khas aespa. Kedua, sebuah seri konser khusus yang akan menampilkan pertunjukan tari tradisional yang dimodernisasi, diiringi dengan musik dari album tersebut – kamu akan memimpin pertunjukan tari sambil tetap tampil sebagai anggota aespa. Dan ketiga, sebuah program pendidikan yang akan mengajarkan tari tradisional kepada anak-anak muda melalui lokakarya tatap muka dan konten daring."

Hatiku terasa penuh dengan kegembiraan mendengar ide yang brilian itu. "Ini benar-benar luar biasa, Profesor Lee! Tapi bisakah kita menyelaraskan jadwal ini dengan persiapan comeback aespa? Dan apakah manajemen perusahaan akan menyetujuinya?"

"Saya sudah melakukan kontak awal dengan manajemen mu," jawabnya dengan senyum percaya diri. "Mereka menunjukkan minat yang besar karena proyek ini tidak hanya akan meningkatkan citra aespa sebagai grup yang peduli dengan budaya Korea, tapi juga akan membuka pasar baru bagi musik kamu di kalangan pecinta seni tradisional. Kita bisa menyusun jadwal sedemikian rupa sehingga kamu bisa berpartisipasi dalam kedua proyek tanpa harus mengorbankan salah satunya."

Aku segera menghubungi teman-teman aespa dan mengundang mereka untuk bertemu di studio latihan kita. Saat aku menjelaskan ide kolaborasi tersebut, wajah mereka yang tadinya penuh dengan kekhawatiran berubah menjadi penuh semangat.

"Ini adalah ide yang paling bagus yang pernah aku dengar!" teriak Ningning dengan antusias. "Kita bisa tetap melakukan comeback seperti yang direncanakan, tapi juga bisa belajar banyak tentang tari tradisional Korea dan bahkan menggunakannya dalam koreografi kita!"

Winter mengangguk dengan kuat. "Betul sekali! Aku selalu penasaran dengan tari tradisional tapi tidak pernah punya kesempatan untuk belajarnya dengan benar. Sekarang kita bisa belajar bersama-sama dan bahkan menambahkan elemen baru ke dalam pertunjukan aespa!"

Giselle menyentuh pundak ku dengan lembut. "Karina-unnie, ini adalah solusi yang sempurna. Kamu tidak perlu memilih antara dua cinta mu – kamu bisa membawa mereka bersama-sama dan membuat sesuatu yang lebih besar dari jumlah bagiannya. Mari kita bekerja keras bersama untuk mewujudkannya!"

Kita segera menjadwalkan pertemuan dengan manajemen perusahaan dan tim dari balai tari nasional. Setelah beberapa jam diskusi yang intensif dan menyeluruh, akhirnya kita mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak:

- Persiapan untuk comeback aespa musim panas akan tetap berjalan sesuai jadwal, dengan penambahan elemen tari tradisional dalam beberapa koreografi lagu baru

- Proyek "Harmoni: Nada dan Gerakan" akan diluncurkan tiga bulan setelah comeback aespa, sehingga ada waktu yang cukup untuk persiapan

- Aku akan berbagi waktu antara latihan dengan aespa dan latihan dengan unit tari "Hanbit", dengan dukungan penuh dari kedua tim

- Teman-teman aespa juga akan berpartisipasi dalam proyek kolaborasi dengan belajar gerakan tari tradisional dasar dan menyertai beberapa bagian pertunjukan

Persiapan proyek ini dimulai dengan segera. Setiap hari ku menjadi sangat padat tapi penuh dengan kegembiraan. Pukul 07.00 pagi, aku sudah berada di balai tari nasional berlatih dengan unit tari "Hanbit" – terutama dengan Soo-jin yang berhasil terpilih sebagai anggota utama unit tersebut. Dia ternyata adalah salah satu peserta terbaik dalam audisi, dengan kemampuan ekspresi emosional yang luar biasa dan kemauan belajar yang sangat tinggi.

"Saya tidak menyangka akan punya kesempatan untuk belajar langsung dari kakak," ucap Soo-jin saat kita berlatih gerakan fan dance bersama di studio besar. "Kakak sangat sabar dalam mengajar dan selalu menjelaskan makna di balik setiap gerakan dengan sangat rinci."

