26. Kamar yang Baru Dicat
Dinding kamar itu dulu penuh foto,
sekarang hanya ada satu paku kosong,
ia mencabut semuanya kemarin malam,
lalu mengecat ulang dengan warna krem.
Awalnya terasa seperti kehilangan,
dinding kosong terasa terlalu sunyi,
tetapi pagi membawa cahaya berbeda,
dan kamar itu terasa lebih lapang.
Ia menyadari sesuatu yang sederhana,
bahwa ingatan tidak butuh ditempel di dinding,
ia cukup disimpan di tempat yang tepat,
lalu dibawa berjalan tanpa harus menyiksa.
27. Lagu yang Tak Selesai
Ada lagu yang selalu ia putar,
tapi tidak pernah sampai akhir,
karena bagian akhirnya
terlalu menyakitkan untuk didengar.
Bertahun-tahun ia menghindari menit terakhir,
memutar ulang dari awal setiap kali,
sampai suatu malam ia lupa menghentikannya,
dan lagu itu akhirnya selesai juga.
Ternyata tidak ada yang menghancurkan,
ternyata hanya sebuah nada panjang,
dan setelah itu sunyi,
dan setelah sunyi, ia bisa tidur.
28. Bunga di Meja Makan
Setiap minggu ia membeli bunga,
meski tidak ada yang akan melihatnya,
ia menaruhnya di meja makan,
di kursi yang selalu kosong.
Tetangganya bertanya kenapa repot,
ia hanya tersenyum dan berkata,
"Karena aku juga layak melihat yang indah."
Sejak itu ia tidak lagi menunggu tamu,
ia menata meja untuk dirinya sendiri,
dan rumah itu pelan-pelan
belajar kembali menjadi hidup.
29. Peta yang Digambar Tangan
Ia menggambar peta rumahnya,
bukan dengan garis lurus,
tetapi dengan kenangan,
setiap sudut diberi nama.
Dapur tempat ibunya menangis,
teras tempat ayahnya merokok,
kamar tempat ia pertama kali patah hati,
halaman tempat ia belajar berdiri.
Peta itu tidak berguna untuk perjalanan,
tetapi berguna untuk pulang,
karena kadang kita butuh melihat
dari mana kita berasal,
untuk tahu ke mana kita pergi.
30. Hujan di Bulan Desember
Desember selalu membawa hujan,
dan hujan selalu membawa namamu,
ia duduk di teras memegang kopi,
mendengarkan air jatuh di atap seng.
Dulu ia benci bulan ini,
karena Desember pernah mengambil sesuatu,
sekarang ia hanya duduk tenang,
membiarkan hujan bicara sendiri.
Ternyata waktu memang bekerja,
pelan, sabar, tanpa suara,
sampai hal yang dulu menyakitkan
berubah menjadi sesuatu yang biasa.
31. Kunci yang Tak Lagi Dipakai
Ada kunci di dalam laci,
sudah berkarat dan tak pernah dipakai,
dulu itu kunci rumah seseorang
yang pernah ia sebut masa depan.
Ia tidak membuangnya,
tapi juga tidak membawanya,
kunci itu tinggal di sana,
seperti janji yang tidak jadi ditepati.
Suatu hari ia memindahkan laci,
kunci itu jatuh dan hilang,
dan ia tidak mencari,
dan itu ternyata baik-baik saja.
32. Kafe yang Tutup Lebih Awal
Kafe itu tutup lebih awal malam ini,
lampunya mati satu per satu,
ia berdiri di luar dengan jaket tipis,
tidak tahu harus ke mana.
Dulu ia akan menelepon seseorang,
dulu ia akan menunggu di sini,
sekarang ia hanya berdiri sebentar,
lalu berjalan ke arah yang belum ia kenal.
Ternyata tidak apa-apa
tidak tahu harus ke mana,
kadang yang penting bukan tujuan,
melainkan keberanian melangkah.
33. Foto Lama di Buku
Di halaman dua ratus tujuh,
ada foto yang ia sembunyikan,
wajah yang dulu ia cintai,
tercetak kecil di sudut kanan.
Ia tidak membuang buku itu,
tapi juga tidak membukanya,
sampai suatu hari ia tidak sengaja menemukannya,
dan hanya tersenyum sebentar.
Ternyata kenangan bisa menua,
tanpa harus dibenci,
tanpa harus dirayakan,
cukup diakui pernah ada.
34. Pelabuhan Kecil
Di pelabuhan kecil itu,
ada perahu yang selalu bersandar,
tidak pergi, tidak juga pulang,
hanya bergoyang mengikuti ombak.
Seorang nelayan tua bercerita,
perahu itu dulu milik anaknya,
yang pergi ke kota dan tak kembali,
tetapi perahunya tetap ia rawat.
