Updating your session…

150 Puisi

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 5

8 min read•Published Oct 13, 2026

101. Kursi Lipat di Teras


Kursi lipat itu selalu ada di teras,

dibuka setiap sore, dilipat setiap malam,

seperti ritual kecil yang tidak pernah dijelaskan,

seperti doa yang tidak pernah diucapkan.


Tetangga mengira ia menunggu seseorang,

ia tidak membantah, juga tidak menjelaskan,

kadang ia hanya ingin duduk di sana,

melihat jalan, mendengar burung, bernapas.


Suatu hari kursi itu rusak,

engselnya patah, kainnya sobek,

ia tidak membeli yang baru,

ia hanya duduk di lantai teras.


Ternyata yang ia cari bukan kursinya,

melainkan kebiasaan berhenti sebentar,

dan ia bisa melakukannya di mana saja,

bahkan di lantai yang keras.


102. Buku Telepon Lama


Di laci ada buku telepon lama,

halamannya kuning, tulisannya pudar,

banyak nomor sudah tidak aktif,

banyak nama sudah tidak ia kenal.


Ia membukanya setiap beberapa tahun,

bukan untuk menelepon,

hanya untuk melihat nama-nama itu,

dan mengingat wajah-wajah di belakangnya.


Ada satu nama yang ia tandai,

sudah lama tidak ia hubungi,

ia ingin menelepon, tetapi tidak berani,

takut suaranya sudah berbeda,

takut ia sudah lupa.


Suatu hari ia menelepon juga,

dan suara di seberang berkata,

"Aku sudah lama menunggu telepon ini."


103. Sendok yang Bengkok


Sendok itu bengkok sejak lama,

ia tidak ingat bagaimana bisa,

mungkin karena dipakai mengaduk terlalu keras,

mungkin karena terjatuh.


Ia tidak membuangnya,

ia tetap memakainya setiap pagi,

karena sendok itu satu-satunya

yang ia bawa dari rumah lamanya.


Suatu hari tamu bertanya,

"Kenapa tidak beli sendok baru?"


Ia tersenyum. "Karena sendok ini

masih bisa mengaduk kopi,

dan itu sudah cukup."


104. Jam Weker yang Berisik


Jam weker itu berisik sekali,

berdering setiap pagi pukul lima,

ia sudah lama tidak memakainya,

tetapi tidak membuangnya.


Suatu hari ia bangun kesiangan,

dan terlambat ke tempat kerja,

ia mencari jam itu di laci,

memasang baterai baru,

dan membiarkannya berdering lagi.


Ternyata suara berisik itu

bukan gangguan,

melainkan pengingat,

bahwa hidup butuh sesuatu

yang membangunkan kita.


105. Kaus Oblong yang Bolong


Kaus oblong itu bolong di bagian siku,

sudah terlalu tua untuk dipakai keluar,

tetapi ia tetap menyimpannya,

memakainya hanya di rumah.


Ia pernah mencoba membuangnya,

tetapi tangannya berhenti,

karena kaus itu mengingatkannya

pada seseorang yang pernah memberikannya.


Suatu hari ia memakainya tidur,

dan bermimpi tentang masa itu,

dan paginya ia tersenyum,

karena kenangan tidak perlu sempurna

untuk tetap berharga.


106. Piring yang Retak


Piring itu retak di tepinya,

sudah tidak aman untuk makanan panas,

tetapi ia tetap menyimpannya di rak,

di antara piring-piring baru.


Ia tidak memakainya untuk tamu,

hanya untuk dirinya sendiri,

karena piring itu satu set

dengan piring yang dulu dipakai ibunya.


Suatu hari piring itu pecah,

dan ia menangis lama,

bukan karena piringnya,

melainkan karena ia sadar

bahwa tidak ada yang bisa disimpan selamanya.


107. Sepatu Sandal yang Hilang Sebelah


Sandal itu tinggal sebelah,

pasangannya hilang entah di mana,

ia menyimpannya di bawah rak,

berharap suatu hari menemukan yang lain.


Bertahun-tahun sandal itu di sana,

berdebu, terlupakan,

sampai suatu hari ia membersihkan rak,

dan menemukan sandal itu.


Ia tertawa sendiri,

lalu membuangnya,

karena ia sadar

tidak semua yang hilang harus dicari,

kadang cukup diakui bahwa ia pernah ada.


108. Kertas yang Terlipat di Buku


Di dalam buku ada kertas terlipat,

sudah bertahun-tahun tidak dibuka,

ia lupa apa isinya,

ia takut membukanya.


Suatu hari ia membuka kertas itu,

isinya hanya daftar belanja,

dari tahun ketika ia masih kuliah,

dan ia tertawa.


