51. Layang-Layang yang Terputus
Layang-layang itu terputus talinya,
terbang menjauh tanpa arah,
seorang anak berdiri menatap langit,
tidak menangis, hanya diam.
Ayahnya menghampiri dan berkata,
"Layang-layang yang pergi bukan milik kita,
tapi angin yang membawanya
akan mengajarkannya terbang lebih tinggi."
Anak itu tidak mengerti saat itu,
tetapi dua puluh tahun kemudian,
ketika ia harus melepaskan sesuatu,
ia ingat layang-layang dan ayahnya,
dan ia melepaskan tanpa menangis.
52. Radio di Kamar Kos
Radio itu hanya bisa menangkap satu stasiun,
dan hanya pada malam hari,
seorang mahasiswa mendengarkannya setiap malam,
meski isinya tidak pernah ia mengerti.
Suatu malam radio itu rusak,
dan ia baru sadar,
bukan suara yang ia cari,
melainkan kebisingan kecil
yang membuat kamar kos tidak terasa sendiri.
Ia membeli radio baru keesokan harinya,
tetapi tidak pernah menemukan stasiun yang sama,
dan ia belajar bahwa beberapa hal
hanya datang sekali dalam hidup.
53. Pasar Pagi yang Basah
Pasar itu basah setelah hujan,
pedagang mengelap meja dengan kain,
seorang perempuan membeli sayur,
tanpa memperhatikan genangan di kakinya.
Ia baru selesai menangis semalam,
tetapi pagi ini ia harus belanja,
karena anaknya butuh makan,
karena hidup tidak berhenti hanya karena hati terluka.
Ia pulang dengan tas penuh sayur,
dan untuk pertama kalinya setelah seminggu,
ia memasak dengan hati yang sedikit lebih ringan,
karena sibuk itu kadang menyembuhkan.
54. Buku yang Diberi Nama
Ia menulis namanya di halaman pertama,
lalu meminjamkan buku itu kepada seseorang,
yang menulis namanya di bawahnya,
lalu meminjamkannya lagi.
Bertahun-tahun kemudian,
buku itu kembali kepadanya,
dengan dua puluh tiga nama di dalamnya,
semuanya orang yang pernah ia percayai.
Ia membuka setiap halaman,
mengingat setiap wajah,
dan menyadari bahwa buku itu
bukan tentang ceritanya,
melainkan tentang perjalanan yang ia lalui.
55. Sepatu Bot di Musim Hujan
Sepatu bot itu dibeli saat musim hujan,
warnanya kuning cerah,
ia memakainya setiap hari,
meski orang-orang bilang terlalu mencolok.
Suatu hari sepatu itu bocor,
dan ia harus berjalan dengan kaki basah,
tetapi ia tidak membuangnya,
ia memperbaikinya di tukang sol.
Ternyata tidak semua hal harus diganti,
beberapa hal cukup diperbaiki,
seperti kepercayaan pada diri sendiri,
yang bocor bukan karena rusak,
tetapi karena terlalu lama dipakai.
56. Kopi di Warung Tua
Setiap pagi ia duduk di warung yang sama,
memesan kopi hitam dan pisang goreng,
pemilik warung sudah hafal pesanannya,
meski mereka tidak pernah bicara panjang.
Suatu hari warung itu tutup,
pemiliknya sakit, kata orang,
ia berdiri di depan pintu yang terkunci,
dan baru sadar betapa penting
ritual kecil yang ia anggap biasa.
Sejak itu ia mulai menyapa orang,
menanyakan kabar, mengucapkan terima kasih,
karena ia belajar dari warung tua itu,
bahwa kehadiran selalu berarti,
meski tidak selalu diakui.
57. Kamar dengan Satu Jendela
Kamar itu hanya punya satu jendela,
menghadap ke tembok tetangga,
tetapi penghuninya selalu membukanya,
setiap pagi, tanpa alasan.
Teman-temannya bertanya kenapa,
ia hanya menjawab, "karena aku butuh melihat langit."
Suatu hari ia pindah ke rumah yang lebih besar,
dengan tiga jendela dan pemandangan taman,
tetapi ia tetap membuka jendela terkecil,
dan menatap langit yang sama.
58. Kereta yang Terlambat
Kereta itu terlambat dua jam,
semua orang mengeluh di peron,
seorang perempuan duduk di lantai,
membaca buku tanpa peduli.
Lelaki di sebelahnya bertanya,
"Kamu tidak marah?"
Ia menggeleng. "Aku sedang tidak ingin cepat sampai."
Mereka bicara selama dua jam,
dan ketika kereta datang,
mereka bertukar nomor telepon,
karena kadang keterlambatan
adalah cara semesta mempertemukan orang.
59. Lampu Belajar yang Redup
Lampu di kamar itu redup,
ia belajar dengan mata hampir tertutup,
ibunya menyuruhnya tidur,
tetapi ia bersikeras menyelesaikan soal.
