1. Cermin di Ujung Lorong
Di ujung lorong ada cermin tua,
berdebu, retak di sudut kiri,
setiap orang yang lewat
melihat wajahnya sendiri
tetapi tidak semua berani berhenti.
Seorang gadis berhenti dan bertanya,
"Apakah aku cukup cantik?"
Cermin itu tidak menjawab.
Seorang lelaki berhenti dan bertanya,
"Apakah aku cukup berhasil?"
Cermin itu tetap diam.
Lalu datang seorang nenek tua,
ia hanya tersenyum pada cermin,
lalu berjalan pergi tanpa bertanya.
Cermin itu baru mengerti,
bahwa yang paling bahagia
bukan yang bertanya tentang dirinya,
melainkan yang sudah selesai
dengan pertanyaan itu.
2. Kursi Kosong di Ruang Tamu
Ada kursi kosong di ruang tamu,
sudah bertahun-tahun tidak diduduki,
setiap tamu bertanya,
"Kenapa tidak dibuang?"
Ia hanya menjawab pelan,
"Itu kursi ayahku."
Suatu hari anaknya duduk di sana,
tanpa bertanya, tanpa izin,
ia hanya duduk dan membaca buku,
dan kursi itu berderit seperti dulu.
Ia menangis di dapur,
bukan karena sedih,
tetapi karena ia baru sadar,
bahwa kursi itu tidak menunggu ayahnya,
ia menunggu seseorang
yang mau duduk di sana.
3. Sepasang Sepatu Baru
Sepatu itu kubeli tanpa rencana,
warnanya sederhana, ukurannya pas,
aku hanya ingin mencoba berjalan
ke tempat yang belum pernah kukenal.
Pagi membawa jalan yang berbeda,
gang sempit, pasar, dan suara kendaraan,
semakin jauh kakiku melangkah,
semakin kecil rasa takut di dada.
Ternyata dunia tidak sesempit kamar,
dan hidup tak selalu harus direncanakan,
kadang keberanian dimulai
dari sepasang sepatu dan langkah pertama.
4. Kursi di Bawah Pohon Mangga
Setiap sore seorang lelaki duduk,
di kursi tua bawah pohon mangga,
ia bukan sedang menunggu kekasih,
ia menunggu dirinya sendiri pulang.
Bertahun-tahun ia terlalu sibuk,
mengejar sesuatu yang tak pernah cukup,
sampai suatu hari ia sadar,
waktu ternyata berjalan tanpa menunggunya.
Kini ia membawa buku setiap sore,
membaca sambil mendengar angin,
dan untuk pertama kalinya ia merasa
hidup tak harus selalu dikejar.
5. Lampu di Balkon
Malam selalu datang tanpa suara,
meninggalkan kota dalam cahaya,
seorang gadis menyalakan lampu balkon
meski tak ada siapa pun yang datang.
Awalnya hanya kebiasaan kecil,
lalu seseorang di rumah seberang melihatnya,
mereka tak pernah saling mengenal,
hanya saling menyapa lewat cahaya.
Suatu malam lampu itu tak menyala,
dan untuk pertama kalinya ia merasa kehilangan,
bukan karena cinta yang besar,
tetapi karena sebuah cahaya kecil
ternyata telah membuat malam terasa lebih manusia.
6. Surat yang Tak Jadi Dikirim
Di laci tua tersimpan selembar surat,
ditulis ketika hati belum pandai menerima,
namamu masih memenuhi setiap baris,
bersama kalimat yang tak pernah selesai.
Bertahun-tahun surat itu tetap di sana,
sementara hidup terus berganti arah,
hari ini kubaca untuk terakhir kalinya,
lalu kusimpan tanpa keinginan mengirimkannya.
Ternyata ada perasaan yang cukup diselesaikan,
bukan dengan pertemuan atau jawaban,
melainkan dengan keberanian berkata dalam hati,
"aku sudah baik-baik saja tanpa kamu."
