Updating your session…

puisi sahabat

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 1

2 min read•Published Oct 19, 2026

1. SAHABAT DI UJUNG SENJA


Di ujung senja kita bercerita,

Tentang mimpi yang belum menjadi nyata,

Kau mendengar tanpa banyak bertanya,

Membuat hatiku kembali percaya.


Tak selalu jalan kita searah,

Kadang berbeda dalam memilih langkah,

Namun persahabatan tak mudah menyerah,

Meski pendapat membuat kita berselisih arah.


Jika esok jarak memisahkan,

Jangan biarkan kenangan kehilangan,

Sebab ketulusan tak membutuhkan ikatan,

Untuk tetap hidup dalam ingatan.


Wahai sahabat, simpanlah cerita,

Tentang tawa yang pernah kita punya,

Selama kebaikan tumbuh di dada,

Persahabatan tak akan kehilangan makna.


2. RUMAH KECIL BERNAMA PERSAHABATAN


Ada rumah tanpa pintu dan jendela,

Tempat hati beristirahat dari kecewa,

Tak dibangun batu atau permata,

Melainkan kejujuran yang menjaga rasa.


Di sana tangis tak dianggap lemah,

Kesalahan tak selalu berujung marah,

Setiap kekurangan diterima dengan ramah,

Setiap harapan dijaga agar tak punah.


Rumah itu tak mengenal kemewahan,

Tak meminta pangkat atau kedudukan,

Cukup kesetiaan dalam pertemanan,

Dan ketulusan dalam setiap perhatian.


Jika dunia terasa begitu asing,

Dan langkahmu kehilangan arah yang bening,

Ingatlah rumah yang tak pernah berpaling,

Persahabatan tulus yang selalu penting.


3. LANGKAH KECIL MENUJU IMPIAN


Aku berjalan membawa harapan,

Meski langkahku penuh keterbatasan,

Tak semua orang memahami tujuan,

Namun mimpi tetap kusimpan dalam genggaman.


Jalan panjang mengajarkan kesabaran,

Kegagalan datang membawa pelajaran,

Aku tak ingin kalah oleh keraguan,

Sebab masa depan menunggu perjuangan.


Biar perlahan kaki melangkah,

Biar sesekali hati merasa lelah,

Selama tekad belum berubah arah,

Aku akan bangkit setelah jatuh dan kalah.


Suatu hari ketika mimpi menjelma,

Aku ingin tersenyum mengingat semua,

Bahwa keberhasilan bukan sekadar mahkota,

Melainkan keberanian untuk terus mencoba.


4. HUJAN YANG MEMBAWA KENANGAN


Hujan turun di halaman rumah,

Membawa kenangan yang lama terpendam,

Tentang percakapan sederhana dan ramah,

Yang kini tinggal gema dalam malam.


Tetesnya jatuh di atas dedaunan,

Seolah mengetuk pintu ingatan,

Ada wajah yang hadir dalam bayangan,

Ada rindu yang tak meminta balasan.


Tak semua kenangan harus kembali,

Tak semua kehilangan perlu disesali,

Sebagian hadir untuk mengajari,

Bahwa waktu terus membawa kita pergi.


Biarlah hujan menyelesaikan cerita,

Membasuh debu di sudut jiwa,

Esok mentari mungkin menyapa,

Membawa harapan yang lebih bermakna.


5. IBU DAN DOA YANG SUNYI


Ibu menyebut namaku dalam doa,

Saat malam menyelimuti dunia,

Tak banyak kata yang ia pinta,

Hanya keselamatan bagi anak tercinta.


Tangannya menyimpan lelah kehidupan,

Wajahnya menyembunyikan banyak pengorbanan,

Ia tetap tersenyum dalam kesederhanaan,

Agar rumah dipenuhi ketenangan.


Aku mungkin belum mampu membalas,

Segala kasih yang tak pernah terbatas,

Namun namamu di hati terukir jelas,

Menjadi kekuatan saat hidup terasa keras.


Ibu, jika waktu terus berjalan,

Dan rambutmu perlahan kehilangan kehitaman,

Izinkan aku menjadi alasan,

Untuk senyummu bertahan sepanjang zaman.

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!