Ia ingin lulus, ingin bekerja,
ingin membeli lampu yang lebih terang,
ingin rumah yang lebih baik,
ingin orang tuanya tidak lagi menangis.
Bertahun-tahun kemudian ia duduk di kantor,
lampu di atas kepalanya sangat terang,
tetapi ia menutup mata,
dan merindukan lampu redup itu,
yang menemaninya saat masih bermimpi.
60. Cermin di Toko Baju
Ia berdiri di depan cermin toko,
mencoba baju yang terlalu besar,
merasa dirinya tidak cocok,
merasa dirinya selalu salah.
Seorang nenek di sebelahnya berkata,
"Baju yang salah, bukan kamu."
Ia menoleh, nenek itu tersenyum,
memilihkan baju yang sesuai,
lalu berkata, "kadang kita hanya butuh
seseorang untuk melihat kita dengan jujur,
karena kita terlalu lama melihat dengan benci."
61. Sepotong Kue di Pesta
Di pesta itu ia duduk di sudut,
memegang sepotong kue tanpa memakannya,
orang-orang menari dan tertawa,
ia hanya tersenyum kecil.
Seorang perempuan menghampirinya,
duduk di sampingnya tanpa bicara,
lalu mengambil setengah kue di tangannya,
dan memakannya tanpa izin.
Ia tertawa. "Itu punyaku."
"Aku tahu," kata perempuan itu. "Kamu butuh teman."
Sejak malam itu ia tidak lagi duduk sendiri,
karena ternyata keberanian bukan tentang datang,
melainkan tentang mengulurkan tangan.
62. Pohon Natal yang Tidak Dibuang
Pohon natal itu tetap di ruang tengah,
meski Januari sudah lama berlalu,
lampu-lampunya masih menyala,
meski sudah tidak ada yang merayakan.
Anak-anaknya bilang, "Bu, sudah lewat."
Ibunya hanya tersenyum,
"Biarkan saja, aku masih ingin melihatnya."
Suatu hari ia menceritakan alasannya,
pohon itu dibeli tahun ayah mereka meninggal,
dan cahayanya membuat rumah tidak terasa begitu gelap,
dan sejak itu ia tidak pernah membuangnya.
63. Tas yang Terlalu Berat
Ia membawa tas yang terlalu berat,
penuh buku, kewajiban, dan ketakutan,
punggungnya sakit, tetapi ia terus berjalan,
karena ia takut membuang apa pun.
Suatu hari talinya putus,
semua isinya berhamburan di jalan,
dan untuk pertama kalinya ia melihat
betapa banyak yang tidak ia butuhkan.
Ia memungut semuanya, lalu memilih,
membuang buku yang tidak ia baca,
menyimpan yang penting,
dan berjalan lebih ringan
dengan tas yang baru.
64. Panggung yang Sama
Ia pernah tampil di panggung ini,
bertahun-tahun lalu, saat masih muda,
sekarang ia kembali sebagai penonton,
duduk di baris paling belakang.
Panggungnya masih sama,
lampunya lebih modern,
pemainnya lebih muda,
dan ia merasa seperti orang asing.
Tetapi ketika lampu dimatikan,
dan tepuk tangan mulai terdengar,
ia tersenyum dan menangis sedikit,
karena ia pernah menjadi bagian dari ini,
dan itu tidak pernah benar-benar hilang.
65. Kantin Sekolah yang Tak Berubah
Kantin sekolah itu masih sama,
bangku kayunya sama, menunya sama,
ia datang setelah dua puluh tahun,
duduk di tempat yang dulu ia duduki.
Bu kantin sudah tidak ada,
digantikan anaknya yang juga menua,
tetapi rasa mie ayamnya tidak berubah,
dan ia makan sambil menangis kecil.
Ternyata yang ia rindukan bukan masa mudanya,
melainkan versi dirinya
yang belum tahu bahwa hidup akan sulit,
dan tetap ceria karena hal-hal sederhana.
66. Bunga di Makam
Ia datang ke makam itu setiap bulan,
membawa bunga yang berbeda-beda,
kadang mawar, kadang melati,
kadang hanya rumput yang ia petik di jalan.
Anak-anaknya bertanya kenapa repot,
ia hanya bilang, "karena ibumu suka bunga."
Suatu hari ia datang tanpa bunga,
hanya duduk di depan nisan,
bercerita tentang cucu-cucunya,
dan tertawa sendirian.
Ia sadar bunga tidak penting,
yang penting adalah ia masih datang,
masih mengingat, masih berbicara,
dan itu sudah cukup.
67. Kunci Kamar yang Hilang
Ia kehilangan kunci kamarnya,
dan harus tidur di sofa semalam,
bukan karena tidak bisa membuka,
tetapi karena ia tidak ingin membongkar pintu.
Malam itu ia melihat ruang tengah dengan tenang,
mendengar jam dinding berdetak,
membaca buku yang sudah lama tidak disentuh,
dan menemukan hal-hal yang ia lupakan.