7. Kedai Kopi Pukul Enam
Setiap pagi ia datang paling awal,
memilih meja dekat jendela kecil,
memesan kopi tanpa banyak gula,
lalu membuka buku yang sama.
Pemilik kedai mengenalnya tanpa bertanya,
bahkan tahu kapan ia sedang ingin sendiri,
hari-hari berlalu dengan kebiasaan sederhana,
sampai suatu pagi kursi di depannya terisi.
Seorang perempuan tersenyum dan berkata,
"Boleh saya duduk di sini?"
Ia mengangguk pelan sambil tersenyum,
ternyata pagi juga bisa membawa awal baru.
8. Payung Merah di Halte
Hujan turun begitu tiba-tiba,
membuat orang-orang berlari mencari teduh,
seorang lelaki berdiri tanpa payung,
menunggu bus yang belum juga datang.
Kemudian seorang perempuan menghampiri,
membawa payung merah yang cukup besar,
mereka berdiri tanpa banyak bicara,
berbagi ruang di antara suara hujan.
Ketika bus akhirnya datang,
perempuan itu naik lebih dahulu,
hanya meninggalkan senyum dari balik kaca,
dan sebuah keberanian kecil untuk berkenalan.
9. Toko Buku yang Hampir Tutup
Toko itu berada di ujung gang,
pintunya tua dan catnya mulai pudar,
pemiliknya berkata akan segera tutup,
karena pembeli semakin jarang datang.
Seorang anak datang setiap sore,
selalu membeli buku paling murah,
ia membaca di tangga sebelum pulang,
seolah dunia hanya sebesar halaman buku.
Suatu hari anak itu membawa teman,
kemudian datang lagi bersama yang lain,
toko kecil itu akhirnya tetap menyala,
karena satu pembaca menemukan banyak pembaca.
10. Jam Tangan Ayah
Jam tangan itu sudah lama berhenti,
jarumnya membeku pada pukul sembilan,
ayah pernah berkata jangan membuangnya,
meski tak pernah menjelaskan alasannya.
Setelah bertahun-tahun baru kupahami,
jam itu berhenti pada hari terakhirnya bekerja,
hari ketika ia pulang membawa hadiah,
sebuah buku kecil untuk anaknya.
Kini jam itu tidak perlu diperbaiki,
karena ia menyimpan waktu yang berbeda,
bukan waktu yang berjalan di pergelangan,
melainkan waktu yang tinggal di ingatan.
11. Pohon yang Tumbuh Sendiri
Di belakang rumah ada pohon kecil,
tumbuh dari celah tanah yang sempit,
tak ada yang sengaja menanamnya,
namun ia tetap mencari cahaya.
Musim kemarau membuat daunnya jatuh,
hujan datang membawa kehidupan baru,
hari demi hari batangnya semakin kuat,
meski tak pernah mendapat perhatian.
Aku belajar sesuatu darinya,
tidak semua pertumbuhan membutuhkan tepuk tangan,
kadang cukup terus bertahan,
sampai waktunya dunia melihat kita tumbuh.
12. Tiket Kereta Sekali Jalan
Ia membeli tiket tanpa tahu tujuan,
hanya ingin meninggalkan kota sebentar,
membawa satu tas dan beberapa pakaian,
serta kepala yang terlalu penuh.
Kereta bergerak meninggalkan stasiun,
gedung-gedung berubah menjadi sawah,
untuk pertama kalinya ia menarik napas panjang,
tanpa memikirkan apa yang harus dikejar.
Ketika turun di kota asing,
ia tidak menemukan jawaban apa pun,
tetapi menemukan dirinya yang lama hilang,
dan itu sudah lebih dari cukup.
13. Pagi Setelah Hujan
Semalaman hujan mengetuk jendela,
membuat jalanan terlihat seperti cermin,
pagi datang dengan udara yang berbeda,
seolah kota baru saja dilahirkan kembali.
