126. Sepatu yang Terlalu Ketat
Sepatu itu terlalu ketat,
ia membelinya karena modelnya bagus,
ia memakainya meski kakinya sakit,
karena ia tidak ingin mengakui salah.
Suatu hari ia melepasnya di jalan,
berjalan tanpa alas kaki,
dan merasa lebih baik,
meski orang-orang melihatnya aneh.
Ia menyadari,
kenyamanan lebih penting
dari penampilan,
dan ia membeli sepatu baru
yang tidak terlalu bagus,
tetapi pas.
127. Kursi yang Terlalu Rendah
Kursi itu terlalu rendah,
ia duduk di sana setiap hari,
punggungnya sakit,
tetapi ia tidak mengeluh.
Suatu hari tamunya bertanya,
"Kenapa tidak ganti kursi?"
Ia tersenyum. "Kursi ini
diberikan nenekku,
dan aku tidak ingin melupakannya."
Tamu itu duduk di kursi lain,
dan mereka bicara lama,
dan ia menyadari
bahwa kursi rendah itu
bukan tentang duduk,
melainkan tentang mengingat.
128. Meja yang Terlalu Kecil
Meja itu terlalu kecil,
hanya cukup untuk satu piring,
tetapi ia tetap memakainya,
meski rumahnya besar.
Suatu hari tamu datang,
dan mereka harus makan di lantai,
ia merasa malu,
tetapi tamunya tertawa.
"Meja kecil itu
membuat kita lebih dekat,"
kata tamunya,
dan ia menyadari
bahwa ukuran tidak menentukan kehangatan.
129. Lampu yang Terlalu Terang
Lampu itu terlalu terang,
membuat matanya sakit,
tetapi ia tidak menggantinya,
karena ia takut gelap.
Suatu hari lampu itu mati,
dan ia duduk dalam gelap,
dan ternyata tidak apa-apa.
Ia menyadari,
gelap bukan musuh,
ia hanya ruang
untuk beristirahat dari cahaya,
dan ia mulai belajar
menyalakan lampu yang lebih redup.
130. Buku yang Terlalu Tebal
Buku itu terlalu tebal,
ia tidak pernah menyelesaikannya,
ia selalu berhenti di tengah,
lalu memulai buku lain.
Suatu hari ia memutuskan
untuk menyelesaikan buku itu,
meski butuh berbulan-bulan,
meski membosankan.
Ketika selesai,
ia merasa seperti menaklukkan sesuatu,
dan ia menyadari
bahwa tidak semua hal harus dinikmati,
beberapa hal hanya harus diselesaikan.
131. Pena yang Terlalu Tajam
Pena itu terlalu tajam,
kertasnya sobek setiap kali,
ia menulis dengan hati-hati,
tetapi tetap saja sobek.
Suatu hari ia menulis dengan pena lain,
yang ujungnya tumpul,
dan tulisannya tidak terlalu jelas,
tetapi kertasnya utuh.
Ia menyadari,
kadang yang tajam
bukan yang terbaik,
dan kelembutan
sering lebih efektif dari ketajaman.
132. Kertas yang Terlalu Tipis
Kertas itu terlalu tipis,
tinta tembus ke halaman berikutnya,
ia mencoba menulis dengan pensil,
tetapi tetap meninggalkan bekas.
Suatu hari ia menerima kenyataan,
bahwa setiap tulisan
akan meninggalkan bekas,
dan ia mulai menulis
tanpa takut merusak halaman berikutnya.
133. Lem yang Terlalu Kuat
Lem itu terlalu kuat,
ketika ia ingin melepas,
buku itu sobek,
halamannya rusak.
Ia menyesal,
ia seharusnya memakai lem yang lebih lembut,
ia seharusnya lebih berhati-hati.
Ternyata tidak semua yang kuat itu baik,
kadang yang kuat
justru merusak,
dan ia belajar untuk lebih lembut
pada hal-hal yang rapuh.
134. Gunting yang Terlalu Tumpul
Gunting itu tumpul,
tidak bisa memotong kertas,
ia memaksanya,
tetapi malah merusak.
Suatu hari ia mengasah gunting itu,
dan gunting itu kembali tajam,
dan ia menyadari
bahwa tidak semua alat rusak,
kadang mereka hanya butuh diasah.
135. Penghapus yang Terlalu Kecil
Penghapus itu terlalu kecil,
sudah hampir habis,
ia menyimpannya,
tidak ingin membuangnya.
Suatu hari ia menulis salah,
dan penghapus itu tidak bisa menghapus,
ia menyesal tidak membeli yang baru.
Ia menyadari,
kadang kita menahan sesuatu
karena sentimental,
padahal kita butuh yang baru
untuk melanjutkan.
136. Buku Catatan yang Sobek
Buku catatan itu sobek di tengah,
halamannya hilang,
ia tidak ingat apa yang dulu ditulis,
ia hanya ingat rasanya.
Suatu hari ia menemukan halaman itu,
terlipat di dalam buku lain,
dan membaca tulisannya,
dan tersenyum,
karena yang hilang ternyata tidak hilang,
hanya berpindah tempat.
137. Cangkir yang Terlalu Panas
Cangkir itu terlalu panas,
tangannya melepuh,
ia menaruhnya di meja,
menunggu dingin.
Suatu hari ia terlalu buru-buru,
dan kopinya tumpah,
membasahi meja, membasahi buku,
ia menyesal.
