76. Handuk yang Basah
Handuk itu tetap basah sejak kemarin,
karena tidak ada yang menjemurnya,
ia terlalu sibuk menangis,
terlalu sibuk berpikir.
Suatu pagi ia menjemurnya,
melihatnya kering di bawah matahari,
dan merasa seperti baru selesai
melakukan sesuatu yang besar.
Ia menyadari,
menjemur handuk bukan pekerjaan besar,
tetapi kadang hal kecil itulah
yang membuat kita percaya
bahwa kita masih bisa merawat hidup.
77. Telepon dari Nomor Tak Dikenal
Telepon berdering dari nomor tak dikenal,
ia mengangkat dengan ragu,
di seberang ada suara perempuan,
bertanya apakah ini nomor yang benar.
Ternyata salah sambung,
tetapi mereka bicara sebentar,
tentang cuaca, tentang kota,
tentang betapa anehnya hidup.
Sebelum menutup telepon,
perempuan itu berkata,
"Terima kasih sudah mengangkat,
kadang aku hanya butuh suara manusia."
78. Dapur yang Berbau Roti
Ia memanggang roti setiap Sabtu,
meski ia tinggal sendiri,
aroma roti memenuhi rumah,
membuat seolah ada banyak orang.
Tetangganya mulai bertanya,
"Kamu memanggang untuk siapa?"
Ia tersenyum. "Untuk rumahku."
Sejak itu tetangganya ikut memanggang,
lalu ada yang datang untuk mencoba,
lalu ada yang datang untuk mengobrol,
dan Sabtu tidak lagi sunyi,
meski rotinya tetap dibuat untuk rumah.
79. Cermin Retak di Kamar Mandi
Cermin itu retak di sudut kanan,
ia tidak memperbaikinya,
karena retak itu membuat wajahnya
terlihat seperti dua versi dirinya.
Yang satu lelah, yang satu tersenyum,
yang satu ingin menyerah, yang satu ingin melangkah,
ia belajar menerima keduanya,
belajar tidak memilih salah satu.
Suatu hari retak itu membesar,
dan ia harus mengganti cermin,
tetapi ia tetap melihat wajahnya,
dan tersenyum,
karena ia tahu keduanya masih ada di sana.
80. Kursi yang Ditinggal di Halte
Ada kursi kayu di halte bus,
sudah lama tidak ada yang duduk,
orang-orang lebih memilih berdiri,
karena kursi itu terlihat tua dan rapuh.
Suatu hari seorang lelaki tua duduk di sana,
membawa tongkat dan kantong belanja,
ia duduk dengan tenang,
meski orang-orang menatapnya aneh.
Ketika bus datang, ia tidak naik,
ia hanya duduk di sana,
menikmati angin sore,
dan orang-orang mulai menyadari,
bahwa kursi itu tidak rapuh,
hanya kesepian.
81. Payung yang Tertinggal
Payung itu tertinggal di kantor,
sudah berbulan-bulan tidak diambil,
ia tahu itu miliknya,
tetapi ia pura-pura lupa.
Suatu hari hujan turun deras,
dan ia harus pulang tanpa payung,
ia basah kuyup di jalan,
dan tertawa karena bodoh.
Besoknya ia mengambil payung itu,
dan menyadari sesuatu,
bahwa bukan payung yang ia tinggalkan,
melainkan dirinya sendiri,
di tempat yang tidak ingin ia tinggali.
82. Meja Makan yang Panjang
Meja makan itu panjang,
cukup untuk delapan orang,
tetapi selama bertahun-tahun
hanya satu orang yang duduk di sana.
Ia menaruh piring di satu ujung,
dan kursi-kursi lain tetap kosong,
sampai suatu hari seorang teman datang,
lalu dua, lalu tiga,
lalu delapan.
Meja itu kembali penuh,
suara sendok dan tawa kembali,
dan ia sadar,
meja panjang itu tidak pernah salah,
yang salah adalah ia yang terlalu lama
tidak mengundang siapa pun.
83. Lagu Anak-Anak di Sekolah
Di sekolah itu anak-anak menyanyikan lagu
yang sama seperti dulu,
ia mendengarnya dari luar pagar,
dan berhenti sebentar.
Ia tidak masuk,
ia tidak punya alasan,
ia hanya berdiri di sana,
mendengarkan sampai lagu selesai.
Ketika selesai, ia berjalan lagi,
tetapi langkahnya lebih ringan,
karena ia baru sadar
bahwa masa kecilnya tidak benar-benar hilang,
ia hanya disimpan di tempat lain.
84. Kipas Angin yang Berdebu
Kipas angin itu berdebu,
tidak dinyalakan sejak musim hujan,
ia lupa membersihkannya,
ia lupa banyak hal sejak ibunya pergi.
Suatu hari udara terlalu panas,
ia membersihkan kipas itu,
menyalakannya, dan duduk di depannya,
merasa angin itu seperti pelukan.
