Updating your session…

KETIKA PILIHAN CINTA MENULIS DESTINASI

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 1

6 min read•Published Oct 12, 2026

BAB 1: SURAT YANG DATANG DARI MASA LALU

Tanggal 11 April 2023 – tepat pada hari ulang tahunku yang ke-23. Aku sedang duduk di kamar pribadiku setelah selesai berlatih koreografi baru aespa untuk comeback musim panas, membuka kado-kado yang diberikan oleh teman-teman ku dan keluarga. Kamar ku dihiasi dengan foto-foto pertunjukan aespa, trofi penghargaan yang kita raih bersama, dan beberapa pajangan kecil yang berkaitan dengan tari tradisional Korea – sebuah hobi yang aku pelajari sejak kecil dari nenekku tapi jarang aku bahas secara luas.

Saat aku menyortir amplop-amplop berisi kartu ucapan dari penggemar dan teman dekat, sebuah amplop berwarna coklat tua yang tidak ada nama pengirimnya menarik perhatianku. Amplop itu terasa agak kaku dan berusia tua, dengan tali benang tipis yang mengikatnya rapi. Saat aku membukanya dengan hati-hati, sebuah surat kuno dengan tulisan tangan rapi terkeluar darinya, disertai dengan sebuah foto hitam putih seorang wanita muda yang sedang menari dengan kostum tradisional yang indah.

"Kepada putriku yang tersayang, Yu Ji-Min Jika engkau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di sisi mu. Aku menulis surat ini pada malam sebelum kamu lahir, dengan harapan bahwa suatu hari nanti kamu akan memahami mengapa aku harus membuat pilihan yang sulit pada waktu itu.

Aku ingin engkau tahu bahwa cinta yang aku miliki pada tari tradisional Korea tidak pernah padam – itu mengalir dalam darah kita, dari nenekmu yang dulu juga seorang penari hebat, hingga padamu sekarang. Aku pernah memiliki impian besar untuk membuat tari tradisional bisa dinikmati oleh generasi muda, membawa keindahan budaya kita ke seluruh dunia. Aku bahkan sudah terpilih untuk bergabung dengan grup tari nasional yang akan melakukan tur dunia.

Tetapi ketika aku tahu bahwa aku akan memiliki kamu, aku harus membuat pilihan yang paling sulit dalam hidupku. Aku memilih untuk meninggalkan impian itu dan fokus pada menyediakan kehidupan yang baik untukmu. Jangan pernah merasa bersalah karena itu – setiap pilihan yang aku buat adalah karena cintaku padamu yang lebih besar dari apa pun di dunia ini.

Sekarang aku menyerahkan impian itu padamu, anakku. Jangan pernah takut untuk memilih cinta pada apa yang benar-benar kamu inginkan. Ingatlah bahwa cinta tidak pernah membuat kita harus meninggalkan sesuatu yang lain – cinta selalu menemukan cara untuk menyatukan semua hal yang kita cintai menjadi sesuatu yang lebih indah...

Dengan cinta sebesar-besarnya,

Kim Hye-jin – Ibunda mu yang selalu mencintaimu"

Aku menatap surat itu dengan mata penuh keheranan dan emosi yang campur aduk. Tangan aku sedikit gemetar saat aku melihat nama yang ditulis di akhir surat – nama yang aku kenal sebagai ibuku yang wafat ketika aku masih bayi, tapi yang cerita masa lalunya selalu menjadi misteri bagiku. Foto yang menyertainya menunjukkan seorang wanita muda dengan wajah yang mirip denganku, menari dengan keanggunan yang luar biasa di atas panggung kecil.

Tanpa berpikir dua kali, aku berlari ke kamar nenekku yang tinggal di lantai bawah rumah kita. Nenekku sedang duduk di teras belakang yang penuh dengan tanaman bunga, sedang merawat anggrek yang dia rawat dengan cinta selama bertahun-tahun.

"Nenek… apa ini?" tanyaku dengan suara pelan saat aku menunjukkan surat dan foto itu padanya.

Nenekku mengangkat kepalanya, dan ekspresi wajahnya berubah dari senyum hangat menjadi penuh dengan kenangan yang mendalam. Dia menarik aku untuk duduk bersamanya di kursi kayu tua yang selalu hangat karena terkena sinar matahari sore.

"Oh, akhirnya kamu menemukan surat itu, Ji-min-ya," ucap nenekku perlahan, menjepit tanganku dengan erat. "Aku menyimpan surat itu di dalam lemari kayu tua kamar ku, bersama dengan barang-barang ibumu. Aku berencana memberikannya padamu ketika kamu sudah cukup besar untuk memahaminya, tapi aku selalu merasa takut bahwa kamu akan merasa harus membawa beban impiannya."