Ternyata yang ia takutkan

bukan isi kertasnya,

melainkan perasaan yang mungkin muncul,

dan ternyata tidak muncul,

dan itu melegakan.


109. Kunci Gitar yang Putus


Senar gitar itu putus di tengah lagu,

ia berhenti bermain, meletakkan gitar,

ia tidak mengganti senarnya,

ia tidak menyentuh gitar itu lagi.


Bertahun-tahun gitar itu di sudut kamar,

berdebu, sunyi, seperti monumen,

sampai suatu hari anak tetangga bertanya,

"Boleh aku belajar?"


Ia membersihkan gitar itu,

mengganti senarnya,

dan mengajarkan akord pertama,

dan gitar itu kembali hidup,

meski bukan dengan tangannya.


110. Kursi Taman yang Ditinggal


Kursi itu ada di taman kecil,

catnya mengelupas, kakinya goyang,

tidak ada yang memperbaiki,

tidak ada yang duduk.


Suatu hari seorang perempuan tua datang,

membawa kuas dan cat hijau,

ia mengecat kursi itu sendiri,

meski tangannya gemetar.


Ketika selesai, ia duduk di sana,

memandang taman yang sepi,

dan tersenyum. Ternyata kursi itu

bukan menunggu untuk diperbaiki,

melainkan menunggu seseorang

yang mau duduk di atasnya.


111. Lilin yang Hampir Habis


Lilin itu hampir habis,

tinggal sedikit, sumbunya menghitam,

ia menyalakannya setiap malam,

meski tahu ia akan segera padam.


Suatu malam lilin itu benar-benar habis,

dan ruangan terasa lebih gelap,

ia tidak menyalakan lilin baru,

ia hanya duduk dalam gelap.


Ternyata gelap tidak selalu menakutkan,

kadang ia hanya mengingatkan,

bahwa cahaya yang kita miliki

tidak selamanya ada,

dan kita harus belajar

untuk menjadi cahaya itu sendiri.


112. Koper di Atas Lemari


Koper itu di atas lemari sejak lama,

sudah berdebu, ritsletingnya macet,

ia dulu dipakai untuk pergi jauh,

ke tempat yang belum pernah ia kenal.


Ia tidak membawanya turun,

tidak membukanya,

hanya melihatnya dari bawah,

seperti melihat pintu yang belum dibuka.


Suatu hari ia menurunkan koper itu,

membersihkannya, dan membukanya,

isinya kosong,

dan ia menyadari

bahwa koper itu menunggu untuk diisi,

bukan untuk diingat.


113. Lampu Meja yang Mati


Lampu meja itu mati,

bohlamnya putus, kabelnya aus,

ia bekerja di bawah cahaya ponsel,

merasa matanya cepat lelah.


Suatu hari ia membeli bohlam baru,

memasangnya sendiri,

menyalakan lampu itu,

dan ruangan terasa berbeda.


Ia menyadari,

bukan lampunya yang salah,

melainkan dirinya yang terlalu lama

membiarkan sesuatu mati,

padahal ia bisa memperbaikinya.


114. Buku yang Basah Kena Hujan


Buku itu basah kena hujan,

halamannya mengerut, tulisannya luntur,

ia menjemurnya di bawah matahari,

berharap bisa menyelamatkannya.


Buku itu tidak pernah kembali seperti semula,

halaman-halamannya tetap mengerut,

tetapi ia tetap membacanya,

karena isinya masih bisa dipahami.


Ternyata tidak semua yang rusak

kehilangan nilainya,

kadang kerusakan itu

membuat kita lebih menghargainya.


115. Telepon yang Tidak Berdering


Telepon itu tidak berdering lagi,

sejak beberapa bulan terakhir,

ia memeriksa berkali-kali,

memastikan tidak ada yang salah.


Suatu hari ia menyadari,

bukan teleponnya yang rusak,

melainkan orang-orang yang dulu menelepon

sudah punya hidup mereka sendiri.


Ia tidak marah,

ia hanya menyadari

bahwa persahabatan juga butuh dirawat,

dan ia mulai menelepon mereka,

satu per satu.


116. Kursi di Ruang Tunggu


Di ruang tunggu itu ada kursi kosong,

selalu kosong, tidak pernah dipakai,

orang-orang menghindarinya,

mungkin karena ada cerita di baliknya.


Suatu hari seorang lelaki duduk di sana,

ia tidak peduli cerita apa pun,

ia hanya butuh duduk,

karena kakinya lelah.


Tidak terjadi apa-apa,

tidak ada hantu, tidak ada suara,

hanya kursi biasa,

dan ia menyadari

bahwa ketakutan sering hanya ada di kepala.


117. Foto yang Digantung Terbalik


Foto itu digantung terbalik,

sudah berbulan-bulan,

ia tidak memperbaikinya,

ia tidak ingin melihat wajahnya.