Ia menangis, tetapi bukan karena sedih,
ia menangis karena akhirnya
ia melakukan sesuatu yang ibunya
selalu lakukan setiap musim panas.
85. Surat di Buku Perpustakaan
Di halaman dua ratus tiga,
ada surat terselip di buku perpustakaan,
ditulis oleh seseorang bertahun-tahun lalu,
ditujukan kepada pembaca berikutnya.
"Kalau kamu membaca ini,
tolong jangan berhenti di halaman ini,
teruskan sampai akhir,
karena bagian terbaiknya ada di halaman terakhir."
Ia mengikuti saran itu,
dan benar, halaman terakhirnya indah,
tetapi yang paling ia ingat
bukan ceritanya,
melainkan seseorang yang tidak ia kenal
yang peduli apakah ia melanjutkan.
86. Sepeda di Depan Toko Roti
Sepeda itu diparkir di depan toko roti,
setiap pagi, selama bertahun-tahun,
pemiliknya membeli roti yang sama,
lalu pergi tanpa banyak bicara.
Suatu hari sepeda itu tidak muncul,
dan pemilik toko merasa ada yang hilang,
meski mereka tidak pernah bicara,
meski mereka tidak pernah bertukar nama.
Seminggu kemudian sepeda itu muncul lagi,
pemiliknya lebih kurus, lebih pucat,
tetapi ia membeli roti yang sama,
dan pemilik toko tersenyum,
dan memberi roti ekstra tanpa berkata apa-apa.
87. Buku Resep yang Kotor
Buku resep itu penuh noda,
halaman-halamannya lengket,
tulisan tangannya sulit dibaca,
tetapi ia tidak menggantinya.
Ia mencoba memasak resep ibunya,
dan rasanya tidak sama,
ia mencoba lagi, dan lagi,
sampai akhirnya ia menyerah.
Suatu hari anaknya bertanya,
"Kenapa tidak sama, Bu?"
"Karena resep ini ditulis oleh tangan
yang sudah tidak ada,
dan tangan itu yang membuatnya enak."
88. Sepatu Sekolah yang Lama
Sepatu sekolah itu masih di lemari,
sudah tidak muat sejak lama,
tetapi ibunya tidak membuangnya,
ia bilang, "Nanti berguna."
Ia tidak tahu apa gunanya,
sampai suatu hari anaknya bertanya,
"Ayah dulu sekolah di mana?"
Ia membuka lemari,
mengeluarkan sepatu itu,
dan bercerita tentang masa mudanya,
dan sepatu itu akhirnya berguna,
bukan untuk dipakai,
melainkan untuk memulai cerita.
89. Lampu Taman yang Mati
Lampu taman itu mati sejak minggu lalu,
tidak ada yang melapor,
tidak ada yang peduli,
orang-orang membawa senter sendiri.
Suatu malam seorang anak kecil tersesat,
dan tidak ada cahaya,
ia menangis di bangku taman,
sampai seorang lelaki tua datang
dengan lampu senter dan payung.
Besoknya lelaki tua itu melapor ke kelurahan,
dan lampu itu diperbaiki,
dan taman itu kembali terang,
meski tidak ada yang tahu
bahwa seorang anak pernah menangis di sana.
90. Buku Harian yang Kosong
Ia membeli buku harian baru,
halamannya masih putih semua,
ia menaruhnya di meja,
berminggu-minggu tidak menulis apa pun.
Suatu hari ia membuka halaman pertama,
dan menulis satu kalimat,
"Aku tidak tahu harus menulis apa."
Besoknya ia menulis lagi,
"Aku masih tidak tahu."
Hari ketiga ia menulis,
"Aku mulai tahu."
Ternyata buku harian tidak butuh cerita besar,
cukup kejujuran kecil,
dan itu sudah menjadi cerita.
91. Kopi untuk Dua
Ia menyeduh kopi untuk dua orang,
meski ia tinggal sendiri,
ia menaruh satu cangkir di meja,
dan satu di depannya.
Awalnya terasa aneh,
lama-lama terasa seperti ritual,
ia bicara pada cangkir kosong itu,
tentang hari-harinya, tentang rindunya.
Suatu hari ia berhenti menyeduh dua cangkir,
bukan karena ia melupakan,
tetapi karena ia sudah selesai
dengan percakapan itu.
92. Kaus Kaki yang Berbeda
Ia memakai kaus kaki berbeda warna,
satu merah, satu biru,
dan semua orang menatapnya,
tetapi ia tidak peduli.
Ia baru saja membaca buku
tentang seseorang yang berhenti peduli
pada hal-hal yang tidak penting,
dan ia memutuskan untuk mencobanya.
Ternyata dunia tidak runtuh,
ternyata tidak ada yang marah,
dan ia menyadari,
selama ini yang membuatnya lelah
bukan dunia, melainkan pikirannya sendiri.
