Updating your session…

Jam yang Berhenti di Pukul Tujuh

by hastag mantan

Volume 1

Surat Terakhir dari Mercusuar

4 min read•Published Oct 8, 2026

Surat Terakhir dari Mercusuar


Hujan belum juga reda ketika Sarman menaiki anak tangga besi mercusuar untuk yang terakhir kali. Suaranya berdentang pelan setiap kali sepatu bot karetnya menyentuh pijakan, seirama dengan detak jantungnya yang entah kenapa terasa lebih berat dari biasanya. Tiga puluh dua tahun ia bekerja di tempat ini, dan besok pagi, mercusuar itu akan dimatikan selamanya, digantikan oleh sistem navigasi satelit yang tak pernah tidur dan tak pernah lelah seperti dirinya.


Di puncak menara, lampu besar masih berputar dengan setia, menyapu cahaya kuning keemasan ke lautan yang gelap. Sarman duduk di kursi kayu tua dekat jendela, kursi yang sudah ia duduki ribuan malam, menatap kapal-kapal nelayan yang pulang membawa hasil tangkapan mereka.


Istrinya, Darmi, telah lama tiada. Anak-anaknya sudah punya keluarga sendiri di kota, jarang pulang kecuali saat lebaran. Hanya mercusuar inilah yang setia menemaninya, menjadi saksi bisu atas segala suka dan duka yang pernah ia lalui.


Malam itu, ada yang berbeda. Di tengah derasnya hujan, radio komunikasi tua miliknya berdengung. Suara serak seorang nelayan muda terdengar panik.


"Pak Sarman! Pak Sarman, dengar tidak? Perahu kami mogok, kompas rusak kena air, kami tidak tahu arah pulang!"


Sarman segera bangkit. Jantungnya yang tadi berat kini berdegup kencang karena sebab yang berbeda. Ia menekan tombol mikrofon.


"Di sini Sarman. Sebutkan posisi kalian, berapa jauh dari garis pantai yang kalian lihat terakhir?"


"Kami... kami tidak yakin, Pak. Gelap sekali, hujan deras, kami cuma lihat kilatan cahaya jauh di depan, tapi itu hilang timbul."


Cahaya yang mereka lihat, Sarman tahu persis, adalah lampu mercusuarnya sendiri, yang kadang tertutup kabut hujan. Ia menatap keluar jendela, menghitung sudut dan arah angin dengan insting yang sudah mendarah daging selama puluhan tahun bertugas.


"Dengarkan baik-baik," katanya tenang. "Kalian sedang melihat lampu mercusuar Tanjung Kelayang. Putar haluan perahu dua puluh derajat ke kiri dari posisi cahaya itu. Di sana ada arus tenang yang akan membawa kalian ke muara sungai, lebih aman daripada memaksa lurus ke pelabuhan."


"Baik, Pak! Kami coba!"


Sarman tidak melepas mikrofon. Ia terus berbicara, menuntun mereka langkah demi langkah, kadang menenangkan ketika suara di seberang mulai gemetar ketakutan, kadang memberi instruksi tegas ketika ombak menghantam lebih keras. Di luar, hujan semakin deras, dan lampu mercusuar terus berputar, seakan ikut merasakan ketegangan yang sama.


Satu jam berlalu. Rasanya seperti satu abad. Lalu, suara di radio berubah menjadi sorakan gembira bercampur isak lega.


"Pak Sarman! Kami lihat dermaga! Kami selamat, Pak! Terima kasih, terima kasih banyak!"


Sarman menghela napas panjang, baru menyadari tangannya gemetar sejak tadi. Ia tersenyum sendirian di ruang kerjanya yang sempit, menatap lampu yang masih setia berputar di atas kepalanya.


"Sama-sama, Nak. Itu tugas saya."


Ia mematikan radio dan duduk kembali di kursi kayunya. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan gerimis tipis yang berkilauan diterpa cahaya lampu mercusuar. Sarman memandangi laut yang kini lebih tenang, memikirkan betapa banyak nyawa yang pernah ia tuntun pulang selama puluhan tahun ini, betapa banyak kisah yang tak pernah diketahui orang lain selain dirinya dan laut itu sendiri.


Besok, mercusuar ini akan dimatikan. Cahayanya akan digantikan oleh sinyal digital yang lebih akurat, lebih canggih, tak kenal lelah. Tapi malam ini, untuk yang terakhir kalinya, cahaya itu benar-benar menyelamatkan nyawa seseorang. Dan bagi Sarman, itu sudah cukup menjadi penutup yang pantas untuk tiga puluh dua tahun pengabdiannya.


Ia mengambil buku catatan tua yang selalu ia bawa, tempat ia mencatat setiap kapal yang lewat, setiap cuaca yang berubah, setiap kejadian kecil yang terjadi di menara ini. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menuliskan baris terakhir.


"Malam terakhir bertugas. Hujan deras, ombak tinggi. Satu perahu nelayan tersesat berhasil dituntun pulang dengan selamat. Rasanya seperti mercusuar ini ingin berpamitan dengan cara yang paling berarti: menyelamatkan satu nyawa lagi sebelum padam selamanya. Terima kasih, untuk semua malam yang telah kau terangi bersamaku."


Ia menutup buku itu perlahan, memeluknya sejenak seperti memeluk sahabat lama, lalu meletakkannya kembali di atas meja kayu yang sudah usang dimakan waktu dan kelembapan laut.


Ketika fajar mulai merekah, Sarman berdiri di depan jendela untuk terakhir kalinya, menyaksikan matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, memantul di permukaan air yang kini tenang sempurna. Lampu mercusuar masih menyala, meski kini kalah terang oleh cahaya pagi yang perlahan menguasai langit.


Tak lama kemudian, petugas dari kota datang membawa peralatan untuk mematikan sistem lama dan memasang sistem baru. Sarman menyambut mereka dengan senyum tenang, tanpa kesedihan yang berlebihan. Ia sudah mendapatkan penutup yang ia butuhkan—satu malam terakhir di mana cahayanya benar-benar berarti bagi seseorang.


Sebelum pergi meninggalkan menara untuk selamanya, ia menoleh sekali lagi ke arah lampu besar yang kini perlahan meredup, digantikan oleh kedipan kecil lampu LED otomatis yang baru.


"Selamat tinggal," bisiknya pelan, lebih kepada menara itu sendiri daripada kepada siapa pun yang mendengarnya. "Terima kasih sudah menjadi rumah keduaku."


Ia menuruni anak tangga besi itu untuk terakhir kalinya, langkahnya mantap meski hatinya penuh haru. Di bawah, laut tetap bergulung seperti biasa, acuh tak acuh terhadap pergantian zaman, tetapi bagi Sarman, laut itu akan selalu menyimpan satu kisah kecil tentang seorang penjaga mercusuar yang menyelamatkan nyawa seseorang di malam terakhir pengabdiannya—sebuah kisah yang mungkin tak akan pernah ditulis dalam buku sejarah mana pun, tapi akan selalu ia kenang sebagai pencapaian paling berharga dalam hidupnya.


Recommend this storyOpens in a new tab.

Sign in and read to recommend this story.

Enjoyed the chapter?

Let the author know your thoughts below!

Comments

Share your thoughts on this chapter…
Sign up to join the conversationPost Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!