Updating your session…

Cerpen aku dan dia

by hastag mantan

Volume 1

Layangan Terakhir Kakek Darmo

4 min read•Published Oct 6, 2026

Layangan Terakhir Kakek Darmo


Dimas duduk murung di beranda rumah kakeknya, memandangi langit sore yang dipenuhi layangan warna-warni milik anak-anak lain di kampung. Minggu depan adalah Festival Layangan Tahunan Kampung Rejomulyo, acara yang selalu dinanti-nantikan seluruh warga, terutama anak-anak yang berlomba membuat layangan terbaik untuk diterbangkan di lapangan desa. Namun Dimas tidak punya layangan sendiri, dan uang jajannya yang ia tabung selama sebulan ternyata tidak cukup untuk membeli layangan bagus di toko mainan.


"Kenapa, Nak? Kok mukanya ditekuk gitu?" tanya Kakek Darmo yang baru saja selesai menyapu halaman, duduk di sebelah cucunya dengan napas yang masih sedikit terengah.


"Dimas nggak punya layangan buat festival minggu depan, Kek. Uang tabungan Dimas kurang buat beli yang bagus," jawab Dimas lesu, matanya masih menerawang ke langit yang dipenuhi layangan anak-anak lain.


Kakek Darmo tersenyum, matanya yang sudah mulai rabun berbinar penuh kenangan. "Kakek dulu waktu seumuran kamu, nggak pernah beli layangan, Nak. Kakek selalu bikin sendiri."


"Kakek bisa bikin layangan?" tanya Dimas, matanya langsung berbinar penasaran.


"Dulu, Kakek ini juara layangan se-kampung, lho. Bahkan Kakek pernah menang lomba layangan tingkat kecamatan waktu masih muda."


Dimas langsung bersemangat, menarik-narik lengan baju kakeknya. "Kek, ajarin Dimas bikin layangan dong! Biar Dimas bisa ikut festival minggu depan!"


Kakek Darmo tertawa kecil melihat semangat cucunya yang menggebu-gebu. "Baiklah, tapi kita harus siapin bahan-bahannya dulu. Besok pagi kita ke kebun bambu belakang rumah, cari bilah bambu yang pas."


Keesokan paginya, mereka berdua pergi ke kebun bambu yang terletak tak jauh dari rumah. Kakek Darmo dengan cekatan memilih batang bambu yang sudah tua namun masih lentur, menjelaskan kepada Dimas bagaimana cara membedakan bambu yang bagus untuk kerangka layangan dengan yang terlalu rapuh atau terlalu kaku.


"Bambu yang bagus itu yang nggak terlalu muda, nggak terlalu tua juga, Nak. Harus pas, biar pas diraut jadi lentur tapi tetep kuat," jelas Kakek Darmo sambil menunjukkan cara meraut bambu dengan pisau kecil yang sudah ia asah tajam sebelumnya.


Dimas memperhatikan dengan seksama, sesekali mencoba meraut bambu sendiri meski hasilnya masih jauh dari rapi. Kakek Darmo dengan sabar membimbingnya, tangan keriputnya yang sudah berpengalaman puluhan tahun menuntun tangan kecil cucunya yang masih canggung memegang pisau.


Proses pembuatan layangan itu berlangsung selama beberapa hari. Setelah kerangka bambu selesai dibentuk, mereka melanjutkan dengan memilih kertas minyak warna-warni yang dibeli dari toko kelontong kampung, lalu merekatkannya dengan lem yang terbuat dari tepung kanji racikan khas Kakek Darmo sendiri.


"Kek, kenapa nggak pakai lem beli aja? Kan lebih gampang," tanya Dimas suatu sore ketika mereka sedang merebus adonan lem kanji di dapur.


"Lem kanji ini lebih kuat dan tahan lama, Nak. Lagian, bikin sendiri itu ada kepuasan tersendiri. Kamu nanti bakal lebih bangga sama layangan ini karena tau persis gimana prosesnya dari awal sampai akhir."


Dimas mengangguk mengerti, meski belum sepenuhnya paham maksud kakeknya. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai merasakan sendiri kebanggaan yang dimaksud kakeknya setiap kali melihat layangan buatan mereka berdua semakin terbentuk sempurna.


Malam sebelum festival, mereka berdua duduk di beranda rumah, menyelesaikan sentuhan terakhir pada layangan tersebut—seekor burung garuda besar dengan warna merah dan kuning yang mencolok, lengkap dengan ekor panjang yang akan membuatnya terlihat gagah saat diterbangkan.


"Kek, layangannya keren banget! Makasih ya, Kek, udah mau ngajarin Dimas," ucap Dimas sambil memeluk kakeknya erat.


Kakek Darmo membalas pelukan itu dengan hangat, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Kakek yang harusnya makasih, Nak. Udah lama banget Kakek nggak ngerasain bikin layangan kayak gini. Rasanya kayak balik lagi ke masa muda Kakek dulu."


Hari festival pun tiba. Lapangan desa dipenuhi warga dari berbagai penjuru kampung, anak-anak berlarian riang membawa layangan masing-masing, bersiap untuk diterbangkan setinggi mungkin demi memenangkan perlombaan. Dimas berdiri gugup di tengah lapangan, memegang erat layangan garuda buatannya bersama Kakek Darmo.


"Kek, Dimas gugup," bisiknya pelan kepada kakeknya yang berdiri di sampingnya, siap membantu menerbangkan layangan untuk pertama kalinya.


"Nggak usah gugup, Nak. Yang penting kamu udah berusaha sebaik mungkin. Menang kalah itu urusan belakangan," jawab Kakek Darmo menenangkan.


Dengan bantuan sedikit arahan dari kakeknya, Dimas mulai berlari kecil melawan arah angin, melepaskan layangan garuda itu perlahan ke udara. Awalnya layangan itu sempat oleng, membuat jantung Dimas berdebar kencang, namun setelah beberapa kali tarikan benang yang tepat sesuai ajaran kakeknya, layangan itu akhirnya terbang stabil, meliuk-liuk gagah di antara layangan-layangan lain yang memenuhi langit sore itu.


Sorakan riuh terdengar dari penonton yang mengagumi keindahan layangan garuda buatan Dimas dan kakeknya, warnanya yang mencolok membuatnya terlihat begitu mencolok dibandingkan layangan lain yang sebagian besar dibeli dari toko dengan desain seragam.


Meski pada akhirnya layangan Dimas tidak berhasil menjadi juara pertama dalam festival tersebut, ia tetap merasa menjadi pemenang sesungguhnya. Bukan karena trofi atau hadiah, melainkan karena kenangan berharga yang ia dapatkan bersama kakeknya selama proses pembuatan layangan tersebut—kenangan yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar kemenangan dalam sebuah perlombaan.


Sejak festival itu, setiap sore, Dimas dan Kakek Darmo selalu menyempatkan diri menerbangkan layangan garuda mereka di lapangan dekat rumah, menikmati waktu kebersamaan yang semakin erat di antara mereka berdua. Dan ketika suatu hari Kakek Darmo akhirnya berpulang karena usia yang sudah senja, layangan garuda itu tetap tersimpan rapi di kamar Dimas, menjadi pengingat abadi akan kasih sayang dan kebijaksanaan yang telah diwariskan kakeknya kepadanya—sebuah warisan yang jauh lebih berharga dibandingkan benda apa pun yang bisa dibeli dengan uang.


Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!