Updating your session…

150 Puisi

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 6

6 min read•Published Oct 13, 2026

126. Sepatu yang Terlalu Ketat


Sepatu itu terlalu ketat,

ia membelinya karena modelnya bagus,

ia memakainya meski kakinya sakit,

karena ia tidak ingin mengakui salah.


Suatu hari ia melepasnya di jalan,

berjalan tanpa alas kaki,

dan merasa lebih baik,

meski orang-orang melihatnya aneh.


Ia menyadari,

kenyamanan lebih penting

dari penampilan,

dan ia membeli sepatu baru

yang tidak terlalu bagus,

tetapi pas.


127. Kursi yang Terlalu Rendah


Kursi itu terlalu rendah,

ia duduk di sana setiap hari,

punggungnya sakit,

tetapi ia tidak mengeluh.


Suatu hari tamunya bertanya,

"Kenapa tidak ganti kursi?"


Ia tersenyum. "Kursi ini

diberikan nenekku,

dan aku tidak ingin melupakannya."


Tamu itu duduk di kursi lain,

dan mereka bicara lama,

dan ia menyadari

bahwa kursi rendah itu

bukan tentang duduk,

melainkan tentang mengingat.


128. Meja yang Terlalu Kecil


Meja itu terlalu kecil,

hanya cukup untuk satu piring,

tetapi ia tetap memakainya,

meski rumahnya besar.


Suatu hari tamu datang,

dan mereka harus makan di lantai,

ia merasa malu,

tetapi tamunya tertawa.


"Meja kecil itu

membuat kita lebih dekat,"

kata tamunya,

dan ia menyadari

bahwa ukuran tidak menentukan kehangatan.


129. Lampu yang Terlalu Terang


Lampu itu terlalu terang,

membuat matanya sakit,

tetapi ia tidak menggantinya,

karena ia takut gelap.


Suatu hari lampu itu mati,

dan ia duduk dalam gelap,

dan ternyata tidak apa-apa.


Ia menyadari,

gelap bukan musuh,

ia hanya ruang

untuk beristirahat dari cahaya,

dan ia mulai belajar

menyalakan lampu yang lebih redup.


130. Buku yang Terlalu Tebal


Buku itu terlalu tebal,

ia tidak pernah menyelesaikannya,

ia selalu berhenti di tengah,

lalu memulai buku lain.


Suatu hari ia memutuskan

untuk menyelesaikan buku itu,

meski butuh berbulan-bulan,

meski membosankan.


Ketika selesai,

ia merasa seperti menaklukkan sesuatu,

dan ia menyadari

bahwa tidak semua hal harus dinikmati,

beberapa hal hanya harus diselesaikan.


131. Pena yang Terlalu Tajam


Pena itu terlalu tajam,

kertasnya sobek setiap kali,

ia menulis dengan hati-hati,

tetapi tetap saja sobek.


Suatu hari ia menulis dengan pena lain,

yang ujungnya tumpul,

dan tulisannya tidak terlalu jelas,

tetapi kertasnya utuh.


Ia menyadari,

kadang yang tajam

bukan yang terbaik,

dan kelembutan

sering lebih efektif dari ketajaman.


132. Kertas yang Terlalu Tipis


Kertas itu terlalu tipis,

tinta tembus ke halaman berikutnya,

ia mencoba menulis dengan pensil,

tetapi tetap meninggalkan bekas.


Suatu hari ia menerima kenyataan,

bahwa setiap tulisan

akan meninggalkan bekas,

dan ia mulai menulis

tanpa takut merusak halaman berikutnya.


133. Lem yang Terlalu Kuat


Lem itu terlalu kuat,

ketika ia ingin melepas,

buku itu sobek,

halamannya rusak.


Ia menyesal,

ia seharusnya memakai lem yang lebih lembut,

ia seharusnya lebih berhati-hati.


Ternyata tidak semua yang kuat itu baik,

kadang yang kuat

justru merusak,

dan ia belajar untuk lebih lembut

pada hal-hal yang rapuh.


134. Gunting yang Terlalu Tumpul


Gunting itu tumpul,

tidak bisa memotong kertas,

ia memaksanya,

tetapi malah merusak.


Suatu hari ia mengasah gunting itu,

dan gunting itu kembali tajam,

dan ia menyadari

bahwa tidak semua alat rusak,

kadang mereka hanya butuh diasah.


135. Penghapus yang Terlalu Kecil


Penghapus itu terlalu kecil,

sudah hampir habis,

ia menyimpannya,

tidak ingin membuangnya.


Suatu hari ia menulis salah,

dan penghapus itu tidak bisa menghapus,

ia menyesal tidak membeli yang baru.


Ia menyadari,

kadang kita menahan sesuatu

karena sentimental,

padahal kita butuh yang baru

untuk melanjutkan.


136. Buku Catatan yang Sobek


Buku catatan itu sobek di tengah,

halamannya hilang,

ia tidak ingat apa yang dulu ditulis,

ia hanya ingat rasanya.


Suatu hari ia menemukan halaman itu,

terlipat di dalam buku lain,

dan membaca tulisannya,

dan tersenyum,

karena yang hilang ternyata tidak hilang,

hanya berpindah tempat.


137. Cangkir yang Terlalu Panas


Cangkir itu terlalu panas,

tangannya melepuh,

ia menaruhnya di meja,

menunggu dingin.


Suatu hari ia terlalu buru-buru,

dan kopinya tumpah,

membasahi meja, membasahi buku,

ia menyesal.