Ternyata kesabaran
bukan tentang menunggu,
melainkan tentang tidak terburu-buru,
dan ia belajar memegang cangkir
dengan serbet.
138. Kursi yang Terlalu Tinggi
Kursi itu terlalu tinggi,
kakinya tidak sampai ke lantai,
ia duduk di sana,
merasa seperti anak kecil.
Suatu hari ia mengambil bangku,
meletakkannya di bawah kaki,
dan duduk dengan nyaman,
dan ia menyadari
bahwa kita bisa menyesuaikan diri
tanpa harus mengubah segalanya.
139. Meja yang Terlalu Licin
Meja itu terlalu licin,
buku selalu jatuh,
ia kesal,
ia ingin mengganti mejanya.
Suatu hari ia menaruh kain di bawah buku,
dan buku itu tidak jatuh lagi,
dan ia menyadari
bahwa masalah kecil
sering diselesaikan
dengan solusi kecil.
140. Lampu yang Terlalu Redup
Lampu itu terlalu redup,
ia tidak bisa membaca,
ia ingin menggantinya,
tetapi ia takut.
Suatu hari ia duduk di dekat lampu itu,
dan ternyata matanya terbiasa,
dan ia bisa membaca,
meski tidak sempurna.
Ternyata kita lebih adaptif
dari yang kita kira,
dan yang kita takutkan
sering tidak seburuk bayangan kita.
141. Buku yang Terlalu Berat
Buku itu terlalu berat,
ia tidak bisa membawanya ke mana-mana,
ia hanya membacanya di rumah,
di meja yang sama.
Suatu hari ia membeli e-book,
dan buku itu jadi ringan,
tetapi ia merindukan
beratnya di tangannya,
dan halaman yang bisa ia sentuh.
Ternyata kemudahan
tidak selalu lebih baik,
dan beberapa hal
layak diperjuangkan meski berat.
142. Pena yang Terlalu Berat
Pena itu terlalu berat,
tangannya cepat lelah,
ia ingin menggantinya,
tetapi pena itu mahal.
Suatu hari ia menulis dengan pena itu,
dan meski lelah,
tulisannya lebih rapi,
lebih hati-hati,
lebih berarti.
Ternyata beban
bisa membuat kita lebih fokus,
dan ia mulai menyukai
beratnya pena itu.
143. Kertas yang Terlalu Kecil
Kertas itu terlalu kecil,
tidak cukup untuk menulis panjang,
ia menulis pendek-pendek,
hanya yang penting.
Suatu hari ia menemukan kertas itu,
dan membaca tulisannya,
dan menyadari
bahwa tulisan pendek itu
jauh lebih bermakna
dari tulisan panjangnya.
144. Lem yang Terlalu Lemah
Lem itu terlalu lemah,
kertasnya lepas,
ia menempel ulang,
tetapi tetap lepas.
Suatu hari ia memakai lem lain,
yang lebih kuat,
dan kertas itu menempel,
tetapi ia merindukan
lem yang lemah itu,
karena itu satu-satunya
yang ia punya saat itu.
145. Gunting yang Terlalu Tajam
Gunting itu terlalu tajam,
ia memotong lebih dari yang ia inginkan,
ia menyesal,
ia ingin gunting yang tumpul.
Suatu hari ia memotong dengan hati-hati,
dan hasilnya rapi,
dan ia menyadari
bahwa ketajaman
bukan tentang alatnya,
melainkan tentang tangan yang memegang.
146. Penghapus yang Terlalu Besar
Penghapus itu terlalu besar,
sulit dipakai,
ia ingin yang kecil,
tetapi ia tidak membuangnya.
Suatu hari ia memotong penghapus itu,
menjadi dua,
dan keduanya berguna,
dan ia menyadari
bahwa tidak semua yang besar harus dibuang,
kadang ia hanya perlu dibagi.
147. Buku Catatan yang Terlalu Tebal
Buku catatan itu terlalu tebal,
ia tidak pernah menyelesaikannya,
ia selalu memulai yang baru,
dan meninggalkan yang lama.
Suatu hari ia kembali ke buku lama,
dan membaca halaman-halamannya,
dan menyadari
bahwa pemikiran lamanya
masih relevan,
dan ia mulai menghargai
apa yang pernah ia tulis.
148. Cangkir yang Terlalu Kecil
Cangkir itu terlalu kecil,
kopinya cepat habis,
ia ingin yang besar,
tetapi cangkir itu hadiah.
Suatu hari ia menuang kopi di cangkir itu,
dan menikmatinya perlahan,
dan menyadari
bahwa cangkir kecil
membuat kopinya lebih berharga.
149. Kursi yang Terlalu Keras
Kursi itu terlalu keras,
duduk lama membuat sakit,
ia ingin yang empuk,
tetapi kursi itu milik neneknya.
Suatu hari ia menaruh bantal di atasnya,
dan kursi itu jadi nyaman,
dan ia menyadari
bahwa kita bisa mengubah sesuatu
tanpa menggantinya.
150. Lampu yang Terlalu Terang di Malam Hari
Lampu itu terlalu terang di malam hari,
ia tidak bisa tidur,
ia ingin mematikannya,
tetapi ia takut gelap.
Suatu hari ia mematikannya,
dan gelap itu tidak menakutkan,
ia hanya sunyi,
dan dalam sunyi itu
ia mendengar napasnya sendiri,
dan ia menyadari
bahwa ia masih hidup,
dan itu cukup.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!