Besoknya ia menemukan kunci di kantong jaket,
tetapi ia tidak langsung mengunci kamar,
ia biarkan pintu terbuka beberapa hari,
karena ternyata kehilangan kadang
membuat kita menemukan hal lain.
68. Suara Azan Subuh
Ia bukan orang yang rajin ke masjid,
tetapi ia selalu bangun saat azan subuh,
bukan untuk beribadah,
hanya untuk mendengar suara itu.
Suara itu menenangkan,
seperti seseorang yang mengingatkan,
bahwa masih ada pagi,
bahwa masih ada kesempatan.
Suatu hari ia pindah ke kota yang sunyi,
dan tidak lagi mendengar azan,
dan ia baru sadar,
yang selama ini ia cari bukan suara,
melainkan perasaan bahwa ia tidak sendiri.
69. Jam Dinding yang Berdetak
Jam dinding itu terlalu berisik,
berdetak setiap detik,
ia tidak bisa tidur,
ia ingin melepas baterainya.
Tetapi ibunya bilang,
"Biarkan, aku suka mendengar waktu."
Bertahun-tahun kemudian ibunya meninggal,
dan ia duduk di kamar itu sendirian,
mendengar jam yang sama berdetak,
dan untuk pertama kalinya,
ia bersyukur jam itu tidak pernah berhenti.
70. Sarung Tangan yang Kebesaran
Sarung tangan itu kebesaran,
diberikan ayahnya waktu ia masih kecil,
"Pakai ini, nanti tanganmu hangat."
Ia dulu melepasnya karena tidak nyaman,
sekarang ia menyimpannya di laci,
meski sudah tidak muat.
Suatu hari anaknya kedinginan,
dan ia memberikan sarung tangan itu,
anaknya juga melepasnya karena kebesaran,
dan ia tertawa,
karena ia akhirnya mengerti
kenapa ayahnya dulu juga tertawa.
71. Sepatu Kulit yang Kusam
Sepatu kulit itu ada di rak paling atas,
sudah kusam dan berdebu,
ia dulu dipakai ayahnya ke kantor,
setiap hari, selama bertahun-tahun.
Ia mencoba memakainya sekali,
terlalu sempit dan keras,
tetapi ia tidak membuangnya,
karena sepatu itu bercerita tentang seseorang
yang berjalan jauh untuk keluarganya.
Ia menyimpannya di rak,
bukan untuk dipakai,
melainkan untuk diingat,
bahwa jalan yang ia lalui sekarang
dibuka oleh kaki yang memakai sepatu itu.
72. Jam Tangan yang Cepat
Jam tangan itu selalu cepat lima menit,
ia beli di pasar loak tanpa sengaja,
dan memutuskan untuk tidak memperbaikinya.
Sejak itu ia selalu datang lebih awal,
ke kantor, ke janji, ke rumah teman,
dan ia mulai menyukai
rasa tenang sebelum orang lain datang.
Suatu hari jam itu berhenti,
dan ia datang terlambat untuk pertama kalinya,
dan ia menyadari,
bukan jam yang membuatnya tepat waktu,
melainkan kebiasaan yang ia bangun.
73. Kursi Tunggu Dokter Gigi
Di ruang tunggu dokter gigi,
ia duduk paling lama,
bukan karena giginya sakit,
tetapi karena ia takut.
Seorang anak kecil duduk di sampingnya,
membawa boneka beruang,
dan berkata, "Nanti tidak sakit, kok."
Ia tersenyum dan bertanya, "Kamu tidak takut?"
"Takut," kata anak itu. "Tapi aku bawa beruang."
Ia tidak punya beruang,
tetapi ia punya dirinya sendiri,
dan itu ternyata cukup,
karena ketika namanya dipanggil,
ia berdiri dan masuk tanpa gemetar.
74. Buku yang Dibaca Dua Kali
Ia membaca buku itu dua kali,
pertama saat masih SMA,
kedua saat sudah bekerja,
dan isinya terasa berbeda.
Dulu ia menganggap tokohnya berani,
sekarang ia menganggap tokohnya bodoh,
dulu ia ingin menjadi seperti dia,
sekarang ia ingin memperingatkannya.
Ia menyadari bukan bukunya yang berubah,
melainkan dirinya,
dan bahwa setiap kali kita membaca,
kita membaca dengan orang yang berbeda.
75. Taman Kota yang Ramai
Taman kota itu ramai setiap minggu,
anak-anak bermain, orang tua duduk,
ia datang sendirian,
duduk di bangku, membaca buku.
Seorang perempuan menghampirinya,
"Sendirian?"
"Iya."
"Kenapa tidak ajak teman?"
"Karena aku butuh tempat di mana
tidak ada yang mengenalku."
Perempuan itu duduk di sebelahnya,
membuka buku sendiri,
dan mereka membaca bersama
tanpa saling bicara,
dan itu ternyata lebih ramai
dari pesta yang pernah ia datangi.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!