Ternyata kesabaran

bukan tentang menunggu,

melainkan tentang tidak terburu-buru,

dan ia belajar memegang cangkir

dengan serbet.


138. Kursi yang Terlalu Tinggi


Kursi itu terlalu tinggi,

kakinya tidak sampai ke lantai,

ia duduk di sana,

merasa seperti anak kecil.


Suatu hari ia mengambil bangku,

meletakkannya di bawah kaki,

dan duduk dengan nyaman,

dan ia menyadari

bahwa kita bisa menyesuaikan diri

tanpa harus mengubah segalanya.


139. Meja yang Terlalu Licin


Meja itu terlalu licin,

buku selalu jatuh,

ia kesal,

ia ingin mengganti mejanya.


Suatu hari ia menaruh kain di bawah buku,

dan buku itu tidak jatuh lagi,

dan ia menyadari

bahwa masalah kecil

sering diselesaikan

dengan solusi kecil.


140. Lampu yang Terlalu Redup


Lampu itu terlalu redup,

ia tidak bisa membaca,

ia ingin menggantinya,

tetapi ia takut.


Suatu hari ia duduk di dekat lampu itu,

dan ternyata matanya terbiasa,

dan ia bisa membaca,

meski tidak sempurna.


Ternyata kita lebih adaptif

dari yang kita kira,

dan yang kita takutkan

sering tidak seburuk bayangan kita.


141. Buku yang Terlalu Berat


Buku itu terlalu berat,

ia tidak bisa membawanya ke mana-mana,

ia hanya membacanya di rumah,

di meja yang sama.


Suatu hari ia membeli e-book,

dan buku itu jadi ringan,

tetapi ia merindukan

beratnya di tangannya,

dan halaman yang bisa ia sentuh.


Ternyata kemudahan

tidak selalu lebih baik,

dan beberapa hal

layak diperjuangkan meski berat.


142. Pena yang Terlalu Berat


Pena itu terlalu berat,

tangannya cepat lelah,

ia ingin menggantinya,

tetapi pena itu mahal.


Suatu hari ia menulis dengan pena itu,

dan meski lelah,

tulisannya lebih rapi,

lebih hati-hati,

lebih berarti.


Ternyata beban

bisa membuat kita lebih fokus,

dan ia mulai menyukai

beratnya pena itu.


143. Kertas yang Terlalu Kecil


Kertas itu terlalu kecil,

tidak cukup untuk menulis panjang,

ia menulis pendek-pendek,

hanya yang penting.


Suatu hari ia menemukan kertas itu,

dan membaca tulisannya,

dan menyadari

bahwa tulisan pendek itu

jauh lebih bermakna

dari tulisan panjangnya.


144. Lem yang Terlalu Lemah


Lem itu terlalu lemah,

kertasnya lepas,

ia menempel ulang,

tetapi tetap lepas.


Suatu hari ia memakai lem lain,

yang lebih kuat,

dan kertas itu menempel,

tetapi ia merindukan

lem yang lemah itu,

karena itu satu-satunya

yang ia punya saat itu.


145. Gunting yang Terlalu Tajam


Gunting itu terlalu tajam,

ia memotong lebih dari yang ia inginkan,

ia menyesal,

ia ingin gunting yang tumpul.


Suatu hari ia memotong dengan hati-hati,

dan hasilnya rapi,

dan ia menyadari

bahwa ketajaman

bukan tentang alatnya,

melainkan tentang tangan yang memegang.


146. Penghapus yang Terlalu Besar


Penghapus itu terlalu besar,

sulit dipakai,

ia ingin yang kecil,

tetapi ia tidak membuangnya.


Suatu hari ia memotong penghapus itu,

menjadi dua,

dan keduanya berguna,

dan ia menyadari

bahwa tidak semua yang besar harus dibuang,

kadang ia hanya perlu dibagi.


147. Buku Catatan yang Terlalu Tebal


Buku catatan itu terlalu tebal,

ia tidak pernah menyelesaikannya,

ia selalu memulai yang baru,

dan meninggalkan yang lama.


Suatu hari ia kembali ke buku lama,

dan membaca halaman-halamannya,

dan menyadari

bahwa pemikiran lamanya

masih relevan,

dan ia mulai menghargai

apa yang pernah ia tulis.


148. Cangkir yang Terlalu Kecil


Cangkir itu terlalu kecil,

kopinya cepat habis,

ia ingin yang besar,

tetapi cangkir itu hadiah.


Suatu hari ia menuang kopi di cangkir itu,

dan menikmatinya perlahan,

dan menyadari

bahwa cangkir kecil

membuat kopinya lebih berharga.


149. Kursi yang Terlalu Keras


Kursi itu terlalu keras,

duduk lama membuat sakit,

ia ingin yang empuk,

tetapi kursi itu milik neneknya.


Suatu hari ia menaruh bantal di atasnya,

dan kursi itu jadi nyaman,

dan ia menyadari

bahwa kita bisa mengubah sesuatu

tanpa menggantinya.


150. Lampu yang Terlalu Terang di Malam Hari


Lampu itu terlalu terang di malam hari,

ia tidak bisa tidur,

ia ingin mematikannya,

tetapi ia takut gelap.


Suatu hari ia mematikannya,

dan gelap itu tidak menakutkan,

ia hanya sunyi,

dan dalam sunyi itu

ia mendengar napasnya sendiri,

dan ia menyadari

bahwa ia masih hidup,

dan itu cukup.

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!