Updating your session…

Cerpen aku dan dia

by hastag mantan

Volume 1

Jendela Kamar Tujuh

4 min read•Published Oct 6, 2026

Jendela Kamar Tujuh


Bilal pertama kali melihat gadis itu dari balik tirai putih yang membatasi tempat tidurnya dengan tempat tidur sebelah. Kamar Tujuh di lantai tiga Rumah Sakit Harapan Bunda selalu terasa sunyi, hanya diisi oleh bunyi mesin infus yang menetes teratur dan deru AC yang monoton. Ia dirawat karena kecelakaan motor yang membuat kakinya patah dalam tiga tempat, sementara gadis di sebelahnya, yang kemudian ia tahu bernama Wulan, sedang menjalani rangkaian kemoterapi untuk leukemia yang dideritanya.


"Kamu yang baru masuk kemarin malam, ya?" suara Wulan tiba-tiba terdengar dari balik tirai, membuat Bilal sedikit terkejut.


"Iya," jawab Bilal singkat, masih canggung.


"Kecelakaan motor?"


"Kok tahu?"


Wulan tertawa kecil. "Perawat yang cerita waktu ganti infus aku tadi pagi. Katanya anak muda, ugal-ugalan naik motor, untung nggak kenapa-napa selain kaki patah."


Bilal mendengus, setengah kesal setengah geli. "Bukan ugal-ugalan, cuma nggak lihat jalan berlubang."


Sejak percakapan singkat itu, hari-hari di Kamar Tujuh menjadi tidak lagi membosankan seperti yang Bilal bayangkan. Setiap pagi, mereka saling menyapa dari balik tirai, bertukar cerita tentang hal-hal sepele—makanan rumah sakit yang hambar, perawat yang judes, hingga acara televisi yang sama-sama mereka tonton untuk membunuh waktu.


Satu-satunya jendela di kamar itu berada tepat di antara dua tempat tidur mereka, menghadap ke taman kecil rumah sakit yang ditumbuhi pohon kamboja. Setiap sore, ketika matahari mulai condong ke barat, cahaya jingga akan masuk melalui jendela itu, menerangi seisi ruangan dengan warna hangat yang menenangkan.


"Aku suka banget sama jendela ini," kata Wulan suatu sore, suaranya terdengar lemah namun penuh kekaguman. "Setiap kali aku ngerasa capek banget sama semua ini—kemo, obat, jarum suntik—aku cuma perlu lihat jendela ini, lihat pohon kamboja itu, terus rasanya kayak masih ada harapan."


Bilal yang kebetulan bisa duduk di kursi roda hari itu, mendorong dirinya mendekat ke jendela, mencoba melihat apa yang begitu istimewa dari pemandangan sederhana itu. Ia melihat gadis kecil bermain lompat tali di halaman, seorang nenek yang sedang menyirami bunga, dan beberapa burung pipit yang hinggap di dahan pohon kamboja.


"Ini emang pemandangan yang bagus," akunya pelan.


Sejak hari itu, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama di dekat jendela, Wulan dengan selang infus yang mengikutinya, Bilal dengan kursi roda yang masih ia pelajari cara mengendalikannya. Mereka bercerita tentang mimpi-mimpi mereka—Wulan yang ingin menjadi guru taman kanak-kanak karena suka sekali dengan anak-anak, Bilal yang bercita-cita membuka bengkel motor sendiri setelah lulus kuliah teknik.


"Kamu nggak takut sama penyakit kamu?" tanya Bilal suatu hari, nadanya hati-hati.


Wulan terdiam sejenak, menatap jendela dengan tatapan kosong. "Takut sih pasti, tapi aku udah capek takut terus-terusan. Mendingan aku nikmatin aja waktu yang masih ada. Kayak sekarang ini, duduk di sini, ngobrol sama kamu, lihat burung-burung itu. Ini juga bagian dari hidup, kan?"


Bilal tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk, merasakan sesuatu yang hangat sekaligus menyesakkan di dadanya.


Minggu-minggu berlalu. Kondisi kaki Bilal mulai membaik, dokter mengatakan ia bisa segera pulang dalam beberapa hari. Namun, kondisi Wulan justru semakin menurun. Rambutnya yang dulu panjang kini nyaris habis karena efek kemoterapi, tubuhnya semakin kurus, dan ia lebih sering tertidur daripada terjaga.


Pada malam terakhir Bilal di Kamar Tujuh, ia terbangun karena mendengar isak tangis pelan dari balik tirai. Ia menyibak tirai itu perlahan, mendapati Wulan sedang menangis sendirian, matanya menatap jendela yang kini gelap karena malam.


"Wulan, kamu kenapa?"


"Aku takut, Bil," bisiknya lirih. "Dokter bilang... sel darah putihku makin jelek. Aku takut nggak sempat lihat musim kamboja berbunga lagi tahun depan."


Bilal menggenggam tangan Wulan yang dingin, tak tahu kata-kata apa yang pantas diucapkan. "Kamu pasti kuat, Wulan. Kamu udah kuat sejauh ini."


Wulan tersenyum lemah, menyeka air matanya sendiri. "Makasih udah jadi teman sekamar yang baik, Bil. Jarang-jarang ada orang yang mau dengerin cerita orang sakit kayak aku."


Keesokan paginya, Bilal resmi diperbolehkan pulang. Sebelum pergi, ia menghampiri tempat tidur Wulan untuk berpamitan.


"Aku bakal sering-sering jenguk kamu, janji," katanya sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.


Wulan mengangguk, menggenggam erat tangan Bilal untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi.


Tiga minggu kemudian, Bilal kembali ke rumah sakit itu, membawa buku cerita anak-anak kesukaan yang ia tahu akan disukai Wulan. Namun ketika ia sampai di Kamar Tujuh, tempat tidur Wulan sudah kosong, seprainya diganti baru, tanpa jejak apa pun yang menunjukkan bahwa seseorang pernah tidur di sana.


Seorang perawat yang mengenalinya menghampiri dengan wajah sendu, menyampaikan kabar yang membuat dunia Bilal seolah berhenti berputar sejenak. Wulan telah pergi dua hari yang lalu, tenang, di sore hari, tepat ketika cahaya jingga matahari memasuki jendela kamar itu untuk terakhir kalinya baginya.


Bilal berdiri lama di depan jendela itu, menatap pohon kamboja yang masih berdiri kokoh di taman, bunganya mulai bermekaran menyambut musim baru. Ia tersenyum di tengah air matanya, membayangkan Wulan yang akhirnya bisa melihat musim kamboja berbunga, meski bukan dari balik jendela Kamar Tujuh, melainkan dari tempat yang jauh lebih tenang dan damai.


Sejak hari itu, setiap kali musim kamboja berbunga, Bilal selalu menyempatkan diri datang ke taman rumah sakit itu, duduk sebentar di bawah pohon kamboja, mengenang sahabat singkatnya yang mengajarkannya satu hal paling berharga: bahwa hidup bukan soal seberapa lama kita bertahan, melainkan seberapa dalam kita mampu menikmati setiap detik yang kita miliki.


Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!