"Apa yang terjadi pada ibuku, nenek? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku bahwa dia juga seorang penari?"

Nenekku menghela napas panjang sebelum mulai bercerita. "Ibumu memang seorang penari tari tradisional yang sangat berbakat. Dia belajar dari anak-anak muda dan bahkan pernah memenangkan beberapa kompetisi tari tingkat nasional. Ketika dia diterima di grup tari nasional, semua orang tahu bahwa dia akan menjadi bintang besar yang akan membawa nama baik Korea di kancah internasional."

"Namun ketika dia mengetahui bahwa dia sedang mengandung kamu, dia menghadapi pilihan yang sangat sulit. Grup tari akan melakukan tur selama satu tahun ke berbagai negara di dunia, dan dia harus memilih antara mengikuti tur itu atau keluar dari grup untuk merawat kamu. Tanpa ragu sedikit pun, dia memilih untuk keluar dan fokus pada kamu."

Aku merasa dada aku sesak dan air mata mulai menggenang di mataku. "Jadi ibuku mengorbankan impiannya karena aku?"

"Tidak, anakku – dia tidak mengorbankan apa-apa. Dia hanya memilih cinta yang lebih besar. Dia selalu bilang bahwa menjadi ibu mu adalah hal terindah yang pernah terjadi padanya. Bahkan ketika dia sedang sakit parah sebelum wafat, dia masih berkata bahwa dia tidak menyesal pilihan yang dia buat."

Pada malam yang sama, saat aku masih terjaga di atas ranjang mengingat cerita nenekku dan membaca surat ibuku berulang kali, telepon ku berbunyi. Nama yang muncul di layar adalah Profesor Lee Dong-wook – direktur balai tari nasional Korea Selatan, seseorang yang aku kagumi karena karyanya dalam mempromosikan tari tradisional ke generasi muda dan kancah internasional.

"Karina, selamat ulang tahun yang ke-23," ucapnya dengan suara hangat setelah aku menjawab telepon. "Aku tahu bahwa kamu sedang dalam persiapan comeback dengan aespa, tapi aku punya sesuatu yang sangat penting untuk kamu tawarkan. Kami akan membentuk sebuah unit tari khusus yang diberi nama 'Hanbit' (Cahaya Korea) yang akan melakukan tur dunia selama 8 bulan untuk mempromosikan tari tradisional Korea yang dimodernisasi. Tim seleksi kami telah melihat beberapa video kamu berlatih tari tradisional dan sangat terkesan dengan bakat dan ekspresi emosimu. Kami ingin kamu menjadi pemimpin dan penari utama dari unit ini. Ini adalah kesempatan langka untuk membawa budaya kita ke seluruh dunia."

Hatiku berdebar kencang mendengar tawaran itu. Sebelum aku bisa memberikan tanggapan, suara lain terdengar dari luar kamar ku – Giselle yang sedang memanggil namaku karena ada pesan penting dari manajemen perusahaan.

"Saya akan memikirkan tawaran ini dengan saksama, Profesor Lee," kataku dengan sopan sebelum menutup telepon.

Ketika aku keluar kamar, Giselle sudah menunggu dengan wajah serius di lorong. "Unnie, manajemen baru saja mengirimkan pesan resmi. Persiapan untuk comeback aespa musim panas akan dimulai dalam dua minggu lagi, dan kita akan memasuki masa penutupan penuh selama 4 bulan untuk fokus pada produksi album dan koreografi baru. Mereka juga menyebutkan bahwa setelah itu, kita akan melakukan tur Asia selama 4 bulan lagi. Jadwalnya sudah sangat padat dan tidak ada ruang untuk aktivitas lain."

Aku kembali ke kamar ku dan duduk di meja makan malam kecil yang ada di sana. Di atas mejanya terletak surat dari ibuku, foto ibumu yang sedang menari, proposal dari balai tari nasional, dan pesan resmi dari manajemen perusahaan. Dua pilihan yang sama-sama berat menghadangiku – memilih cinta pada grup aespa yang sudah menjadi keluarga ku dan impian kita bersama untuk meraih kesuksesan di industri musik idola, atau memilih cinta pada warisan ibuku dan kesempatan untuk mewujudkan impiannya yang belum tercapai.

Di langit luar jendela, bulan mulai muncul dengan terang, dan aku merasakan seolah-olah ibuku sedang melihatku dari sana, memberikan kekuatan untuk membuat pilihan yang tepat.

 

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!