Aku tersenyum padanya sambil menunjukkan gerakan yang lebih kompleks. "Setiap gerakan tari tradisional memiliki cerita sendiri, Soo-jin-ya. Misalnya, gerakan kipas yang melingkar ke atas melambangkan harapan dan impian yang tinggi, sedangkan gerakan yang meluncur ke bawah melambangkan rasa syukur pada tanah yang memberi kita kehidupan."

Aku mengajarkannya beberapa teknik tari kontemporer yang kudapatkan dari pengalaman dengan aespa – bagaimana menggunakan kekuatan inti tubuh untuk membuat gerakan lebih lancar, bagaimana mengontrol napas agar gerakan lebih terkontrol, dan bagaimana berinteraksi dengan kamera saat menari di atas panggung besar. Sebaliknya, Soo-jin mengajarkanku gerakan tradisional yang dia pelajari dari ayahnya – gerakan yang sangat autentik dan jarang ditampilkan di panggung besar, dengan makna yang dalam terkait dengan kehidupan pedesaan Korea yang dulu.

"Saya belajar gerakan ini dari ayah saya ketika saya masih kecil," katanya saat menunjukkan gerakan yang menyerupai orang yang sedang bekerja di sawah. "Ini adalah tari yang dulu dilakukan oleh petani untuk mengucapkan rasa syukur setelah panen yang melimpah. Setiap langkahnya menggambarkan proses menanam dan memanen padi."

Siang hari, aku bergabung dengan teman-teman aespa di studio kita untuk berlatih koreografi baru. Kami bekerja sama dengan instruktur tari tradisional dari balai tari nasional untuk menyisipkan elemen gerakan tradisional ke dalam koreografi pop kita. Misalnya, dalam lagu utama comeback kita, kami menambahkan gerakan tangan yang diambil dari tari fan dance dan langkah kaki yang diambil dari tari salpuri.

"Ini jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan!" canda Winter saat mencoba mengikuti gerakan tangan yang presisi. "Tapi rasanya sangat menyenangkan – seolah-olah kita sedang menghubungkan diri dengan akar budaya kita melalui setiap gerakan."

Giselle mengangguk sambil terus berlatih. "Betul sekali! Dan ini akan membuat pertunjukan kita lebih unik dan berbeda dari grup lain. Kita aespa bisa melakukan apa saja kan, unnie?"

"Kita bisa lakukan itu! Mari kita bekerja keras bersama!" jawabku dengan penuh semangat.

Pada malam hari, aku sering menghabiskan waktu di rumah bersama nenekku, menunjukkan padanya gerakan tari yang aku pelajari dan mendengarkan cerita tentang ibuku yang dulu. Suatu malam, nenekku membawa aku ke kamar penyimpanan yang jarang digunakan dan membuka sebuah lemari kayu tua yang penuh dengan barang-barang ibuku.

"Ini adalah kostum tari yang pernah dikenakan ibumu ketika dia memenangkan kompetisi tingkat nasional," ucap nenekku dengan suara penuh kenangan saat dia mengeluarkan sebuah kostum berwarna merah dan emas yang sangat indah. "Dia selalu bilang bahwa kostum ini membawa keberuntungan baginya. Sekarang aku ingin kamu memakainya pada hari peluncuran proyek kolaborasi."

Di dalam lemari itu, aku juga menemukan sebuah catatan kecil yang tertulis dengan tangan ibuku, yang tampaknya tertinggal di antara lipatan kain kostum:

"Untuk Ji-min-ku yang tersayang – jika suatu hari kamu menemukan bahwa cinta pada tari mengalir dalam darahmu, jangan pernah takut untuk mengikutinya. Cinta tidak pernah membuat kita harus memilih – cinta selalu menemukan cara untuk menyatukan semua hal yang kita cintai menjadi sesuatu yang lebih indah. Jadilah orang yang bisa menjembatani dunia lama dan dunia baru, membawa keindahan dari keduanya untuk dinikmati oleh semua orang..."

Aku menyimpan catatan itu dengan hati-hati di dalam dompet ku, merasa bahwa ibuku sedang memberikan kekuatan dan bimbingan padaku melalui setiap kata yang ditulisnya.

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!