Updating your session…

Pantun jenaka

by hastag mantan

Volume 1

Chapter 3

5 min read•Published Oct 31, 2026

101. Ada kambing belajar menari,

Menari pelan di atas batu,

Katanya ingin hidup berseri,

Melihat tagihan langsung membisu.

102. Pergi ke pasar membeli duku,

Duku manis dibawa pulang,

Katanya ingin selalu rindu,

Tapi balas pesan tiga bulan kemudian.

103. Membeli kopi di pinggir jalan,

Kopi pahit tanpa gula,

Katanya ingin hidup berencana,

Rencana saja sering terlupa.

104. Ada bebek belajar memasak,

Memasak mi di dalam panci,

Katanya ingin tampil gagah,

Lihat cermin malah sembunyi.

105. Pergi ke pantai membawa topi,

Topi lebar melindungi kepala,

Katanya ingin hidup berapi,

Api semangat padam sebentar saja.

106. Membeli tahu di pasar pagi,

Tahu hangat dibawa pulang,

Katanya ingin hidup mandiri,

Cuci piring saja minta bantuan orang.

107. Ada tikus naik sepeda,

Mengayuh cepat menuju kota,

Katanya ingin hidup bahagia,

Lihat kucing langsung lupa segalanya.

108. Pergi ke toko membeli kertas,

Kertas putih untuk menulis,

Katanya ingin menjadi cerdas,

Tidur di kelas jadi kebiasaan manis.

109. Membeli manggis di hari Jumat,

Manggis manis dibawa pulang,

Katanya ingin hidup hemat,

Belanja online tetap jalan terus, kawan.

110. Ada burung belajar menyanyi,

Menyanyi merdu di atas dahan,

Katanya ingin menjadi pribadi,

Pribadi rajin masih jauh harapan.

111. Pergi ke sawah membawa caping,

Caping lebar melindungi kepala,

Katanya ingin hidup penting,

Lupa janji jadi masalah utama.

112. Membeli rambutan satu keranjang,

Rambutan merah manis rasanya,

Katanya ingin hidup tenang,

Grup chat ramai paling pertama dibaca.

113. Ada kelinci belajar menjahit,

Menjahit kain berwarna biru,

Katanya ingin hidup rapi,

Kamar sendiri seperti kapal karam selalu.

114. Pergi ke pasar membeli teri,

Teri asin dibawa pulang,

Katanya ingin hidup mandiri,

Minta uang saku masih jalan terus, kawan.

115. Membeli es kelapa di pinggir jalan,

Es kelapa segar rasanya,

Katanya ingin punya pasangan,

Lihat cermin malah ragu sendiri.

116. Ada monyet belajar menulis,

Menulis nama di atas batu,

Katanya ingin menjadi rajin,

Bangun pagi saja masih ragu.

117. Pergi ke kota membeli kue,

Kue manis berwarna merah,

Katanya ingin menjadi guru,

Mengajari diri sendiri masih menyerah.

118. Membeli sate ayam di pasar,

Sate manis diberi kecap,

Katanya ingin menjadi pintar,

Buku dibuka malah tertidur lelap.

119. Ada katak belajar berjalan,

Berjalan tegak seperti manusia,

Katanya ingin hidup nyaman,

Kerja sedikit sudah mengeluh pertama.

120. Pergi ke pantai mencari kerang,

Kerang kecil dibawa pulang,

Katanya ingin hidup tenang,

Lihat ombak langsung berteriak kencang.

121. Membeli roti di toko baru,

Roti hangat berisi keju,

Katanya ingin jadi nomor satu,

Bangun pagi saja masih ragu.

122. Ada sapi belajar menari,

Menari pelan di atas rumput,

Katanya ingin hidup berseri,

Melihat cicilan langsung terpuruk.

123. Pergi ke pasar membeli labu,

Labu besar dibawa pulang,

Katanya ingin hidup baru,

Kebiasaan lama masih dipertahankan.

124. Membeli jamu di pagi hari,

Jamu pahit diminum pelan,

Katanya ingin hidup mandiri,

Minta bantuan jadi kebiasaan.

125. Ada burung belajar terbang,

Terbang rendah di atas sawah,

Katanya ingin hidup tenang,

Masalah kecil jadi masalah besar pasrah.

126. Pergi ke toko membeli sendal,

Sendal baru berwarna biru,

Katanya ingin jadi teladan,

Contoh baik saja jarang dilaku.

127. Membeli nasi di warung lama,

Nasi hangat diberi ayam,

Katanya ingin hidup bersama,

Tapi komitmen saja masih belum, kawan.

