Surat di Antara Halaman
Pak Hasan sudah berjualan buku bekas di emperan Jalan Kebon Jati selama hampir dua puluh tahun. Lapaknya yang hanya beralaskan terpal biru itu selalu dipenuhi tumpukan buku dari berbagai genre—novel lawas, buku pelajaran usang, hingga majalah-majalah yang sudah menguning dimakan usia. Setiap pagi, ia akan menata buku-bukunya dengan rapi, berharap ada pembeli yang datang mencari harta karun di antara tumpukan kertas yang terlihat tak berharga bagi kebanyakan orang.
Suatu sore, seorang perempuan muda bernama Citra datang ke lapaknya, mencari buku-buku sastra klasik untuk koleksi pribadinya. Ia mengobrak-abrik tumpukan buku dengan hati-hati, sesekali bertanya harga kepada Pak Hasan yang duduk santai di kursi kayu kecil sambil menghisap rokok kreteknya.
"Pak, buku ini berapaan?" tanya Citra sambil mengangkat sebuah novel lawas berjudul "Senja di Pelabuhan" karya seorang penulis yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan pecinta sastra Indonesia.
"Dua puluh ribu aja, Neng," jawab Pak Hasan ramah.
Citra membuka halaman pertama buku itu, memeriksa kondisi kertasnya yang sudah menguning namun masih utuh. Tiba-tiba, sebuah amplop tipis terselip di antara halaman tengah buku itu jatuh ke tanah. Ia segera mengambilnya, mendapati amplop itu sudah lusuh dimakan waktu, namun tulisan tangan di sampulnya masih terbaca jelas: "Untuk Wening, dari seseorang yang selalu menunggu di ujung senja."
"Pak, ini ada surat di dalam bukunya," kata Citra sambil menyerahkan amplop itu kepada Pak Hasan.
Pak Hasan menerima amplop itu dengan tangan gemetar, matanya menatap tulisan di sampulnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara keterkejutan dan kerinduan yang mendalam.
"Ya Allah," gumamnya pelan, suaranya terdengar bergetar.
"Bapak kenapa?" tanya Citra khawatir, memperhatikan perubahan raut wajah pedagang buku tua itu.
Pak Hasan terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Ini tulisan tangan saya sendiri, Neng. Surat ini... surat ini saya tulis untuk kekasih saya, puluhan tahun yang lalu."
Citra duduk di bangku kecil di samping lapak, penasaran dengan cerita yang tersimpan di balik surat tersebut. Pak Hasan membuka amplop itu perlahan, tangannya masih gemetar menahan haru, lalu membaca isi surat yang ditulisnya sendiri di masa muda—sebuah surat cinta yang penuh janji dan harapan, ditujukan kepada seorang gadis bernama Wening yang dulu adalah tetangga sekaligus teman masa kecilnya.
"Dulu, saya sama Wening deket banget, Neng. Kami bahkan udah janjian mau nikah setelah saya lulus kuliah. Tapi orang tua Wening nggak setuju, katanya saya nggak sepadan karena cuma anak pedagang buku keliling," cerita Pak Hasan, matanya menerawang jauh ke masa lalu.
"Terus, Bapak masih sempet ketemu sama Wening?"
Pak Hasan menggeleng pelan. "Saya sempet nitipin buku ini ke tetangga biar dikasihin ke Wening, lengkap sama surat ini di dalemnya. Tapi nggak lama setelah itu, keluarga Wening pindah mendadak ke luar kota, dan saya nggak pernah denger kabar tentang dia lagi sampai sekarang."
Citra terdiam, merasa iba mendengar kisah cinta yang terputus begitu saja karena keadaan. "Berarti selama ini buku itu nggak pernah sampai ke tangan Wening?"
"Sepertinya begitu, Neng. Buku ini pasti muter-muter dari satu tangan ke tangan lain, sampai akhirnya nyasar ke lapak saya sendiri tanpa saya sadari."
Takdir yang begitu aneh membuat Citra tergerak untuk membantu Pak Hasan mencari keberadaan Wening yang sudah terpisah puluhan tahun. Dengan bantuan media sosial, Citra mulai mencari jejak digital seseorang bernama Wening yang pernah tinggal di kampung yang sama dengan Pak Hasan di masa lalu.
Setelah beberapa minggu pencarian yang melelahkan, akhirnya ditemukan sebuah akun media sosial atas nama Wening Astuti, seorang nenek berusia tujuh puluh tahun yang kini tinggal di kota kecil di Jawa Tengah, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta. Citra segera menghubungi nomor yang tertera, menjelaskan situasi yang terjadi dengan hati-hati agar tidak mengejutkan.
Dua minggu kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan lapak buku Pak Hasan. Seorang nenek turun perlahan dibantu oleh cucunya, wajahnya yang sudah keriput menyimpan raut yang tak kalah terkejut dengan Pak Hasan ketika mereka akhirnya bertatap muka setelah puluhan tahun berpisah.
"Hasan?" suara Wening bergetar, matanya berkaca-kaca menahan haru yang begitu dalam.
"Wening," balas Pak Hasan, suaranya tercekat, tak kuasa menahan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya yang sudah keriput dimakan usia.
Mereka berdua berdiri berhadapan, saling menatap dalam diam, seolah waktu yang telah berlalu puluhan tahun tiba-tiba lenyap begitu saja, menyisakan dua orang tua yang kembali merasakan getaran yang sama seperti ketika mereka masih muda dan penuh harapan.
Pak Hasan menyerahkan surat yang sudah lusuh itu kepada Wening, yang menerimanya dengan tangan gemetar. Wening membuka surat itu perlahan, membaca setiap kata yang tertulis di sana dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.
"Saya nggak pernah tau soal surat ini, Hasan. Keluarga saya pindah mendadak waktu itu, saya kira kamu udah lupa sama saya."
"Saya nggak pernah lupa, Wening. Surat ini saya tulis sepenuh hati, cuma takdir aja yang bikin kita harus terpisah selama ini."
Mereka berdua tertawa kecil di tengah air mata, mengenang masa muda mereka yang penuh warna, berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing selama puluhan tahun berpisah. Ternyata, baik Pak Hasan maupun Wening, sama-sama tidak pernah menikah, masing-masing larut dalam kesibukan hidup dan kenangan yang tak pernah benar-benar bisa mereka lupakan.
Sejak hari itu, Wening sering mengunjungi lapak buku Pak Hasan, duduk berdua di kursi kayu kecil sambil mengenang masa lalu yang sempat terputus, kini tersambung kembali berkat sehelai surat yang tersembunyi di antara halaman buku bekas yang hampir terlupakan.
Citra yang menjadi saksi sekaligus perantara pertemuan mengharukan itu, tersenyum bahagia setiap kali mengunjungi lapak buku tersebut. Baginya, pengalaman ini mengajarkan satu hal berharga: bahwa terkadang, benda-benda usang yang kita anggap tak berharga justru menyimpan kisah paling berharga yang pernah ada, menunggu waktu yang tepat untuk kembali ditemukan.
Comments
No comments yet. Be the first to share your thoughts!