"Kalau aku biarkan perahu ini rusak,
berarti aku membiarkan harapku rusak,
dan aku belum siap untuk itu."
35. Buku Perpustakaan yang Terlambat
Buku itu dipinjam lima belas tahun lalu,
dendanya sudah lebih mahal dari bukunya,
ia membawanya kembali ke perpustakaan,
dengan tangan yang sedikit gemetar.
Pustakawan muda tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa, Pak, bukunya masih ada di sistem."
Ia duduk di kursi paling belakang,
membaca halaman yang dulu ia tandai,
ternyata isinya tidak lagi sama,
karena ia yang membacanya sudah berbeda.
36. Sepatu yang Ditinggal di Teras
Sepatu itu ditinggal di teras,
sudah seminggu tidak dipindahkan,
hujan membasahinya, matahari mengeringkannya,
tetapi tidak ada yang mengambilnya.
Ia tahu sepatu itu miliknya,
ia juga tahu kenapa ia membiarkannya di sana,
karena ia belum siap berjalan,
dan sepatu itu terlalu jujur.
Suatu pagi ia mengambilnya,
membersihkannya, dan memakainya lagi,
ternyata dunia tidak menunggu,
ternyata ia juga tidak mau terus menunggu.
37. Nyanyian Ibu di Dapur
Setiap pagi ibunya menyanyi di dapur,
lagu-lagu lama yang tidak ia mengerti,
ia dulu merasa itu biasa saja,
sampai suatu pagi suara itu berhenti.
Setelah ibunya pergi,
ia baru sadar bahwa dapur bisa sunyi,
dan ia mulai menyanyikan lagu yang sama,
meski suaranya tidak seindah ibunya.
Ternyata suara ibu tidak hilang,
ia hanya berpindah ke mulut anaknya,
menunggu untuk dinyanyikan lagi,
agar dapur kembali memiliki pagi.
38. Surat dari Kepala Sekolah
Surat itu datang terlambat dua puluh tahun,
isinya hanya pemberitahuan biasa,
tetapi ia membacanya berkali-kali,
karena di bawahnya ada catatan tangan.
"Anak ini punya masa depan,
tolong jangan menyerah padanya."
Ia dulu hampir putus sekolah,
dulu hampir percaya bahwa ia tidak bisa,
dan sekarang ia menyimpan surat itu,
di tempat yang bisa ia lihat setiap hari.
39. Bangku Taman yang Diperbaiki
Bangku itu rusak sejak lama,
papan-papannya lapuk dimakan usia,
tidak ada yang memperbaiki,
karena tidak ada yang peduli.
Suatu minggu seorang pemuda datang,
membawa palu, paku, dan cat,
ia memperbaikinya sendirian,
meski tidak ada yang memintanya.
Ketika selesai, ia duduk di sana,
memandang taman yang masih sepi,
lalu tersenyum karena ia sadar,
ia memperbaiki bangku untuk dirinya sendiri.
40. Radio Tua di Dapur
Radio itu masih menyala setiap pagi,
meski suaranya sudah sedikit serak,
ia menyalakannya sebelum memasak,
mendengarkan berita dan lagu lama.
Anak-anaknya bilang radio itu kuno,
bilang sudah waktunya diganti,
tetapi ia hanya tersenyum,
karena radio itu mengingatkannya pada seseorang.
Bukan karena lagunya,
bukan karena beritanya,
tetapi karena suara statik di sela-selanya,
terdengar seperti seseorang yang pernah ada.
41. Laut yang Tidak Pernah Sepi
Ia pergi ke laut ketika sedang bingung,
bukan untuk berenang atau berlibur,
hanya untuk melihat sesuatu
yang lebih besar dari masalahnya.
Ombak terus datang tanpa bertanya,
angin terus berhembus tanpa peduli,
dan untuk pertama kalinya
ia merasa kecil bukan berarti hina.
Ia pulang dengan baju berpasir,
dengan kepala yang lebih ringan,
karena laut tidak menyelesaikan apa pun,
tetapi ia mengajarkan cara bernapas.
42. Jalan Setapak di Belakang Sekolah
Ada jalan setapak di belakang sekolah,
yang hanya diketahui murid-murid tertentu,
tempat mereka bersembunyi dari guru,
tempat mereka berbagi rahasia kecil.
Dua puluh tahun kemudian,
ia kembali ke sana sendirian,
jalan itu masih ada, hanya lebih sempit,
dan rumputnya lebih tinggi dari dulu.
Ia berdiri sebentar,
teringat semua hal yang dulu terasa besar,
lalu tersenyum karena sekarang,
semuanya terasa seperti cerita.