Seorang ibu membuka pintu rumah,
melihat genangan di halaman,
lalu memanggil anak-anaknya keluar,
mereka tertawa mengejar bayangan sendiri.
Ia tersenyum melihat mereka,
menyadari bahwa hidup memang begitu,
kadang badai datang tanpa izin,
tetapi pagi selalu punya kesempatan baru.
14. Buku Catatan Biru
Buku itu berwarna biru tua,
isinya penuh rencana yang tertunda,
belajar bahasa, membuka usaha,
bahkan pergi ke tempat yang belum dikenal.
Bertahun-tahun buku itu tersimpan,
tertutup debu di dalam lemari,
sampai suatu malam ia membukanya lagi,
dan membaca impian dirinya yang dulu.
Besok paginya ia mulai satu hal kecil,
bukan semua rencana sekaligus,
karena ternyata mimpi tidak pernah benar-benar pergi,
ia hanya menunggu seseorang kembali percaya.
15. Suara dari Rumah Sebelah
Setiap malam terdengar suara piano,
datang dari rumah yang jendelanya selalu tertutup,
nadanya sederhana dan sedikit berantakan,
tetapi selalu membuat malam terasa berbeda.
Suatu hari suara itu berhenti,
beberapa malam rumah sebelah gelap,
ia baru sadar betapa akrabnya suara tersebut,
meski tak pernah mengenal pemiliknya.
Seminggu kemudian piano kembali berbunyi,
kali ini dengan nada yang lebih ringan,
ia tersenyum dari balik jendela,
karena ternyata kehadiran tak selalu membutuhkan perkenalan.
16. Bangku Terakhir di Taman
Ia selalu memilih bangku terakhir,
jauh dari keramaian dan anak-anak,
membawa koran serta botol air,
lalu duduk sampai matahari turun.
Suatu sore seorang anak bertanya,
"Pak, kenapa selalu duduk sendiri?"
Ia tertawa kecil dan menjawab,
"Karena di sini aku bisa mendengar pikiranku."
Sejak hari itu anak tersebut datang lagi,
duduk di sampingnya tanpa banyak bicara,
dua orang dari usia berbeda belajar,
bahwa kesunyian pun bisa dibagi.
17. Kue yang Terlambat
Ia membuat kue ulang tahun sendirian,
meski tanggalnya sudah lewat dua hari,
bukan karena lupa membeli hadiah,
tetapi karena keberanian datang terlambat.
Selama bertahun-tahun ia takut gagal,
takut rasanya tidak enak atau bentuknya buruk,
akhirnya ia sadar sesuatu yang sederhana,
tidak semua hal harus sempurna untuk dimulai.
Kue itu memang sedikit gosong,
krimnya juga tidak rata,
tetapi malam itu ia tersenyum puas,
karena akhirnya ia membuat sesuatu untuk dirinya sendiri.
18. Jendela Nomor Tujuh
Di kamar nomor tujuh ada jendela kecil,
menghadap langsung ke halaman sekolah,
seorang anak selalu duduk di sana,
melihat teman-temannya bermain dari jauh.
Ia merasa dirinya berbeda,
terlalu takut untuk ikut bergabung,
sampai seorang teman mengetuk pintunya,
lalu mengajaknya bermain tanpa banyak bertanya.
Hari itu ia meninggalkan jendela,
berlari menuju halaman untuk pertama kali,
dan menyadari sesuatu yang penting,
kadang kita hanya perlu seseorang yang mengajak.
19. Sepeda Tua di Gudang
Sepeda itu penuh debu,
ban belakangnya bahkan sudah kempis,
dulu ia menggunakannya setiap pagi,
sebelum pekerjaan membuatnya berhenti.
Suatu akhir pekan ia membersihkannya,
mengisi ban dan memperbaiki rantainya,
kemudian mengayuh perlahan keluar rumah,
meski tubuhnya sudah tak sekuat dulu.