93. Bunga di Jendela Rumah Sakit
Di jendela rumah sakit ada pot bunga,
tidak ada yang tahu siapa yang menaruhnya,
pasien-pasien melihatnya setiap pagi,
dan merasa sedikit lebih baik.
Suatu hari pot itu jatuh,
dan seorang perawat menemukan surat di bawahnya,
dari keluarga seorang pasien yang sudah meninggal,
"Bunga ini untuk siapa pun yang butuh melihat sesuatu hidup."
Perawat itu menaruh pot baru,
dengan surat yang sama,
dan jendela itu tidak pernah kosong lagi.
94. Telepon di Bilik Umum
Bilik telepon umum masih berdiri,
meski tidak ada yang memakainya,
seorang lelaki tua memasukinya setiap minggu,
mengangkat gagang, lalu diam.
Ia tidak memasukkan koin,
ia tidak memutar nomor,
ia hanya berdiri di sana,
memegang gagang.
Suatu hari seorang anak bertanya,
"Kakek, teleponnya rusak."
Kakek itu tersenyum. "Aku tahu.
Aku hanya ingin mendengar sunyi
yang dulu pernah berisi suara istrimu."
95. Meja Kerja yang Berdebu
Meja kerja itu berdebu,
ia sudah lama tidak menyentuhnya,
laptopnya mati, kursinya berdebu,
ia hanya lewat dan menghela napas.
Suatu malam ia duduk di sana,
membersihkan debu dengan tangan,
menyalakan laptop,
membuka dokumen kosong.
Ia menulis satu kalimat,
lalu satu paragraf,
lalu satu halaman,
dan ia tidak berhenti sampai pagi,
karena ternyata yang ia butuhkan
bukan motivasi, melainkan keberanian memulai.
96. Boneka di Atas Lemari
Boneka itu di atas lemari sejak lama,
sudah berdebu dan warnanya pudar,
ia dulu milik anaknya yang meninggal,
ia tidak pernah berani menyentuhnya.
Suatu hari cucunya datang,
melihat boneka itu dan bertanya,
"Boleh aku main?"
Ia ragu, lalu mengangguk,
dan cucunya bermain dengan gembira,
dan boneka itu akhirnya berdebu lagi,
tetapi kali ini debunya berbeda,
karena boneka itu sudah punya cerita baru.
97. Kursi Roda di Pinggir Jalan
Seorang lelaki mendorong kursi roda kosong,
setiap pagi di jalan yang sama,
orang-orang mengira ia gila,
tetapi ia tidak peduli.
Ia mendorong kursi itu ke taman,
ke pasar, ke tempat-tempat yang dulu
ia dan istrinya datangi bersama,
lalu ia duduk di kursi itu sendiri.
Ia tidak sedih,
ia hanya melanjutkan kebiasaan,
karena bagi dia,
istrinya tidak benar-benar pergi,
ia hanya berpindah ke dalam dirinya.
98. Cermin di Toko Antik
Di toko antik ada cermin tua,
bingkainya berukir dan berdebu,
ia melihat bayangannya sendiri,
lalu melihat bayangan orang lain di belakangnya.
Ia menoleh, tidak ada siapa pun,
ia menatap lagi, bayangan itu masih ada,
seorang perempuan tua tersenyum,
seperti mengenalnya.
Pemilik toko berkata,
"Cermin itu punya cerita,
katanya siapa pun yang melihatnya
akan melihat orang yang paling ia rindukan."
Ia membeli cermin itu,
dan setiap hari ia melihat ibunya,
dan ia tidak lagi merasa sendirian.
99. Payung di Atas Meja
Payung itu di atas meja sejak pagi,
ia lupa membawanya,
ia juga lupa membawa jaket,
ia lupa banyak hal akhir-akhir ini.
Suatu hari ia lupa membawa kunci,
dan harus menunggu di luar rumah,
di bawah hujan, tanpa payung,
ia duduk di teras dan tertawa.
Ia menyadari,
lupa bukan selalu buruk,
kadang lupa membuat kita
mengalami hal-hal yang tidak direncanakan,
dan beberapa di antaranya
ternyata menyenangkan.
100. Lampu yang Menyala Sendiri
Di rumah itu ada lampu yang menyala sendiri,
setiap malam pukul sebelas,
tidak ada yang tahu kenapa,
tidak ada yang berani memeriksa.
Suatu malam penghuninya duduk di ruangan itu,
menunggu lampu itu menyala,
dan ketika menyala,
ia melihat bayangan di dinding,
bayangan seorang perempuan yang tersenyum.
Ia tidak takut,
ia justru menyapa,
"Kamu masih di sini?"
Lampu itu berkedip sekali,
seperti mengangguk,
dan sejak malam itu,
ia selalu duduk di ruangan itu
setiap pukul sebelas,
karena ia tahu,
cahaya itu bukan hantu,
melainkan cinta yang belum selesai.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!