101. Kursi Lipat di Teras
Kursi lipat itu selalu ada di teras,
dibuka setiap sore, dilipat setiap malam,
seperti ritual kecil yang tidak pernah dijelaskan,
seperti doa yang tidak pernah diucapkan.
Tetangga mengira ia menunggu seseorang,
ia tidak membantah, juga tidak menjelaskan,
kadang ia hanya ingin duduk di sana,
melihat jalan, mendengar burung, bernapas.
Suatu hari kursi itu rusak,
engselnya patah, kainnya sobek,
ia tidak membeli yang baru,
ia hanya duduk di lantai teras.
Ternyata yang ia cari bukan kursinya,
melainkan kebiasaan berhenti sebentar,
dan ia bisa melakukannya di mana saja,
bahkan di lantai yang keras.
102. Buku Telepon Lama
Di laci ada buku telepon lama,
halamannya kuning, tulisannya pudar,
banyak nomor sudah tidak aktif,
banyak nama sudah tidak ia kenal.
Ia membukanya setiap beberapa tahun,
bukan untuk menelepon,
hanya untuk melihat nama-nama itu,
dan mengingat wajah-wajah di belakangnya.
Ada satu nama yang ia tandai,
sudah lama tidak ia hubungi,
ia ingin menelepon, tetapi tidak berani,
takut suaranya sudah berbeda,
takut ia sudah lupa.
Suatu hari ia menelepon juga,
dan suara di seberang berkata,
"Aku sudah lama menunggu telepon ini."
103. Sendok yang Bengkok
Sendok itu bengkok sejak lama,
ia tidak ingat bagaimana bisa,
mungkin karena dipakai mengaduk terlalu keras,
mungkin karena terjatuh.
Ia tidak membuangnya,
ia tetap memakainya setiap pagi,
karena sendok itu satu-satunya
yang ia bawa dari rumah lamanya.
Suatu hari tamu bertanya,
"Kenapa tidak beli sendok baru?"
Ia tersenyum. "Karena sendok ini
masih bisa mengaduk kopi,
dan itu sudah cukup."
104. Jam Weker yang Berisik
Jam weker itu berisik sekali,
berdering setiap pagi pukul lima,
ia sudah lama tidak memakainya,
tetapi tidak membuangnya.
Suatu hari ia bangun kesiangan,
dan terlambat ke tempat kerja,
ia mencari jam itu di laci,
memasang baterai baru,
dan membiarkannya berdering lagi.
Ternyata suara berisik itu
bukan gangguan,
melainkan pengingat,
bahwa hidup butuh sesuatu
yang membangunkan kita.
105. Kaus Oblong yang Bolong
Kaus oblong itu bolong di bagian siku,
sudah terlalu tua untuk dipakai keluar,
tetapi ia tetap menyimpannya,
memakainya hanya di rumah.
Ia pernah mencoba membuangnya,
tetapi tangannya berhenti,
karena kaus itu mengingatkannya
pada seseorang yang pernah memberikannya.
Suatu hari ia memakainya tidur,
dan bermimpi tentang masa itu,
dan paginya ia tersenyum,
karena kenangan tidak perlu sempurna
untuk tetap berharga.
106. Piring yang Retak
Piring itu retak di tepinya,
sudah tidak aman untuk makanan panas,
tetapi ia tetap menyimpannya di rak,
di antara piring-piring baru.
Ia tidak memakainya untuk tamu,
hanya untuk dirinya sendiri,
karena piring itu satu set
dengan piring yang dulu dipakai ibunya.
Suatu hari piring itu pecah,
dan ia menangis lama,
bukan karena piringnya,
melainkan karena ia sadar
bahwa tidak ada yang bisa disimpan selamanya.
107. Sepatu Sandal yang Hilang Sebelah
Sandal itu tinggal sebelah,
pasangannya hilang entah di mana,
ia menyimpannya di bawah rak,
berharap suatu hari menemukan yang lain.
Bertahun-tahun sandal itu di sana,
berdebu, terlupakan,
sampai suatu hari ia membersihkan rak,
dan menemukan sandal itu.
Ia tertawa sendiri,
lalu membuangnya,
karena ia sadar
tidak semua yang hilang harus dicari,
kadang cukup diakui bahwa ia pernah ada.
108. Kertas yang Terlipat di Buku
Di dalam buku ada kertas terlipat,
sudah bertahun-tahun tidak dibuka,
ia lupa apa isinya,
ia takut membukanya.
Suatu hari ia membuka kertas itu,
isinya hanya daftar belanja,
dari tahun ketika ia masih kuliah,
dan ia tertawa.
Ternyata yang ia takutkan
bukan isi kertasnya,
melainkan perasaan yang mungkin muncul,
dan ternyata tidak muncul,
dan itu melegakan.