Jalan yang sama terasa berbeda,
bukan karena kota berubah,
tetapi karena kali ini ia mengendarainya,
tanpa terburu-buru mengejar waktu.
20. Hari Ketika Ia Memasak
Selama bertahun-tahun ia selalu membeli makanan,
karena menganggap memasak terlalu merepotkan,
sampai suatu sore rumah terasa begitu sepi,
dan ia ingin membuat sesuatu dengan tangannya sendiri.
Ia memotong bawang terlalu besar,
garamnya pun hampir kebanyakan,
namun aroma masakan memenuhi ruangan,
membuat rumah terasa seperti memiliki kehidupan.
Ia duduk menikmati hasil pertamanya,
meski rasanya belum sempurna,
dan untuk pertama kalinya setelah lama,
ia merasa mampu merawat dirinya sendiri.
21. Foto di Dalam Dompet
Ada satu foto kecil di dompetnya,
sudah kusam dan sudutnya terlipat,
wajah-wajah di dalamnya tersenyum,
seperti tidak pernah mengenal kehilangan.
Ia dulu takut melihat foto itu,
karena kenangan sering terasa berat,
tetapi waktu perlahan mengajarinya,
bahwa rindu tidak selalu harus menyakitkan.
Kini foto itu tetap ia bawa,
bukan untuk tinggal di masa lalu,
melainkan sebagai pengingat sederhana,
bahwa ia pernah dicintai dengan tulus.
22. Taman yang Ditinggalkan
Taman kecil itu pernah ramai,
anak-anak bermain setiap sore,
bangku-bangku penuh percakapan,
dan pedagang datang membawa jajanan.
Kemudian satu per satu orang pergi,
rumah-rumah berubah dan jalan semakin sepi,
seorang lelaki mulai membersihkan taman,
meski tak ada yang memintanya.
Beberapa minggu kemudian bunga bermekaran,
seorang anak datang membawa bola,
lalu anak-anak lain menyusul,
dan taman itu kembali memiliki suara.
23. Telepon Pukul Sepuluh
Telepon itu berbunyi pukul sepuluh malam,
nomornya sudah lama tidak tersimpan,
ia sempat ragu untuk mengangkatnya,
tetapi akhirnya menjawab dengan suara pelan.
Di seberang terdengar suara lama,
bukan untuk meminta kembali,
hanya ingin mengatakan terima kasih,
atas sesuatu yang pernah dilakukan bertahun lalu.
Percakapan itu berlangsung singkat,
tak ada janji dan tak ada penyesalan,
setelah telepon ditutup ia tersenyum,
karena ternyata beberapa perpisahan bisa berakhir damai.
24. Warung Tenda Biru
Di pinggir jalan ada warung tenda biru,
buka dari senja sampai tengah malam,
pemiliknya seorang perempuan tua,
yang tidak pernah bertanya kenapa orang datang.
Mahasiswa datang membawa laptop,
pekerja datang membawa lelah,
kurir datang membawa jaket basah,
semua duduk di kursi plastik yang sama.
Ia menyeduh teh dan menggoreng pisang,
mendengarkan cerita tanpa menyela,
dan ketika pagi akhirnya datang,
ia menutup tenda sambil tersenyum,
karena semalam ia telah menjadi rumah
bagi orang-orang yang tak sempat pulang.
25. Stasiun Kecil di Kota Tua
Stasiun itu hanya punya dua peron,
jamnya sering telat lima menit,
tapi seorang lelaki selalu datang awal,
duduk di bangku kayu paling ujung.
Ia bukan menunggu kereta,
ia menunggu keberanian,
untuk naik ke kereta yang sama
yang dulu membawanya pergi
dari seseorang yang tidak sempat ia minta maaf.
Suatu pagi ia akhirnya berdiri,
membeli tiket sekali jalan,
dan untuk pertama kalinya
ia tidak menoleh ke belakang.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!