Updating your session…

Cerpen aku dan dia

by hastag mantan

Volume 1

Banjir di Desa Sukamaju

8 min read•Published Oct 6, 2026

Banjir di Desa Sukamaju


Hujan telah turun tanpa henti selama tiga hari berturut-turut ketika dr. Maya akhirnya menyadari bahwa Desa Sukamaju sedang menuju bencana besar. Sebagai satu-satunya dokter yang bertugas di puskesmas pembantu desa terpencil itu, ia sudah terbiasa menghadapi berbagai situasi darurat, namun firasatnya kali ini terasa berbeda—lebih berat, lebih mencekam.


Sungai Ciwaru yang membelah desa itu mulai meluap sejak sore tadi, airnya yang keruh perlahan merayap naik, menggenangi sawah-sawah di pinggiran desa. Maya berdiri di teras puskesmas, menatap langit yang masih menumpahkan hujan deras, pikirannya berkecamuk memikirkan nasib warganya, terutama mereka yang tinggal di bantaran sungai.


"Bu Dokter, gimana nih? Air makin tinggi," kata Pak Ujang, kepala desa yang tiba-tiba datang dengan pakaian basah kuyup, napasnya terengah setelah berlari dari balai desa.


"Pak Ujang harus segera umumkan evakuasi. Kalau airnya terus naik secepat ini, bisa-bisa tengah malam nanti rumah-rumah di bantaran sungai sudah terendam," jawab Maya tegas, nalurinya sebagai tenaga medis langsung beralih ke mode siaga penuh.


Pak Ujang mengangguk, segera berlari kembali ke balai desa untuk mengumumkan evakuasi melalui pengeras suara yang biasa digunakan untuk pengumuman salat. Maya sendiri bergegas menyiapkan puskesmas, memeriksa persediaan obat-obatan, perban, dan peralatan medis darurat yang mungkin dibutuhkan dalam beberapa jam ke depan.


Perawat satu-satunya di puskesmas itu, Suster Rini, datang tergopoh-gopoh membawa beberapa kardus berisi obat tambahan dari gudang penyimpanan. "Dok, warga udah mulai pada ngungsi ke balai desa. Tapi ada beberapa keluarga yang masih keukeuh nggak mau pindah, katanya sayang sama harta benda mereka."


Maya mendesah berat. Situasi seperti ini selalu menjadi dilema tersendiri—menyelamatkan nyawa harus menjadi prioritas, namun sulit memaksa orang meninggalkan segala yang mereka miliki begitu saja. "Kita harus turun langsung, Sus. Nggak bisa cuma nunggu di sini aja."


Mereka berdua bergegas keluar menuju bantaran sungai, menerjang hujan deras dengan jas hujan seadanya. Air sudah mencapai betis orang dewasa di beberapa titik jalan, membuat perjalanan mereka semakin sulit. Di sepanjang jalan, mereka melihat warga yang panik mengangkut barang-barang berharga mereka, beberapa anak kecil menangis ketakutan sambil digendong orang tua mereka menuju tempat yang lebih tinggi.


Sesampainya di salah satu rumah di bantaran sungai, Maya mendapati keluarga Pak Darman—seorang petani tua bersama istri dan dua cucunya—masih bertahan di dalam rumah panggung mereka yang airnya sudah mencapai lantai.


"Pak Darman! Bapak harus segera ngungsi! Air makin tinggi!" teriak Maya dari luar, berusaha mengalahkan suara deru hujan dan gemuruh air yang semakin deras.


"Saya nggak bisa ninggalin rumah ini, Dok. Ini satu-satunya harta yang saya punya," jawab Pak Darman dari dalam, suaranya terdengar putus asa.


Maya tidak punya waktu untuk berdebat panjang. Ia segera masuk ke dalam rumah, mendapati dua cucu Pak Darman—seorang balita dan seorang anak berusia tujuh tahun—duduk ketakutan di atas dipan yang mulai terendam air.


"Pak, saya ngerti Bapak sayang sama rumah ini. Tapi coba Bapak pikirin cucu-cucu Bapak. Mereka butuh Bapak hidup, bukan rumah ini," kata Maya dengan nada setegas mungkin namun tetap penuh empati.


Kata-kata itu seolah menyadarkan Pak Darman dari keterpakuannya. Dengan berat hati, ia akhirnya setuju untuk mengungsi bersama keluarganya. Maya dan Suster Rini membantu menggendong kedua cucu Pak Darman, sementara istrinya membawa beberapa barang penting dalam tas kecil.