109. Kunci Gitar yang Putus
Senar gitar itu putus di tengah lagu,
ia berhenti bermain, meletakkan gitar,
ia tidak mengganti senarnya,
ia tidak menyentuh gitar itu lagi.
Bertahun-tahun gitar itu di sudut kamar,
berdebu, sunyi, seperti monumen,
sampai suatu hari anak tetangga bertanya,
"Boleh aku belajar?"
Ia membersihkan gitar itu,
mengganti senarnya,
dan mengajarkan akord pertama,
dan gitar itu kembali hidup,
meski bukan dengan tangannya.
110. Kursi Taman yang Ditinggal
Kursi itu ada di taman kecil,
catnya mengelupas, kakinya goyang,
tidak ada yang memperbaiki,
tidak ada yang duduk.
Suatu hari seorang perempuan tua datang,
membawa kuas dan cat hijau,
ia mengecat kursi itu sendiri,
meski tangannya gemetar.
Ketika selesai, ia duduk di sana,
memandang taman yang sepi,
dan tersenyum. Ternyata kursi itu
bukan menunggu untuk diperbaiki,
melainkan menunggu seseorang
yang mau duduk di atasnya.
111. Lilin yang Hampir Habis
Lilin itu hampir habis,
tinggal sedikit, sumbunya menghitam,
ia menyalakannya setiap malam,
meski tahu ia akan segera padam.
Suatu malam lilin itu benar-benar habis,
dan ruangan terasa lebih gelap,
ia tidak menyalakan lilin baru,
ia hanya duduk dalam gelap.
Ternyata gelap tidak selalu menakutkan,
kadang ia hanya mengingatkan,
bahwa cahaya yang kita miliki
tidak selamanya ada,
dan kita harus belajar
untuk menjadi cahaya itu sendiri.
112. Koper di Atas Lemari
Koper itu di atas lemari sejak lama,
sudah berdebu, ritsletingnya macet,
ia dulu dipakai untuk pergi jauh,
ke tempat yang belum pernah ia kenal.
Ia tidak membawanya turun,
tidak membukanya,
hanya melihatnya dari bawah,
seperti melihat pintu yang belum dibuka.
Suatu hari ia menurunkan koper itu,
membersihkannya, dan membukanya,
isinya kosong,
dan ia menyadari
bahwa koper itu menunggu untuk diisi,
bukan untuk diingat.
113. Lampu Meja yang Mati
Lampu meja itu mati,
bohlamnya putus, kabelnya aus,
ia bekerja di bawah cahaya ponsel,
merasa matanya cepat lelah.
Suatu hari ia membeli bohlam baru,
memasangnya sendiri,
menyalakan lampu itu,
dan ruangan terasa berbeda.
Ia menyadari,
bukan lampunya yang salah,
melainkan dirinya yang terlalu lama
membiarkan sesuatu mati,
padahal ia bisa memperbaikinya.
114. Buku yang Basah Kena Hujan
Buku itu basah kena hujan,
halamannya mengerut, tulisannya luntur,
ia menjemurnya di bawah matahari,
berharap bisa menyelamatkannya.
Buku itu tidak pernah kembali seperti semula,
halaman-halamannya tetap mengerut,
tetapi ia tetap membacanya,
karena isinya masih bisa dipahami.
Ternyata tidak semua yang rusak
kehilangan nilainya,
kadang kerusakan itu
membuat kita lebih menghargainya.
115. Telepon yang Tidak Berdering
Telepon itu tidak berdering lagi,
sejak beberapa bulan terakhir,
ia memeriksa berkali-kali,
memastikan tidak ada yang salah.
Suatu hari ia menyadari,
bukan teleponnya yang rusak,
melainkan orang-orang yang dulu menelepon
sudah punya hidup mereka sendiri.
Ia tidak marah,
ia hanya menyadari
bahwa persahabatan juga butuh dirawat,
dan ia mulai menelepon mereka,
satu per satu.
116. Kursi di Ruang Tunggu
Di ruang tunggu itu ada kursi kosong,
selalu kosong, tidak pernah dipakai,
orang-orang menghindarinya,
mungkin karena ada cerita di baliknya.
Suatu hari seorang lelaki duduk di sana,
ia tidak peduli cerita apa pun,
ia hanya butuh duduk,
karena kakinya lelah.
Tidak terjadi apa-apa,
tidak ada hantu, tidak ada suara,
hanya kursi biasa,
dan ia menyadari
bahwa ketakutan sering hanya ada di kepala.
117. Foto yang Digantung Terbalik
Foto itu digantung terbalik,
sudah berbulan-bulan,
ia tidak memperbaikinya,
ia tidak ingin melihat wajahnya.