43. Baju yang Masih Tergantung
Baju itu masih tergantung di lemari,
sudah lama tidak dipakai,
setiap kali ia membuka pintu,
ia melihatnya dan menutupnya lagi.
Suatu hari ia mengeluarkan baju itu,
mencium baunya yang sudah hilang,
lalu memasukkannya ke dalam kardus,
dan menyimpannya di gudang.
Bukan karena ia melupakan,
bukan karena ia berhenti peduli,
tetapi karena ia akhirnya mengerti,
beberapa hal harus disimpan, bukan dibuang.
44. Kopi yang Sudah Dingin
Kopi itu sudah dingin di meja,
ia lupa meminumnya sejak satu jam lalu,
terlalu sibuk memikirkan sesuatu
yang tidak bisa ia ubah.
Ia menuangnya ke wastafel,
membuat kopi baru, lalu duduk lagi,
kali ini ia minum perlahan,
membiarkan hangatnya kembali bekerja.
Ternyata kopi dingin bukan masalah,
yang jadi masalah adalah
ia terlalu lama duduk tanpa sadar,
bahwa hidup juga butuh diminum.
45. Pantai Pukul Lima Pagi
Mereka datang ke pantai pukul lima,
sebelum matahari menunjukkan wajahnya,
duduk di pasir tanpa bicara,
menunggu sesuatu yang pasti datang.
Ketika matahari akhirnya terbit,
ia menoleh dan melihat wajah-wajah itu,
teman-teman yang bertahan bertahun-tahun,
tanpa banyak janji, tanpa banyak kata.
Ternyata pagi tidak selalu tentang awal,
kadang tentang menyadari
bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian,
meski kita sering merasa begitu.
46. Kue yang Dibagi Dua
Ia membuat kue, lalu membaginya dua,
satu untuk dirinya, satu untuk tetangga,
meski mereka tidak pernah bicara,
selama bertahun-tahun hanya saling mengangguk.
Tetangga itu terkejut dan tersenyum,
lalu keesokan harinya mengirim sup,
lalu minggu berikutnya mengirim roti,
lalu akhirnya mereka bicara di pagar.
Ternyata tembok yang memisahkan rumah,
sama tingginya dengan tembok di hati,
dan satu kue kecil yang dibagi dua
bisa meruntuhkan keduanya sekaligus.
47. Sepeda Tua di Halaman
Sepeda itu sudah lama tidak dikayuh,
tetapi ia masih mencucinya setiap Sabtu,
mengelapnya, memeriksa rantainya,
meski ia tahu ia tidak akan pergi jauh.
Tetangga bertanya kenapa ia repot,
ia hanya menjawab, "karena ia pernah membawaku."
Suatu hari cucunya datang,
melihat sepeda itu dan berkata,
"Kakek, ajari aku naik sepeda ini."
Dan untuk pertama kalinya setelah lama,
sepeda itu kembali bergerak,
membawa tawa seorang anak kecil,
di jalan yang sama, dengan cerita baru.
48. Lilin di Malam Tahun Baru
Setiap tahun ia menyalakan lilin,
sendirian di meja makan,
bukan karena ia tidak punya teman,
tetapi karena ia ingin sendiri dulu.
Ia menulis satu hal yang ia syukuri,
satu hal yang ingin ia lepaskan,
lalu membakar kertasnya di nyala lilin,
dan menonton abunya terbang.
Ia tidak percaya takhayul,
ia hanya percaya bahwa manusia
butuh ritual kecil untuk mengingat,
bahwa waktu memang benar-benar bergerak.
49. Kursi Roda di Taman
Seorang kakek didorong cucunya,
setiap sore di taman yang sama,
mereka tidak banyak bicara,
hanya menikmati udara dan suara burung.
Suatu hari cucunya bertanya,
"Kakek, kamu sedih tidak harus duduk terus?"
Kakek itu tersenyum dan menjawab,
"Aku sedih dulu, waktu masih bisa jalan,
tetapi sekarang aku bahagia,
karena aku bisa melihat dunia
dari kursi yang tidak perlu aku khawatirkan lagi."
50. Cahaya di Ujung Gang
Di ujung gang ada lampu jalan,
menyala setiap malam tanpa alasan jelas,
tidak ada yang lewat, tidak ada yang butuh,
tetapi lampu itu tetap hidup.
Seorang lelaki tua pernah bilang,
dulu anaknya hilang di gang itu,
dan sejak itu ia memastikan lampu menyala,
supaya siapa pun yang tersesat,
tahu bahwa masih ada arah pulang.
Sekarang anaknya sudah kembali,
sudah besar, sudah punya anak,
tetapi lampu itu tetap dinyalakan,
karena ia tahu,
mungkin ada orang lain di luar sana,
yang juga sedang mencari jalan pulang.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!