Perjalanan menuju balai desa yang menjadi posko pengungsian terasa begitu panjang dan melelahkan. Air yang semula setinggi betis kini sudah mencapai pinggang di beberapa titik, arusnya yang deras membuat setiap langkah terasa berat dan berbahaya. Beberapa kali Maya harus menahan tubuhnya agar tidak terseret arus, sambil tetap menggendong balita yang menangis ketakutan di pelukannya.


Setibanya di balai desa, suasana sudah dipenuhi warga yang mengungsi, anak-anak menangis, orang tua yang cemas memikirkan nasib ternak dan hasil panen mereka yang ditinggalkan. Maya segera menyerahkan kedua cucu Pak Darman kepada ibu mereka yang sudah menunggu dengan cemas di posko, lalu kembali fokus memeriksa kondisi kesehatan para pengungsi yang mulai berdatangan.


Malam itu menjadi malam terpanjang dalam karier Maya sebagai dokter desa. Ia bolak-balik memeriksa pengungsi yang mengalami hipotermia ringan akibat terendam air hujan terlalu lama, menangani beberapa luka kecil akibat terpeleset saat evakuasi, serta memberikan pertolongan pertama kepada seorang ibu hamil yang mulai menunjukkan tanda-tanda kontraksi dini akibat stres dan kelelahan.


"Dok, Bu Painah kontraksinya makin sering," lapor Suster Rini dengan wajah panik, "kayaknya mau lahiran malam ini juga."


Maya segera bergegas memeriksa kondisi Bu Painah yang terbaring di salah satu sudut balai desa, wajahnya pucat menahan sakit. "Bu Painah, tarik napas pelan-pelan ya, saya akan bantu persalinannya di sini."


Situasi menjadi semakin mencekam ketika listrik tiba-tiba padam total akibat gangguan dari banjir yang semakin parah. Suasana balai desa yang sudah ramai dengan pengungsi kini diselimuti kegelapan, hanya diterangi beberapa lilin dan senter yang dibawa warga. Maya harus menangani persalinan darurat itu hanya dengan bantuan cahaya senter yang dipegang oleh Pak Ujang, tangannya bergerak cekatan meski keringat dingin membasahi dahinya karena tegang.


Setelah perjuangan yang melelahkan selama hampir dua jam, tangisan bayi akhirnya memecah kesunyian balai desa yang mencekam, disambut dengan sorak syukur dari warga yang menyaksikan proses persalinan darurat tersebut. Bu Painah menangis haru sambil mendekap bayi perempuannya yang baru lahir, mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Maya yang sudah bekerja keras menyelamatkan nyawa anak dan ibunya di tengah bencana.


"Terima kasih banyak, Dok. Nggak kebayang kalau Dokter nggak ada di sini malam ini," ucap suami Bu Painah dengan mata berkaca-kaca.


Maya tersenyum lelah, menyeka keringat di dahinya. "Ini tugas saya, Pak. Yang penting ibu dan bayinya sehat."


Namun ujian malam itu belum berakhir. Tak lama setelah persalinan tersebut, Maya mendapat kabar bahwa ada beberapa warga yang masih terjebak di rumah mereka karena air sudah terlalu tinggi untuk dilewati dengan berjalan kaki biasa. Tim relawan desa yang dibantu beberapa warga segera menyiapkan perahu karet seadanya untuk melakukan evakuasi lanjutan.


Maya ikut serta dalam tim evakuasi tersebut, meski Pak Ujang sempat melarangnya karena khawatir dengan keselamatannya sendiri. "Bu Dokter udah kerja keras semalaman, biar yang lain aja yang evakuasi sisanya."


"Nggak bisa, Pak. Kalau ada yang kenapa-kenapa pas evakuasi, saya harus ada di sana buat tangani langsung," jawab Maya dengan tegas, tak mau mengalah meski tubuhnya sudah terasa remuk karena kelelahan.


Mereka menyusuri jalanan desa yang sudah berubah menjadi sungai dadakan, perahu karet kecil itu meliuk-liuk melawan arus yang cukup deras. Di salah satu rumah, mereka menemukan seorang kakek tua yang keras kepala menolak dievakuasi sejak awal, kini terjebak di atap rumahnya sendiri karena air sudah mencapai hampir seluruh bagian rumah.