Suatu hari ia membalik foto itu,
melihat wajah-wajah di dalamnya,
dan tersenyum kecil,
karena waktu sudah cukup lama
untuk membuatnya bisa tersenyum.
Ia tidak menggantungnya lagi di dinding,
ia menyimpannya di album,
karena beberapa kenangan
lebih baik disimpan daripada dipajang.
118. Cangkir yang Sudah Retak
Cangkir itu retak di bagian dalam,
tidak terlihat dari luar,
tetapi kopi selalu merembes sedikit,
membuat meja selalu basah.
Ia tetap memakainya setiap pagi,
karena cangkir itu satu-satunya
yang ia bawa dari rumah lamanya.
Suatu hari cangkir itu pecah,
dan ia menangis,
bukan karena cangkirnya,
melainkan karena ia sadar
bahwa tidak ada yang benar-benar bisa dipertahankan.
119. Sapu Tangan yang Terlipat
Sapu tangan itu terlipat rapi di laci,
sudah bertahun-tahun tidak dibuka,
ia dulu milik seseorang yang ia cintai,
yang pergi tanpa pamit.
Suatu hari ia membuka lipatannya,
dan menemukan inisial yang disulam,
huruf-huruf kecil yang ia lupakan,
dan ia tersenyum.
Ia tidak menangis,
ia hanya melipatnya kembali,
dan menaruhnya di tempat yang berbeda,
karena beberapa hal
cukup dibuka sekali,
lalu disimpan dengan cara baru.
120. Pena yang Kehabisan Tinta
Pena itu kehabisan tinta,
ia menggores-gores di kertas,
tidak ada tulisan,
hanya bekas kosong.
Ia tidak membeli pena baru,
ia mencari tinta cadangan,
mengisi ulang pena itu,
dan menulis lagi.
Ternyata pena itu masih bisa dipakai,
ternyata ia tidak perlu membuangnya,
dan ia menyadari
bahwa banyak hal dalam hidup
hanya butuh diisi ulang,
bukan diganti.
121. Kunci yang Berkarat
Kunci itu berkarat di ujungnya,
sudah lama tidak dipakai,
ia lupa pintu mana yang dibuka,
ia lupa rumah mana yang dimiliki.
Suatu hari ia mencoba kunci itu,
di pintu rumah lamanya,
dan ternyata masih bisa dibuka,
meski rumahnya sudah kosong.
Ia masuk, duduk di lantai,
memandang dinding yang kosong,
dan tersenyum,
karena rumah itu masih ada,
dan ia juga masih ada.
122. Jam Tangan yang Terlalu Besar
Jam tangan itu terlalu besar,
diberikan ayahnya waktu ia masih kecil,
"Simpan, nanti kamu besar."
Ia menyimpannya bertahun-tahun,
sampai ia lupa,
sampai jam itu berhenti,
sampai tangannya sudah cukup besar.
Suatu hari ia memakainya,
jam itu pas di tangannya,
tetapi jarumnya tidak bergerak,
dan ia menyadari
bahwa beberapa hadiah
datang terlalu cepat,
dan kita hanya bisa memakainya
setelah kita siap.
123. Bunga yang Diberi Tanpa Alasan
Bunga itu diberikan tanpa alasan,
bukan ulang tahun, bukan anniversary,
hanya bunga biasa,
di hari biasa.
Ia tidak tahu harus berbuat apa,
ia tidak terbiasa menerima,
ia menaruhnya di vas,
dan memandanginya lama.
Bunga itu layu dalam beberapa hari,
tetapi ia menyimpan kelopaknya,
karena ia belajar
bahwa beberapa hal baik
datang tanpa alasan,
dan itu membuatnya lebih berharga.
124. Tas yang Terlalu Penuh
Tas itu penuh sekali,
sampai ritsletingnya sulit ditutup,
ia membawa terlalu banyak,
karena takut kekurangan.
Suatu hari tali tasnya putus,
isinya berhamburan di jalan,
ia memungut semuanya,
lalu memilih.
Ia menyadari,
hidup terlalu singkat
untuk membawa terla
lu banyak,
dan ia mulai belajar
membawa hanya yang penting.
125. Jendela yang Tidak Bisa Dibuka
Jendela itu macet,
sudah lama tidak bisa dibuka,
ia hanya bisa melihat keluar,
tidak bisa merasakan angin.
Suatu hari ia memanggil tukang,
memperbaiki engselnya,
dan jendela itu terbuka,
angin masuk, udara segar,
dan ia menangis.
Ternyata yang ia butuhkan
bukan jendela baru,
melainkan seseorang
yang mau memperbaiki
apa yang sudah lama rusak.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!