128. Ada kucing belajar masak,

Memasak ikan di dalam wajan,

Katanya ingin hidup bijak,

Melihat tagihan langsung kebingungan.

129. Pergi ke sawah membawa cangkul,

Cangkul dipakai dengan semangat,

Katanya ingin hidup konsisten,

Besok lupa janji yang dibuat.

130. Membeli duku di tepi jalan,

Duku manis dibawa pulang,

Katanya ingin hidup berencana,

Rencana hilang saat godaan datang.

131. Ada bebek belajar berhitung,

Menghitung telur di dalam kandang,

Katanya ingin hidup beruntung,

Undian kalah terus, tetap tenang.

132. Pergi ke pasar membeli kacang,

Kacang goreng dibawa pulang,

Katanya ingin hidup tenang,

Berita gosip tetap paling depan.

133. Membeli kopi di kedai lama,

Kopi hangat ditemani roti,

Katanya ingin hidup bersama,

Tapi jadwal ketemu selalu tak jadi.

134. Ada kambing belajar bernyanyi,

Bernyanyi keras di atas bukit,

Katanya ingin hidup rapi,

Kamar berantakan jadi bukti.

135. Pergi ke pantai membawa bola,

Bola ditendang ke arah laut,

Katanya ingin hidup mulia,

Tapi kerja bakti selalu absen, kawan.

136. Membeli mangga di hari Minggu,

Mangga manis dibawa pulang,

Katanya ingin hidup bersatu,

Saat patungan malah menghilang.

137. Ada gajah belajar menari,

Menari pelan di atas rumput,

Katanya ingin hidup berseri,

Melihat kerja langsung mengeluh cepat.

138. Pergi ke toko membeli kain,

Kain batik berwarna cokelat,

Katanya ingin hidup disiplin,

Bangun siang jadi kebiasaan kuat.

139. Membeli bakso di pinggir kali,

Bakso hangat diberi sambal,

Katanya ingin hidup berani,

Lihat kecoa langsung kabur total.

140. Ada tikus belajar berenang,

Berenang pelan di kolam ikan,

Katanya ingin hidup tenang,

Sinyal hilang langsung kebingungan.

141. Pergi ke pasar membeli pepes,

Pepes ikan dibungkus daun,

Katanya ingin hidup sukses,

Kerja sedikit sudah mengeluh, kawan.

142. Membeli tahu di warung baru,

Tahu goreng dimakan hangat,

Katanya ingin hidup menentu,

Tapi rencana selalu berubah cepat.

143. Ada ayam belajar berkokok,

Berkokok keras di pagi hari,

Katanya ingin hidup fokus,

Godaan sedikit langsung menyerah diri.

144. Pergi ke kebun memetik jambu,

Jambu merah dibawa pulang,

Katanya ingin hidup berilmu,

Buku tebal malah jadi pajangan.

145. Membeli es teh di hari panas,

Es teh manis diminum perlahan,

Katanya ingin hidup cerdas,

Tapi PR selalu dikerjakan belakangan.

146. Ada kelinci belajar berjalan,

Berjalan cepat menuju taman,

Katanya ingin hidup nyaman,

Kerja sedikit sudah berhenti, kawan.

147. Pergi ke pantai membawa tikar,

Tikar digelar di atas pasir,

Katanya ingin hidup pintar,

Menjawab salam saja masih berpikir.

148. Membeli keripik rasa pedas,

Keripik pedas dimakan bersama,

Katanya ingin hidup cerdas,

Tapi lupa jadwal jadi masalah utama.

149. Ada kucing belajar menulis,

Menulis nama di atas kertas,

Katanya ingin hidup rajin,

Tidur siang jadi kebiasaan paling kuat.

150. Pergi ke pasar membeli terong,

Terong ungu dibawa pulang,

Katanya ingin hidup tertib,

Barang sendiri sering tertinggal, kawan.

151. Membeli soto di pagi hari,

Soto hangat diberi jeruk,

Katanya ingin hidup berani,

Lihat tikus langsung sembunyi, kawan.

152. Ada bebek belajar menjahit,

Menjahit kain berwarna biru,

Katanya ingin hidup rapi,

Kamar sendiri berantakan selalu.

153. Pergi ke kota membeli kue,

Kue manis berwarna merah,

Katanya ingin hidup guru,

Mengajari diri sendiri masih menyerah.

154. Membeli sate di malam hari,

Sate hangat diberi kecap,

Katanya ingin hidup pintar,

Buku dibuka malah tertidur lelap.

155. Pergi ke pasar membeli pepaya,

Pulangnya singgah membeli ketan,

Hidup jangan terlalu banyak gaya,

Yang penting bahagia dan banyak tertawa, kawan.

Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!