"Kek, ayo ikut kita! Air makin tinggi, bahaya kalau Kakek tetap di sini!" teriak Maya dari atas perahu karet yang mendekat perlahan ke arah rumah tersebut.


Kakek itu, yang ternyata bernama Mbah Karto, awalnya menolak dengan keras, namun setelah melihat kesungguhan tim relawan dan mendengar suara gemuruh air yang semakin menakutkan, ia akhirnya menyerah dan bersedia dievakuasi. Proses evakuasi itu tidak mudah mengingat usia Mbah Karto yang sudah lanjut dan kondisi fisiknya yang lemah, namun dengan kerja sama tim yang solid, akhirnya mereka berhasil membawanya dengan selamat ke perahu karet.


Menjelang subuh, hujan akhirnya mulai mereda, meski air masih menggenangi sebagian besar wilayah desa. Maya duduk kelelahan di teras balai desa, tubuhnya basah kuyup dan menggigil kedinginan, namun hatinya dipenuhi rasa syukur karena seluruh warga berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa ada korban jiwa.


Pak Ujang menghampirinya, menyerahkan segelas teh hangat yang baru saja diseduh oleh salah satu warga. "Bu Dokter istirahat dulu, ya. Semalaman kerja keras banget buat kita semua."


Maya menerima teh itu dengan tangan gemetar, menyeruputnya perlahan sambil menatap langit yang mulai menunjukkan semburat jingga fajar. "Alhamdulillah, Pak. Yang penting semua warga selamat."


Pagi harinya, ketika matahari mulai menyinari desa yang basah kuyup akibat banjir semalam, warga mulai berdatangan ke puskesmas pembantu untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka pasca-bencana. Maya, meski masih menahan kantuk dan kelelahan luar biasa, tetap melayani setiap warga dengan senyum tulus, memeriksa mereka satu per satu dengan penuh kesabaran.


Di tengah kesibukannya, Pak Darman datang membawa kedua cucunya, wajahnya yang tadi malam dipenuhi keputusasaan kini berubah menjadi penuh rasa syukur. "Dok, saya mau ngucapin terima kasih. Kalau Dokter nggak maksa saya buat ngungsi semalam, mungkin saya dan cucu-cucu saya udah nggak ada."


Maya tersenyum hangat, mengelus kepala kedua cucu Pak Darman yang kini terlihat jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. "Yang penting Bapak sama cucu-cucu Bapak sekarang selamat, Pak. Itu udah lebih dari cukup buat saya."


Beberapa hari kemudian, ketika air sudah sepenuhnya surut dan warga mulai kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa lumpur akibat banjir, kisah tentang perjuangan dr. Maya malam itu menyebar ke seluruh pelosok desa, bahkan hingga ke desa-desa tetangga. Banyak warga yang datang khusus ke puskesmas hanya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung, membawa hasil kebun mereka sebagai tanda terima kasih sederhana.


Bupati setempat bahkan sempat berkunjung untuk memberikan penghargaan atas dedikasi Maya dalam menangani bencana tersebut, namun Maya dengan rendah hati menolak segala bentuk pujian berlebihan.


"Saya cuma menjalankan tugas saya sebagai dokter, Pak. Yang lebih penting, semoga ke depannya desa ini bisa lebih siap menghadapi bencana serupa, biar nggak ada lagi korban jiwa yang jatuh," ujarnya rendah hati di hadapan bupati dan para pejabat desa yang hadir.


Malam itu, ketika Maya akhirnya bisa beristirahat sejenak di rumah dinasnya yang sederhana, ia menatap keluar jendela, melihat desa yang perlahan kembali pulih dari bencana yang baru saja melanda. Ia tersenyum lega, menyadari bahwa menjadi dokter di desa terpencil seperti ini memang penuh tantangan, namun momen-momen seperti inilah yang membuatnya yakin bahwa pilihan hidupnya untuk mengabdi di tempat yang jauh dari fasilitas kota besar, bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang memberikan makna sesungguhnya dalam hidupnya sebagai seorang tenaga medis.


Desa Sukamaju perlahan bangkit kembali, lebih kuat dan lebih siap menghadapi tantangan alam di masa depan, berkat kerja sama seluruh warganya dan dedikasi seorang dokter muda yang rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi menyelamatkan nyawa orang lain di tengah bencana yang mencekam.


Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!