Suatu hari ia membalik foto itu,

melihat wajah-wajah di dalamnya,

dan tersenyum kecil,

karena waktu sudah cukup lama

untuk membuatnya bisa tersenyum.


Ia tidak menggantungnya lagi di dinding,

ia menyimpannya di album,

karena beberapa kenangan

lebih baik disimpan daripada dipajang.


118. Cangkir yang Sudah Retak


Cangkir itu retak di bagian dalam,

tidak terlihat dari luar,

tetapi kopi selalu merembes sedikit,

membuat meja selalu basah.


Ia tetap memakainya setiap pagi,

karena cangkir itu satu-satunya

yang ia bawa dari rumah lamanya.


Suatu hari cangkir itu pecah,

dan ia menangis,

bukan karena cangkirnya,

melainkan karena ia sadar

bahwa tidak ada yang benar-benar bisa dipertahankan.


119. Sapu Tangan yang Terlipat


Sapu tangan itu terlipat rapi di laci,

sudah bertahun-tahun tidak dibuka,

ia dulu milik seseorang yang ia cintai,

yang pergi tanpa pamit.


Suatu hari ia membuka lipatannya,

dan menemukan inisial yang disulam,

huruf-huruf kecil yang ia lupakan,

dan ia tersenyum.


Ia tidak menangis,

ia hanya melipatnya kembali,

dan menaruhnya di tempat yang berbeda,

karena beberapa hal

cukup dibuka sekali,

lalu disimpan dengan cara baru.


120. Pena yang Kehabisan Tinta


Pena itu kehabisan tinta,

ia menggores-gores di kertas,

tidak ada tulisan,

hanya bekas kosong.


Ia tidak membeli pena baru,

ia mencari tinta cadangan,

mengisi ulang pena itu,

dan menulis lagi.


Ternyata pena itu masih bisa dipakai,

ternyata ia tidak perlu membuangnya,

dan ia menyadari

bahwa banyak hal dalam hidup

hanya butuh diisi ulang,

bukan diganti.


121. Kunci yang Berkarat


Kunci itu berkarat di ujungnya,

sudah lama tidak dipakai,

ia lupa pintu mana yang dibuka,

ia lupa rumah mana yang dimiliki.


Suatu hari ia mencoba kunci itu,

di pintu rumah lamanya,

dan ternyata masih bisa dibuka,

meski rumahnya sudah kosong.


Ia masuk, duduk di lantai,

memandang dinding yang kosong,

dan tersenyum,

karena rumah itu masih ada,

dan ia juga masih ada.


122. Jam Tangan yang Terlalu Besar


Jam tangan itu terlalu besar,

diberikan ayahnya waktu ia masih kecil,

"Simpan, nanti kamu besar."


Ia menyimpannya bertahun-tahun,

sampai ia lupa,

sampai jam itu berhenti,

sampai tangannya sudah cukup besar.


Suatu hari ia memakainya,

jam itu pas di tangannya,

tetapi jarumnya tidak bergerak,

dan ia menyadari

bahwa beberapa hadiah

datang terlalu cepat,

dan kita hanya bisa memakainya

setelah kita siap.


123. Bunga yang Diberi Tanpa Alasan


Bunga itu diberikan tanpa alasan,

bukan ulang tahun, bukan anniversary,

hanya bunga biasa,

di hari biasa.


Ia tidak tahu harus berbuat apa,

ia tidak terbiasa menerima,

ia menaruhnya di vas,

dan memandanginya lama.


Bunga itu layu dalam beberapa hari,

tetapi ia menyimpan kelopaknya,

karena ia belajar

bahwa beberapa hal baik

datang tanpa alasan,

dan itu membuatnya lebih berharga.


124. Tas yang Terlalu Penuh


Tas itu penuh sekali,

sampai ritsletingnya sulit ditutup,

ia membawa terlalu banyak,

karena takut kekurangan.


Suatu hari tali tasnya putus,

isinya berhamburan di jalan,

ia memungut semuanya,

lalu memilih.


Ia menyadari,

hidup terlalu singkat

untuk membawa terla

lu banyak,

dan ia mulai belajar

membawa hanya yang penting.


125. Jendela yang Tidak Bisa Dibuka


Jendela itu macet,

sudah lama tidak bisa dibuka,

ia hanya bisa melihat keluar,

tidak bisa merasakan angin.


Suatu hari ia memanggil tukang,

memperbaiki engselnya,

dan jendela itu terbuka,

angin masuk, udara segar,

dan ia menangis.


Ternyata yang ia butuhkan

bukan jendela baru,

melainkan seseorang

yang mau memperbaiki

apa yang sudah lama rusak.


Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!